Makin Kaya Kala Pandemi

Hidayat Bersaudara Mematahkan Stigma Buruk Bisnis Jamu Keluarga

Oleh: Ahmad Fauzan - 14 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Hidayat Bersaudara membuktikan bisnis warisan keluarga bisa tetap kokoh dan mencatat progres di kala pandemi.
tirto.id - Ketika pabrik jamu legendaris Nyonya Meneer dinyatakan pailit pada 2017, orang ramai-ramai membuat kesimpulan yang hampir seragam. Intinya begini, “bisnis tradisional seperti jamu yang dikelola dengan cara kekeluargaan layaknya harta warisan, cepat atau lambat akan berujung gulung tikar.”

Teori itu bisa dimaklumi bila melihat rekam jejak perebutan bisnis yang terjadi di antara garis keturunan pendiri Nyonya Meneer. Namun, anggapan macam itu sebenarnya tidak selalu akurat. Setidaknya, ia tidak terjadi dalam riwayat bisnis PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (Sido Muncul).

Sama-sama berstatus bisnis jamu warisan keluarga, Sido Muncul punya nasib yang jauh lebih baik daripada Nyonya Meneer. Sepanjang 2020, harga saham perusahaan berkode SIDO di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu konsisten menguat. Padahal, kondisi pasar modal sedang bergejolak di tengah pandemi.

Pada awal tahun, harga per saham SIDO tercatat Rp600. Harga saham SIDO lalu mengalami akumulasi kenaikan tajam sebesar 149,16 persen ke posisi Rp1.495 pada penutupan perdagangan pada 11 September 2020. Tanggal itu adalah hari terakhir perdagangan SIDO sebelum perseroan meresmikan stock split 1:2—aksi memecah nilai saham jadi setengahnya.

Langkah ini ditempuh guna memantik likuiditas transaksi SIDO. Sejak 14 September 2020, saham SIDO diperdagangkan dengan nominal baru, yakni Rp600 per saham, dan kenaikan pun tetap berlanjut. Saham pabrik jamu asal Semarang itu ditutup pada posisi harga Rp805 per saham pada akhir tahun—menguat 34,16 persen hanya dalam kurun kurang dari dua bulan.

Meningkatnya kapitalisasi pasar Sido Muncul kemudian berujung manis bagi Irwan Hidayat. Irwan adalah kakak tertua dari lima Hidayat bersaudara, pemilik saham mayoritas sekaligus generasi ketiga ahli waris Sido Muncul.

Dalam laporannya di pengujung 2020, Forbes menempatkan Irwan sebagai orang terkaya ke-17 di Indonesia. Posisinya saat ini naik dari tahun sebelumnya, ketika Irwan hanya berada di urutan 30. Kekayaan kolektif Irwan ditaksir menyentuh US$1,55 miliar atau Rp21,8 triliun—menguat 40 persen dari catatan pengujung 2019 yang berada pada kisaran US$1,11 miliar.

Kini, dia hanya berjarak tipis dari Garibaldi Thohir (US$1,65 miliar) dan T.P. Rachmat (US$1,6 miliar) yang menempati peringkat 15 dan 16.

Bukan cuma menempatkan Irwan dalam daftar konglomerat dengan kenaikan kekayaan fantastis, Forbes juga mengganjar Sido Muncul dengan penghargaan Best of the Best Awards 2020. Penghargaan ini disematkan pada 50 perusahaan di BEI yang dinilai Forbes punya kinerja ciamik sepanjang tahun. Penilaian dilakukan dengan mengukur kinerja pendapatan dan laba bersih, kemampuan perusahaan mengambil langkah bisnis yang berkelanjutan, serta kondisi ekuitasnya.

“Banyak hal yang membuat kami tetap bertahan di tengah pandemi ini. Pertama, usaha yang kami lakukan [jamu dan obat-obatan] cocok dengan iklim pandemi. Dan kedua, kami telah melakukan persiapan jauh sebelum pandemi,” kata Irwan pada 10 Desember 2020.


Bisnis Menguat

Apa yang dimaksud Irwan sebagai “persiapan” adalah strategi penjualan dan pemasaran produknya secara daring.

Sebelum pandemi meledak, Sido Muncul telah konsisten berjualan lewat portal sidomunculstore.com yang mereka bangun sendiri. Sido Muncul juga melakukan penjualan produk lewat berbagai platform e-commerce. Mulai dari Tokopedia, Shopee, Lazada, hingga Bukalapak.

Keputusan Sido Muncul merilis 14 jenis produk baru sejak awal 2020 juga dibarengi promosi yang intensif lewat iklan dan media sosial. Sido Muncul bahkan menggaet beberapa influencer untuk turut mempromosikan produk mereka, di antaranya binaragawan Ade Rai, akademikus Rhenald Khasali, hingga pembawa acara Boy William.

Di Malaysia dan Filipina, dua negara merupakan pangsa ekspor utama Sido Muncul, pendapatan perusahaan memang turun seiring adanya pengetatan ekspor-impor akibat pandemi. Situasi tak beda jauh juga terjadi di Nigeria, tempat Sido Muncul menanam salah satu anak usahanya, PT Muncul Nigeria Limited.

Namun, berkat ditopang penjualan daring, penjualan Sido Muncul di dalam negeri tetap menguat dan sukses menambal minus akibat terpangkasnya penjualan di mancanegara.

Seturut laporan keuangan di BEI (PDF), nilai penjualan segmen jamu herbal Sido Muncul selama sembilan bulan awal 2020 menembus angka Rp1,44 triliun, meningkat dari periode sebelumnya yang mentok di kisaran Rp1,42 triliun. Selain Tolak Angin, beberapa produk andalan Sido Muncul dalam segmen ini adalah Jamoe Life Style, Jamu Batuk, Jamu Bersalin, Jamu Encok, Jamu Galian Singset, dan masih banyak lagi.

Penguatan tipis terjadi pada penjualan produk farmasi, dari Rp92,3 miliar jadi Rp92,8 miliar. Produk Sido Muncul pada segmen ini rata-rata merupakan hasil produksi perusahaan yang mereka akuisisi enam tahun silam, yakni PT Berlico Mulia Farma. Entitas ini setidaknya punya 80 varian obat.

Sementara itu, produk makanan dan minuman nonjamu Sido Muncul menguat sampai angka 18,7 persen, tepatnya dari posisi Rp608 miliar jadi Rp722,18 miliar. Produk andalan pada segmen ini juga tidak kalah beragam, mulai dari Kuku Bima Energi, Jahe Wangi, Madusido, Sido Muncul Susu Jahe, Sido Muncul Kopi Jahe, hingga Permen Tolak Angin.

Semua segmen produk Sido Muncul itu membukukan pendapatan Rp2,25 triliun per 30 September 2020. Jumlah itu naik sekitar enam persen ketimbang torehan Rp2,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan secara laba, Sido Muncul membukukan angka Rp640,8 miliar alias meningkat 10,7 persen dari rapor Rp578,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lantas, apa yang membuat Sido Muncul mampu bertahan, bahkan memperkuat bisnisnya?

“Kuncinya selalu kreatif, mengikuti demand, ditambah keberuntungan dan feeling, serta selalu perhitungan akan segala hal yang dilakukan. Juga memiliki plan B,” kata Irwan sebagaimana dikutip Tribunnews. “Yang juga tidak kalah penting adalah menjunjung kejujuran, baik kepada karyawan, pemerintah, bahkan kepada lingkungan karena bukan hanya profit, namun lingkungan juga sangat penting.”

Sifat jujur serta tendensi menjaga hubungan baik dengan siapa memang jadi salah satu kunci sukses Sido Muncul. Ini tidak saja berlaku dalam lingkup eksternal, tapi juga di ruang rapat terkecil perusahaan; di antara dewan direksi dan pemegang saham.

Infografik Bagi Adil Keluarga Hidayat di Sido Muncul
Infografik Bagi Adil Keluarga Hidayat di Sido Muncul. tirto.id/Quita


Solid

Tidak seperti kebanyakan bisnis warisan keluarga yang acap dibumbui drama perebutan kekuasaan, Hidayat bersaudara mengelola Sido Muncul dengan pembagian kekuasaan yang adil dan transparan. Sejak perseroan melantai di bursa pada 2013, pos Direktur Utama Sido Muncul bahkan ditempati secara bergilir oleh Irwan dan keempat adiknya.

Saat ini Hidayat bersaudara menguasai 81 persen saham Sido Muncul lewat sebuah entitas bisnis bernama PT. Hotel Candi Baru. Reporter Tirto mencoba menelisik struktur komposisi pemegang saham perusahaan ini lewat akta perusahaan yang terdaftar di Ditjen AHU Kemenkumham.

Memiliki modal dasar Rp1 triliun, struktur kepemilikan PT Hotel Candi Baru terdiri dari 350.000 lembar saham. Irwan Hidayat yang berstatus Direktur Utama punya kepemilikan 70.000 lembar saham alias 20 persen. Porsi ini sama persis dengan kepemilikan saham atas nama keempat adiknya, yakni David Hidayat (Direktur), Jonatha Sofjan Hidayat (Presiden Komisaris), Johan Hidayat (Komisaris), serta adik termuda Sandra Linata Hidayat (Komisaris).

Porsi pembagian saham yang adil itu membuat wewenang yang dimiliki antara Irwan dan keempat adiknya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Hotel Candi Baru sama kuat. Tidak ada yang namanya senioritas sehingga memperkecil kemungkinan munculnya kebijakan yang bersifat otoriter.

Di samping itu, Irwan dan adik-adiknya juga tampak tidak sembarangan mewariskan aset kepada keturunan masing-masing. Anak-anak dari kelima Hidayat Bersaudara tidak memiliki selembar pun saham PT Hotel Candi Baru, meski beberapa di antara mereka mulai masuk ke dalam struktur manajemen.

Bila budaya membagi kepemilikan saham secara rata ini berlanjut, tampaknya tinggal menunggu waktu saja bagi klan Hidayat untuk makin solid dan, tentu saja, makin kaya. Sebab tak cuma bisnis jamu, PT Hotel Candi Baru belakangan mulai intensif melakukan ekspansi ke sektor lain. Salah satunya, sesuai nama perusahaan, adalah sektor perhotelan.

Saat ini, PT Hotel Candi Baru tercatat memiliki empat bisnis hotel di Yogyakarta dan Semarang. Masing-masing adalah Hotel Tentrem Yogyakarta, Hotel Candi Baru Semarang, Hotel Chanti Semarang, dan Hotel Tentrem Semarang.

Nama hotel yang terakhir disebut, yang usianya paling muda, bahkan juga dilengkapi dengan bangunan tower dan apartemen setinggi 76 meter serta pusat perbelanjaan Mall Tentrem Semarang. Untuk berinvestasi pada segmen terintegrasi di ibu kota Jawa Tengah ini, Hidayat bersaudara konon sampai harus merogoh kocek hingga Rp2 triliun.

Untuk saat ini, bisnis hotel dan pusat perbelanjaan memang masih tertekan oleh pembatasan sosial akibat pandemi. Namun, dengan asumsi program vaksinasi berjalan lancar dan tepat waktu, Senior Associate Director Colliers International Indonesia (CII) Ferry Salanto menyebut bahwa prospek sektor tersebut untuk jangka panjang masih relatif menjanjikan.

“Idealnya seperti itu [pendapatan hotel akan pulih]. Tapi, sekali lagi ini akan tergantung dari bagaimana ekonomi ini bisa pulih dan bagaimana efektivitas vaksin,” kata Ferry dalam diskusi virtual dengan media pada 6 Januari 2021.

Baca juga artikel terkait IRWAN HIDAYAT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Fauzan
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight