Hoaks Beredar di Medsos Diduga Turut Picu Situasi Panas Aksi 22 Mei

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Mei 2019
Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, perangkat analisis media sosial, mengatakan bahwa pada situasi saat ini “hoaks sangat mungkin menyebar, mendompleng peristiwa yang tengah memanas.”
tirto.id - Menanggapi pengumuman pemenang Pemilihan Presiden 2019, aksi massa terjadi di beberapa titik pada Rabu (22/5/2019). Kericuhan sempat terjadi di Tanah Abang, Petamburan, Jatibaru, Jakarta Pusat, hingga di Pontianak.

Sayangnya, di dunia maya, beberapa pihak justru menunggangi dengan menyebarkan video bohong atau hoaks.

Pada Senin (20/5/2019) beredar video berjudul “Video warga Baduy,” yang menyatakan bahwa masyarakat di kaki gunung Kendeng itu hendak berpartisipasi dalam aksi 22 Mei. Padahal, warga Baduy itu sesungguhnya sedang melakukan “Seba,” suatu adat kepatuhan komunitas Baduy terhadap pemimpin mereka di Pendopo Gubernur Banten dengan menyerahkan panen hasil bumi.

Di Youtube, dengan kata kunci “22 Mei 2019,” banyak video-video provokatif ditemukan dengan judul-judul bombastis. Seperti “rusuh,” “1998 terulang,” dan sejenisnya. Pada mesin pencari Google, konten video soal 22 Mei tinggi. Tercatat, dari hasil pindai Googlebot, ada lebih dari 10 ribu konten video terkait 22 Mei 2019, baik yang diproduksi oleh institusi pemberitaan maupun perorangan.

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, perangkat analisis media sosial, mengatakan bahwa pada situasi saat ini “hoaks sangat mungkin menyebar, mendompleng peristiwa yang tengah memanas.”

“Perlu pula diwaspadai pihak ketiga yang ingin mericuhkan suasana,” kata Ismail.

Dalam situasi yang tengah memanas, menurut Ismail, kerja jurnalistik penting. Media harus menanggapi dengan cepat dengan memberitakan mana video hoaks dan mana yang asli. "Ini penting untuk meredam viralitas hoaks," katanya.

Kini, selepas pemilihan presiden usai, masyarakat sesungguhnya sudah lelah menanggapi kontestasi calon presiden 01 vs 02.

“Masyarakat umum di media sosial sesungguhnya sudah capek,” terang Ismail.

Sayangnya, menurut Ismail, narasi-narasi yang dibuat tim pendukung 01 maupun 02 masih diamplifikasi media, termasuk soal pertarungan tagar atau hashtag juga video-video yang tidak bertanggung jawab.

“Media harus berhati-hati atas narasi-narasi di media sosial,” urai Ismail.

“Jangan ikuti buzzer, influencer, dan follower [pendukung 01 dan 02]. Masyarakat umum sesungguhnya sudah move-on,” tutup Ismail.


Baca juga artikel terkait AKSI 22 MEI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maya Saputri