Hikayat Ribut-Ribut di Pasar Rumput

Oleh: Nadhen Ivan - 8 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Kawasan Pasar Rumput adalah 'wilayah merah'. Di sana, tawuran seperti jadi santapan sehari-hari. Ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.
tirto.id - Bisa jadi hanya Jimi Multhazam yang mampu melukiskan tawuran dengan begitu puitis. Bersama The Upstairs, band yang dibentuknya pada 2001 silam, Jimi menuliskan lagu berjudul “Matraman”.

Kisahnya sebenarnya tragis: seorang kawan yang membawakan kembang untuk mantan pacarnya, menunggu lama di Tanjung Priok. Ternyata yang dinanti ada di Kota Kembang, Bandung. Namun Jimi meramunya dengan suasana Jakarta yang begitu hidup, termasuk, tentu saja, adegan tawuran.


Demi trotoar dan debu yang berterbangan

Ku bersimpuh

Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar

Ku ungkapkan

Atas nama orang-orang

Berdatangan ke utara

Kau kan ku jelang

Kawasan Matraman di Jakarta Timur memang termasuk kawasan “merah”--tempat banyak orang saling melempar batu dan menghunus celurit. Matraman tak berdiri sendiri, ada juga kawasan Pasar Rumput di Jakarta Selatan yang rutin menjadi tempat tawuran antar-warga.

Tahun 2019 baru berjalan dua bulan, tawuran lagi-lagi pecah di Pasar Rumput, tepatnya di depan halte Transjakarta. Tawuran yang terjadi pada hari Sabtu (2/2/2019) lalu melibatkan warga Pasar Rumput dengan Menteng Tenggulun.


Awalnya sepele, dan kebanyakan tawuran memang karena hal sepele: saling ejek di media sosial. Karena media sosial tidak bisa dipakai untuk baku hantam, perselisihan pun dibawa ke dunia nyata.


Bambu dan parang diacungkan ke udara. Makian menghambur. Batu-batu berterbangan di udara. Kaca-kaca di halte Transjakarta pecah. Suasana panas.

Polisi turun tangan, massa bubar. Tapi bekas kerusakan tawuran masih bisa dilihat.

Dua hari kemudian, Erjal dan Rafli mengisahkan 'kebiasaan' tawuran di kawasan Pasar Rumput kepada saya. Dua remaja yang bekerja sebagai tukang parkir di sebuah minimarket ini mengisahkan bahwa tawuran adalah 'santapan rutin' warga sekitar. Erjal pun mengaku kalau dia pernah menjadi salah satu aktor tawuran pada 2013 silam.

“Bentuk solidaritas aja, sih, bantu teman. Waktu itu tawurannya soal cewek,” kata Erjal, yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di kawasan Pasar Rumput dan Manggarai.

Satu waktu, Erjal kena getahnya. Ketika kena serangan balik, dia berusaha lari ke belakang. Nahas, dia terjatuh. Musuh mengayunkan sebilah pedang ke arahnya.

Wuuut! Refleks, Erjal menjadikan tangan ka
nan sebagai perisai. Croot! Darah muncrat. Untung dia berhasil kabur.

“Setelah itu pergi ke RS Cipto, tangan dipen. Bilang ke dokter lukanya karena jatuh dari motor. Karena kalau bilang tawuran, pasti enggak bakal ditangani,” katanya.

Wawan (40) punya kisah menarik tentang kenapa tawuran selalu diturunkan dari generasi ke generasi di Pasar Rumput dan sekitarnya. Menurutnya, ini bermula dari seseorang yang bernama Bang Balok. Dia adalah 'pemegang' kawasan yang disegani orang-orang.

“Suatu hari, datang anak Menteng ngajak bang Balok minum. Tapi mereka kemudian punya rencana ngeracunin bang Balok. Dari sana, dendam deh. Kebawa sampai sekarang,” ujar Wawan.


Jika menurut Wawan tawuran di Pasar Rumput adalah perkara dendam, sosiolog Imam B. Prasodjo menyebut bahwa tawuran ini disebabkan perkara sosial yang lebih kompleks.

Dalam wawancaranya bersama Tempo pada 5 Januari 2015, perkara rebutan lahan pekerjaan bisa jadi pemicu tawuran. Selain itu, Imam juga menyebut banyaknya geng di kawasan Manggarai membuat suasana jadi makin panas; persaingan pun makin ketat.


“Ada sekitar 35 geng di kawasan itu,” kata Imam.

Menurut Wawan, keadaan di kawasan Pasar Rumput sempat adem pada 2017 hingga 2018. Hal itu karena anak-anak Pasar Rumput, Menteng, Manggarai dan sekitarnya mengikat janji dalam sebuah forum yang bernama Fordagis (Forum Pemuda Pasar Manggis)

"Nah di situ dah kami akhirnya berikrar damai. Tapi akhir-akhir ini ribut lagi, katanya karena ledek-ledekan di media sosial,” ujar Wawan.

Menurut Wawan, kawasan Pasar Rumput dan Manggarai akan susah untuk benar-benar tenang, karena akan selalu ada yang diributkan.

“Ada saja emang bahan ributnya. Dari lahan parkir, sampai lahan dagang.”

Baca juga artikel terkait TAWURAN atau tulisan menarik lainnya Nadhen Ivan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Nadhen Ivan
Penulis: Nadhen Ivan
Editor: Nuran Wibisono