Periksa Fakta

Hoaks & Fakta Terkait Arsenik, Vitamin C dan Udang

Oleh: Irma Garnesia - 12 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Keracunan dapat terjadi jika bahan makanan mengandung racun atau telah terpapar racun.
tirto.id - Baru-baru ini, informasi terkait arsenik kembali tersebar di grup WhatsApp. Informasi tersebut melibatkan kabar seorang gadis yang meninggal yang diduga penyebab kematiannya adalah keracunan arsenik.

Namun, informasi itu mengklaim bahwa arsenik yang ditemukan tidak dikonsumsi dengan sengaja, melainkan disebabkan oleh reaksi terhadap makanan.

Berikut informasi mengenai keracunan arsenik ini:

Seorang gadis di Taiwan meninggal secara mendadak, hasil autopsi adalah..... !
Harus lihat!
Di Taiwan, seorang gadis mendadak meninggal dengan ketujuh lubang mengeluarkan darah, dalam waktu semalam, langsung meninggal.
Melalui hasil autopsi sementara, dinyatakan penyebabnya adalah meninggal karena keracunan arsenik.
Arseniknya muncul darimana?
Seorang dosen dari fakultas kedokteran diminta datang untuk membantu investigasi.
Dosen mengamati benda2 yang diambil keluar dari lambung korban secara teliti, tidak sampai setengah jam, misteri kematian mendadak terbongkarkan.
Dosen menyatakan: "korban bukanlah bunuh diri, juga bukan dibunuh, melainkan meninggal 'dibunuh' oleh ketidaktahuannya".
Semua penasaran.


Dosen berkata :
“ Arsenik tercipta di dalam perut korban" korban dalam berapa waktu yang lalu, tiap hari mengkonsumsi Vitamin C.
Ini jelas tidak ada masalah, masalah timbul dikarenakan dia makan udang dalam jumlah yang banyak untuk makan malam.
Udang pada hakekatnya tidak ada masalah, maka, dia makan di rumah juga tidak masalah, namun, korban dalam waktu yang bersamaan mengkonsumsi Vitamin C, inilah letak permasalahannya!
Seorang peneliti di Universitas Chigago Amerika, melalui penelitian menemukan, udang dan beberapa makanan serupa yang memiliki cangkang lunak mengandung senyawa arsenik penta yang cukup kental.
Makanan semacam ini masuk ke dalam tubuh,
pada hakekatnya tidak berefek racun pada tubuh.
namun, setelah mengkonsumsi Vitamin C, dikarenakan reaksi kimia, menyebabkan arsenik penta yang semula tidak beracun (arsenik anhydride, yang juga dikenal arsenic pentoksida, yang rumus kimianya adalah (AsO5), berubah menjadi arsenik tripossum yang beracun (arsenic tri), yang juga disebut diarsenic trioksida, rumus kimianya (As2O3), inilah biasanya disebut sebagai arsenik!
Arsenik memiliki fungsi sebagai bahan baku racun, dapat menyebabkan kelumpuhan kapiler, menghambat aktifitas thioglycem, juga menyebabkan pusat piringan liver pada lemak tersembunyi liver rusak, menyebabkan jantung, liver, ginjal, usus mengandung darah berlebih, pori2 pada lapisan kulit luar rusak, kapiler membesar.
Sehingga menyebabkan keracunan pada korban, biasanya keluar darah dari 7 lubang.
Maka, harus berhati2, saat periode mengkonsumsi Vitamin C, harus pantang makanan udang dan sejenisnya.
Saat ini ada beberapa minuman juga mengandung Vitamin C.
🍤➕vit©
Udang/Kerang/Kepiting + Vit C = keracunan.
💊➕🉑🛢
Obat flu + soft drink = keracunan.
🌕➕🉑🛢
Duren + soft drink = keracunan.
Duren + uang 1juta n alhamdullilah
🙏🙏🙏
Setelah selesai membaca, mohon jangan pelit, sebarkan kepada teman, keluarga dan kerabat di sekitar Anda...

Benarkah keracunan arsenik disebabkan oleh konsumsi kombinasi makanan tertentu seperti vitamin C dan udang?



Penelusuran Fakta

Informasi mengenai arsenik bukan sekali ini saja beredar. Pada 2018, tersebar informasi mengenai bahaya mengonsumsi cokelat setelah makan mi instan. Pesan yang tersebar melalui platform WhatsApp tersebut juga melibatkan narasi perempuan yang meninggal setelah memakan coklat dan mi instan.

Pesan tersebut berbunyi: "MIE itu mengandung 'Arsenic Pentoxide' (As2O5) & berhubung habis makan MIE wanita itu makan COKLat. Terjadilah "Reaksi Kimia" di dalam perut yang membuat 'Arsenic Pentoxide' (As2O5) berubah menjadi Arsenic Trioxide (As2O3) yang sangat beracun.”

Informasi ini dikategorikan sebagai misinformasi, seperti dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan lewat akun Twitter @KemenkesRI pada Kamis (21/6/2018). Lebih lanjut, konsultan nutrisi Leona Victoria Djajadi, seperti dikutip Detik, mengatakan bahwa "Tidak mungkin produsen mi yang sudah lolos sertifikasi BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dengan sengaja menggunakan arsenik dalam bahan bakunya."

Arsenik atau arsen pentoksida adalah senyawa anorganik dengan rumus As₂O₅. Seperti dikemukakan Norman N. Greenwood dan A. Earnshaw (Chemistry of the Elements, 1997), senyawa ini bersifat padat, berwarna putih, dan relatif tidak stabil.

Selain itu, arsen dengan bilangan oksidasi +5 sendiri jarang ditemukan. Senyawa yang lebih sering muncul adalah arsen trioksida. Semua senyawa arsen sangat beracun, sehingga tak mungkin digunakan secara terang-terangan dalam bahan makanan. Mengutip World Health Organization (WHO) dalam laman resminya, Arsenik merupakan komponen alami dari kerak bumi dan tersebar di udara, air, dan tanah. Arsenik sangat beracun dalam bentuk anorganik.

Arsenik digunakan secara industri sebagai agen paduan, serta dalam pengolahan kaca, pigmen, tekstil, kertas, perekat logam, pengawet kayu dan amunisi. Hingga batas tertentu, arsenik juga digunakan dalam pestisida, pakan hewan, dan obat-obatan.


Ancaman terbesar dari arsenik berasal dari air tanah yang terkontaminasi. Arsenik anorganik secara alamiah terkandung dalam jumlah besar pada air tanah seperti ditemukan di Argentina, Bangladesh, Chili, Cina, India, Meksiko, dan Amerika Serikat. Air minum, tanaman yang diairi dengan air yang terkontaminasi, dan makanan yang disiapkan dengan air yang terkontaminasi adalah sumber paparan utama.

Ikan, kerang, daging, unggas, produk susu, dan sereal juga dapat menjadi sumber makanan yang mengandung arsenik, meskipun paparan dari makanan ini umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan paparan melalui air tanah yang terkontaminasi. Dalam makanan laut, arsenik terutama ditemukan dalam bentuk organik yang sifatnya tidak terlalu beracun.

Masih dari WHO, perokok tembakau juga dapat terkena paparan arsenik anorganik secara alami karena tanaman tembakau dulunya menggunakan insektisida arsenat timbal.

Jika seseorang mengalami keracunan arsenik akut, gejala yang ditemukan meliputi muntah, sakit perut, dan diare. Reaksi ini diikuti oleh mati rasa dan kesemutan, kram otot, dan pada tingkat tertentu, kematian.

Kemudian, efek jangka panjang paparan arsenik biasanya dapat diamati pada kulit, seperti perubahan pigmentasi dan bercak pada telapak tangan dan telapak kaki. Hal ini terjadi setelah paparan minimal sekitar lima tahun dan mungkin merupakan pendahulu kanker kulit.

Masih dari WHO, selain kanker kulit, paparan arsenik jangka panjang juga dapat menyebabkan kanker kandung kemih dan paru-paru. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengklasifikasikan senyawa arsenik sebagai senyawa yang bersifat karsinogenik bagi manusia.

Paparan arsenik anorganik dalam jangka panjang dan jumlah besar, terutama melalui air minum dan makanan, dapat menyebabkan keracunan arsenik kronis. Kanker kulit merupakan dampak arsenik yang banyak ditemui.


Lebih lanjut, informasi terkait reaksi keracunan karena mengonsumsi makanan laut dan vitamin C yang diduga menyebabkan keracunan arsenik telah dikonfirmasi menyesatkan oleh lembaga pemeriksa fakta Afrika, Africacheck. Informasi ini telah menyebar lewat media sosial dan platform Whatsapp di Afrika sejak 2019.

Menurut Vincent Idemyor, Profesor Farmakologi Klinis di University of Port Harcourt di Nigeria Selatan, masih dari Africacheck, keracunan arsenik terjadi ketika seseorang memiliki kadar arsenik yang tinggi dalam darah. Namun, senyawa ini dalam porsi kecil juga ditemukan lewat makanan, udara, dan air yang kita minum.

Idemyor juga menambahkan, “Vitamin C dan udang adalah makanan yang sehat. Kombinasi ini sama sekali tidak berbahaya. Keracunan hanya bisa terjadi jika memang makanan laut itu mengandung racun.


Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa disinformasi terkait keracunan arsenik karena konsumsi kombinasi vitamin c dan udang bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight