HM Soedjono: Mantan Perwira Penerbang KNIL yang Jadi Anggota MUI

Oleh: Petrik Matanasi - 8 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kisah cucu Haji Samanhudi (perintis Sarekat Islam) yang sempat jadi perwira penerbang KNIL dan setelah pensiun dari AURI aktif di MUI.
tirto.id - Haji Samanhudi yang berasal dari Laweyan, Surakarta, adalah seorang pedagang batik sekaligus perintis Sarekat Islam. Ia mempunyai 31 cucu yang terdiri dari 10 cucu perempuan dan 21 cucu laki-laki. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 (1995:399), salah seorang cucunya bernama Raden Haji Muhammad Soedjono. Dia seperti disebut majalah Suara Angkatan edisi Oktober 2010, lahir di Surakarta pada 8 Januari 1923. Anak dari Haji Saman Subekti dan Hajjah Siti Wafinah.

Dalam Bunga Rampai Perjuangan Pengorbanan III (1986:215) disebutkan, Soedjono pernah belajar di HIS (SD) selama 7 tahun, MULO (SMP), dan AMS (SMA). Kala itu, kebanyakan orang Indonesia masih buta huruf. Berbekal ijazah tersebut, Soedjono melamar menjadi calon pilot di Vrijwilig Vlieger Corps (Korps Penerbang Sukarela) yang dibentuk setelah Perang Dunia II meletus.

Menurut Soedjono, pada awal tahun 1942 para siswa calon penerbang di Andir, Bandung, dididik sebagai soldaat leerling vlieger (prajurit magang calon penerbang). Dia termasuk ke dalam milisi Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL).

Waktu itu, banyak orang dari kalangan priyayi dan santri menganggap menjadi KNIL sebagai pilihan hina. Namun Soedjono termasuk pemuda yang realistis, mengingat saat itu perekononomian amat sulit setelah depresi ekonomi pada 1930-an dan diperparah dengan meletusnya perang dunia II. Maka itu, dia pun masuk KNIL.

Menurut Bouman, pada 31 Maret 1942 pangkat Soedjono sudah sersan milisi kelas dua. Dia termasuk siswa Korps Penerbang Sukarela yang terangkut ke Australia dan melanjutkan pelatihan terbangnya di Parafield, Australia, dan Fort Leavenworth, Amerika Serikat. Soedjono pernah ditempatkan di New York pada Biro Informasi Belanda, dan di San Francisco untuk laporan radio ke Hindia Belanda lewat The Voice of America hingga akhir tahun 1942.

Pada awal 1943, Soedjono kembali ke Australia dan ditempatkan di Layanan Informasi Pemerintah Hindia Belanda (Netherlands-Indies Government Information Service, disingkat NIGIS). Dia pernah dijadikan petugas kode pada Kedutaan Belanda di Melbourne, lalu menjadi perwira NICA di Biak dan Pulau Jappen selama kurang lebih satu tahun. Setelah itu kembali lagi ke Australia karena sakit.

“Saya mendengar diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia agak terlambat, waktu itu saya berada di Brisbane (Australia) dan sedang cuti,” kata Soedjono dalam Bunga Rampai Perjuangan Pengorbanan III (1986:217).

Kala itu, pangkatnya letnan kelas dua yang bertugas pada dinas khusus. Sekitar bulan Oktober, Soedjono kemudian pulang ke Indonesia nebeng pada pesawat B-25 bersama Abdul Halim Perdanakusumah yang merupakan anggota Penerbang Angkatan Laut. Mereka sempat menginap di Hotel Sriwijaya dekat Jalan Veteran, Jakarta.


Dari Jakarta, mereka kemudian ke Yogyakarta. Halim kala itu berusaha pulang ke Madura, namun perjalanan mereka tidak mudah karena sama-sama bekas anggota militer Belanda. Keduanya sempat ditahan tentara Republik karena memakai seragam militer Belanda dan dituduh sebagai mata-mata. Setelah terbukti bukan mata-mata, mereka akhirnya dipekerjakan di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).


Soedjono ditugasi merintis pasukan payung Indonesia. Namun belum juga pasukan payung AURI terbentuk sempurna, tugas lain diberikan kepadanya di Bukittinggi. Di sana, Soedjono menggantikan Halim Perdanakusuma yang gugur pada Desember 1947, menjadi wakil Kepala Staf Angkatan Udara di Sumatra. Saat terjadi Agresi Militer Belanda II sejak 19 Desember 1948, Soedjono ikut bergerilya bersama Wiriadinata--komandan pertama Pasukan Gerak Tjepat.

Infografik HM Soedjono
Infografik HM Soedjono 1923-2010. tirto.id/Fuad

Aktif di Majelis Ulama Indonesia

Setelah 1950, Soedjono terus berdinas di Angkatan Udara. Pada 1960-an dia pernah menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (1962-1966). Lalu setelah Orde Baru muncul dia menjadi Duta Besar RI untuk Suriah (1966-1970), Wakil I Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), dan menjadi anggota DPR. Di AURI dia pensiun dengan pangkat Marsekal Madya.

Setelah pensiun, Soedjono pernah menjadi anggota Badan Sensor Film. Selain itu, sempat aktif juga di berbagai organisasi keagamaan seperti Yayasan Pusat Pendidikan Tinggi Dakwah Islam, Perhimpunan Peminat Masalah-masalah Timur Tengah, Badan Pengajian Tafsir Al Quran, Pengajian Taqwa II, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)--yang menurut M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa (2013:277), dimaksudkan sebagai wahana bagi pemerintah untuk mengontrol Islam. Hal inilah yang kemudian Hamka (Ketua Umum pertama MUI) mengundurkan diri.


Soedjono mulai aktif di MUI pada tahun 1980-an dan pernah menjadi salah satu Ketua Bidang Luar Negeri, saat organisasi itu dipimpin oleh KH Hasan Basri yang menggantikan Kiai Haji Syukri Ghozali.

Terjunnya Soedjono ke dalam organisasi keislaman bukan hal aneh, sebab saat itu banyak juga kalangan militer yang dekat dengan umat Islam. Bagi Soedjono, itu tampak seperti tradisi keluarga--seperti kakeknya, Haji Samanhudi, yang merintis Sarekat Islam.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight