Periksa Fakta

Hoaks & Fakta Terkait Antibodi di Kala Pandemi COVID-19

Oleh: Irma Garnesia - 22 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Dr. Sri Nurdiati dari IPB telah membantah bahwa informasi terkait antibodi yang banyak beredar di WhatsApp berasal dari dirinya. Terlepas dari pernyataan Sri, apakah klaim-klaim dalam informasi itu valid?
tirto.id - Beberapa waktu belakangan terdapat sebuah informasi terkait pentingnya antibodi dan peran penting antibodi bagi tubuh di kala pandemi corona COVID-19 yang banyak tersebar di platform WhatsApp. Pesan tersebut diklaim berasal dari Dr. Ir. Hj. Sri Nurdiati (Dekan FMIPA IPB dan Dosen Biokimia IPB).

Isi pesan tersebut sebagai berikut:

Dari DR. Ir. Hj. Sri Nurdiati (Dekan FMIPA IPB dan Dosen Biokimia IPB)
Mhn di sosialisasikan :
Banyak orang nggak sadar pentingnya "ANTIBODI" stoknya harus selalu ada. Orang lebih panik masker atau hand sanitizer hilang di pasaran. Harusnya kita lebih panik kalau "ANTIBODI" hilang di tubuh, karena virus tidak mungkin dihindari.
Point penting dari diskusi:
  1. Virus itu hanya bisa dikalahkan oleh "ANTIBODI"
  2. "Antibodi" yg di dlm tubuh itu kyk pabrik, kadang banyak kadang sedikit.
  3. Supaya produksi "anti bodi" banyak, sering konsumsi vitamin C dan E setiap hari serta berjemur Sinar Matahari Pagi.
  4. Virus itu ngga mungkin dihindari, jadi pasti selalu ada, contohnya kalau bersin, bisa dipastikan ada virus disitu. Bersin indikasi tubuh menolak.
  5. Kalau berhasil tembus ke hidung dekat tenggorokan, tubuh akan batuk, tanda menolak.
  6. Kalau masih tembus juga, baru demam. Kalau masih tembus juga, barulah "antibodi" keluar dr pabrik utk melawan perang dgn virus.
  7. Kelemahan virus itu sm sabun. Kalau ngga ada hands sanitizer, pake sabun apa saja bisa bahkan sabun cuci piring jg bisa. Dlm 3-5 menit, virus akan mati sama sabun.
  8. Selama 14 hari "antibodi" kita akan merekam virus ini dan disimpan dlm *sel memori* di otak.
  9. Jadi kalau kita sembuh dan suatu saat kena corona lagi, sel memori ini akan aktif dlm 24 jam (ngga perlu menunggu 14 hari lagi)

Jadi, mari kita lebih fokus ke dalam tubuh dgn meyakinkan

"STOCK ANTIBODI" cukup alias vitamin C/E rutin dikonsumsi dan Berjemur Sinar Matahari yg paling mudah.
Catatan tambahan dari Redaksi:
Sumber vitamin C dan E terdapat pada Buah2an, kacang2an dan sayur2an, antara lain:
✔ Jeruk Manis/nipis
✔ Tomat
✔ Jambu Biji
✔ Kacang Tanah
✔ Kacang Hijau
✔ Bayam
✔ Pucuk Melinjo
✔ Pucuk Kates.
Semoga bermanfaat Untk kita semua & masyrakat...
Terus semangat berusaha melawan Virus Covid 19 & jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar di beri kesehatan ,kekuatan,dan keselamatan kita sekeluarga , segenap bangsa indonesia.”

Lantas, benarkah sejumlah klaim tersebut?


Penelusuran Fakta

Berdasarkan penelusuran Tirto, Dr. Sri Nurdiati memang benar merupakan Dekan FMIPA IPB. Namun, catatan dalam laman resmi IPB menyatakan bahwa beliau bukan dosen Biokimia, melainkan dosen di Departemen Matematika, tepatnya bagian Matematika Komputasi.

Dalam unggahan tersebut, ada bagian yang menyatakan "antibodi hilang dari tubuh." Faktanya, antibodi terbentuk otomatis jika ada materi asing yang masuk ke tubuh, entah itu virus, racun hingga bakteria.

Antibodi merupakan protein berukuran kecil yang beredar di aliran darah, dan termasuk bagian dari sistem imunitas atau kekebalan tubuh. Antibodi memiliki fungsi penting bagi tubuh sebagai benteng pertahanan terhadap berbagai penyakit.

Antibodi dibuat oleh sel darah putih untuk membantu tubuh melawan material asing tersebut (antigen) dan menjaga tubuh dari infeksi. Antibodi juga diproduksi oleh limpa. Sehingga, klaim yang tepat adalah antibodi jadi lemah atau berkurang, bukannya hilang.

Poin pertama pesan ini adalah "virus hanya dapat dikalahkan antibodi." Klaim ini benar ketika virus sudah masuk ke dalam tubuh. Namun sebelum masuk tubuh, virus juga dapat dilumpuhkan dengan mencuci tangan. Oleh karena itu, lembaga kesehatan menganjurkan masyarakat untuk rajin mencuci tangan.

Hal lain yang dapat menangkal virus adalah vaksin. Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit tertentu.


Vaksin biasanya mengandung agen yang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit dan sering dibuat dari mikrob yang dilemahkan atau mati, dari toksinnya, atau dari salah satu protein permukaannya. Agen merangsang sistem imun untuk mengenali agen sebagai ancaman, menghancurkannya, dan lebih siaga mengenali dan menghancurkan mikroorganisme tersebut di masa depan.

Poin kedua, antibodi jumlahnya bisa banyak dan bisa sedikit di tubuh. Hal ini benar. Konsultan respirasi anak dari RSCM, Bambang Aswin mengatakan sistem kekebalan tubuh seseorang bisa turun kapan saja dan ada banyak faktor yang bisa menyebabkannya. Salah satunya penyebab turunnya kekebalan tubuh seseorang adalah kurang beristirahat karena sibuk bekerja dan ini kerap dialami oleh para orang dewasa.

“Ada saat daya tahan tubuh turun alami, pada anak di bawah usia lima tahun, mengalami obesitas, pada dewasa muda workaholic tidak memikirkan istirahat, lalu lansia," kata Bambang.

Imunitas tubuh bisa dijaga dan diperbaiki dengan pola hidup sehat yakni konsumsi makanan bernutrisi, beraktivitas fisik rutin, tidur cukup, minum cukup air putih untuk mendetoksifikasi racun. Selain itu, sistem imun juga dapat ditingkatkan dengan memodulasi (mengatur) sistem daya tahan tubuh menggunakan imunostimulan yang berperan mengaktivasi berbagai elemen dan mekanisme berbeda pada sistem imun.

Poin ketiga pesan ini mengklaim bahwa vitamin C dan E, serta berjemur di bawah matahari pagi cukup untuk memproduksi antibodi yang banyak. Padahal, hal tersebut bukan satu-satunya nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Mikronutrisi seperti vitamin A, B, C, D, dan E, serta mineral seperti zat besi, selenium, dan zinc sangat penting untuk melawan infeksi. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan nutrisi dapat membantu mendukung kerja sistem imun yang lebih optimal.


Poin selanjutnya, virus tidak dapat dihindari, dan apabila bersin, bisa dipastikan ada virus di situ. Bersin adalah mekanisme tubuh menolak virus. Pernyataan ini sebagiannya benar. Saat beraktivitas di luar ruangan, udara yang bercampur dengan debu dan kotoran akan terhirup oleh hidung. Saat menyentuh bulu hidung, otak menerima sinyal dari sel saraf dan dengan segera memproduksi histamin yang membuat hidung terasa gatal.

Otak akan mengirimkan sinyal ke otot tenggorokan dan paru-paru untuk mengeluarkan udara kotor tersebut melalui tenggorokan. Hal ini yang disebut proses terjadinya bersin. Terkadang, akan ada cairan yang dikeluarkan bersama bersin. Cairan tersebut membawa partikel kotoran yang terdapat di hidung.

Bersin tidak hanya disebabkan masuknya debu dan kotoran. Namun, ada beberapa penyebab lain seperti infeksi saluran pernapasan akibat flu. Kemudian karena alergi. Alergi yang berkaitan dengan bersin disebabkan debu, serbuk bunga, dan asap.

Poin selanjutnya, jika virus berhasil masuk ke tenggorokan, tubuh akan batuk untuk menolak. Hal ini benar, batuk merupakan respons alami tubuh sebagai sistem pertahanan untuk mengeluarkan zat dan partikel dari dalam saluran pernapasan. Hal ini mencegah benda asing masuk ke saluran pernapasan.

Lanjutan pesan ini juga mengklaim bahwa jika virus tetap masuk, akan terjadi demam sebagai perlindungan tubuh. Kemudian jika tembus juga, antibodi akan turun tangan. Faktanya, demam atau peningkatan suhu tubuh merupakan respons tubuh terhadap penyakit. Demam sebenarnya merupakan salah satu cara sistem kekebalan tubuh manusia untuk memerangi infeksi. Itulah mengapa jika demamnya tidak terlalu parah, dokter menyarankan untuk tidak perlu menurunkannya.

Pengidap demam bisa mengonsumsi obat antipiretik untuk membantu melawan bakteri atau virus. Namun, kadang-kadang demam bisa naik terlalu tinggi, sehingga kondisi ini perlu ditangani sebelum terjadi komplikasi. Tindakan memeriksakan diri ke dokter bila demam melebihi 38 derajat Celsius sangat dianjurkan.


Klaim ketujuh bahwa virus lemah dengan sabun bahkan sabun cuci piring sekali pun adalah benar. Namun, mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik sudah cukup untuk 'menghancurkan' virus di tangan.

Selanjutnya, klaim kedelapan bahwa selama 14 hari antibodi akan merekam virus dan disimpan dalam sel memori di otak. Informasi ini agak berbelit-belit dan nyaris benar. Dalam sistem imun, terdapat memory cells atau B-cells.

Pertama kali berhadapan dengan virus, tubuh membutuhkan 15 hari untuk membuat cukup antibodi. Dengan bantuan Memory B-cells, tubuh akan mengenali virus/patogen tersebut, sehingga jika kita terinfeksi virus yang sama, tubuh dalam memproduksi antibodi dalam waktu yang lebih singkat, sekitar 5 hari.

Tubuh juga memproduksi antibodi 100 kali lebih banyak dari pertama kali. Semakin cepat tubuh membuat antibodi, semakin cepat virus dapat dihancurkan. Dengan bantuan Memory B-cells, tubuh bisa menyingkirkan virus sebelum manusia merasa sakit. Hal ini yang disebut sebagai kekebalan tubuh.

Dengan penjelasan tersebut, maka poin kesembilan “sel memori ini akan aktif dalam 24 jam sehingga tidak perlu menunggu hingga 14 hari” adalah informasi yang salah.

Sementara itu, daftar buah-buahan, kacang-kacangan, dan sayuran yang disebutkan memang sangat baik untuk tubuh. Namun, untuk dapat meningkatkan imunitas, tubuh juga memerlukan nutrisi lainnya, dan tidak hanya Vitamin C dan E.

Kepada Tirto, Sri Nurdiati sendiri telah menyatakan bahwa ia tidak membuat informasi terkait antibodi yang banyak beredar ini. Ia menyampaikan hal serupa dalam keterangan resminya di laman IPB.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa informasi yang tersebar melalui platform WhatsApp dan mengatasnamakan Dr. Sri Nurdiati bersifat salah sebagian (partly false). Sri Nurdiati sendiri telah membantah bahwa informasi tersebut berasal dari dirinya.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight