Harian "Angkatan Bersendjata" Mengawal Orde Baru di Jalur Pers

Oleh: Petrik Matanasi - 3 Agustus 2021
Dibaca Normal 3 menit
Harian Angkatan Bersendjata dibuat untuk menyaingi koran PKI. Ikut menegakkan dan melanggengkan Orde Baru.
tirto.id - Semua orang tahu, PKI babak belur gara-gara Konflik Madiun 1948. Tapi, ia bangkit begitu cepat di bawah kepemimpinan Dipa Nusantara Aidit. Dalam Pemilihan Umum 1955, PKI berhasil meraup 18 persen suara nasional dan jadi urutan keempat dalam pemilu. PKI juga meraih sukses di Pemilu Daerah 1957-58. Bahkan, di beberapa kota, PKI berhasil mengungguli perolehan suara PNI.

Jika PKI bisa menjaga modal dan performa politiknya, ia berpeluang meraih sukses besar dalam pemilu nasional kedua yang rencananya akan digelar pada 1965. Kunci sukses PKI lainnya adalah kampanye media massa. Harian Rakjat, koran resmi partai berlambang palu-arit itu, punya oplah besar dan berpengaruh.

Partai dan kelompok politik lain tentu saja tak tinggal diam. Lagi pula, afiliasi antara media massa dan partai adalah hal lazim kala itu. Karenanya, taktik “melawan media dengan media” juga hal yang biasa. ABRI, khususnya Angkatan Darat, yang sejak lama jadi musuh politik PKI juga memakai cara itu.

Suatu hari di awal 1965, Brigadir Jenderal Sugandhi datang menghadap Presiden Sukarno. Mantan ajudan Presiden Sukarno itu dengan mantap meminta restu untuk menerbitkan sebuah surat kabar.

Pak, kami mau mendirikan surat kabar Angkatan Bersendjata. Mohon izin Bapak?” kata Sugandhi kepada Presiden Sukarno, seperti dikisahkan dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984, hlm. 365). Sukarno pun memberikan izin dan surat kabar Angkatan Bersenjata pun kemudian terbit.

Harian Angkatan Bersendjata, terbit pada 15 Maret 1965 berada di bawah kontrol Kepala Penerangan Staf ABRI,” tulis Akhmad Zaini Abar dalam Kisah pers Indonesia, 1966-1974 (1995, hlm. 53).

Akhmad juga menyebut, kala itu, Angkatan Darat sebenarnya sudah punya koran bernama Berita Yudha. Koran itu mulai terbit pada 9 Februari 1965 dan dikontrol oleh Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat Brigadir Jendral Ibnu Subroto.

Saksi Kejatuhan Sukarno

Kala itu, seperti dicatat Salim Said dalam buku Gestapu 65 (2018, hlm. 27), Sugandhi adalah Direktur Penerangan Staf Angkatan Bersenjata (SAB) merangkap Pimpinan Umum Angkatan Bersenjata. Di SAB, Sugandhi adalah bawahan Jenderal Nasution.

Menurut Soegiarso Soerojo dalam Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (1988, hlm. 145), penerbitan Angkatan Bersendjata adalah inisiatif dari Nasution. Buku Peran Serta Pers Menegakkan Pancasila (1996, hlm. 180) menyebut, Mayor Soegiarso Soerojo bertindak sebagai Pemimpin Redaksi dengan dibantu Kolonel Komar, Letkol lsa Edris, dan Mayor Jusuf Siradj.

Selain edisi nasional, Angkatan Bersenjata juga punya edisi lokal yang menampilkan berita-berita dari daerah. Ia punya slogan: “Batjaan Pradjurit, Veteran, Hansip, Purnawirawan, dan Rakjat Pedjoang Progresif Revolusioner.” Ia mulanya terbit dalam format empat halaman.

Kantor redaksi Angkatan Bersendjata beralamat di Petojo Selatan II Jakarta, tidak jauh dari markas SAB dan Kementerian Pertahanan.Meski terkesan sebagai korannya tentara, redaksi Angkatan Bersendjata juga diisi oleh wartawan sipil. Dua wartawannya yang terkenal adalah Salim Haji Said—di kemudian hari, sohor sebagai pengamat militer—dan sosok legendaris Harmoko.


Koran ini menjadi saksi kejatuhan Sukarno dan naiknya pamor Soeharto pada periode 1965-1967. Dalam salah satu edisi Maret 1966, misalnya, Angkatan Bersendjata menulis berita dengan judul sangat panjang: “Presiden/Pangti ABRI Bung Karno Perintahkan Letnan Jendral Soeharto Bertindak Untuk Mendjamin Keamanan/Kesehatan Revolusi, Kewibawaan Pimpinan Presiden/Pangti ABRI dan Pribadi Bung Karno, Tuntutan Rakyat akan ditampung sebaik-baiknja.”

Sebelum itu, Angkatan Bersendjata juga ikut menggasak kaum komunis dan Harian Rakjat. Terhitung sejak 3 Oktober 1965, penguasa militer melarang koran PKI itu terbit. Pelarangan itu tentu saja menguntungkan Angkatan Bersenjata, Berita Yudha, dan koran-koran antikomunis lainnya. Setelah 6 Oktober 1965, koran-koran antikomunis itu bebas terbit kembali.

Pemberitaan Angkatan Bersendjata pasca-G30S 1965 diarahkan untuk menyudutkan kaum komunis sebagai dalang utama kudeta gagal itu. Salim Said menyebut istilah “Gestapu” yang populer untuk menyebut Peristiwa G30S 1965 pertama kali dicetuskan oleh Sugandhi. Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia (1986, hlm. 175) juga menyebutkan hal yang senada. Istilah Gestapu itu dibuat untuk mengasosiasikan PKI dengan polisi rahasia Jerman era NAZI yang kejam bernama Gestapo.

Angkatan Bersendjata pada edisi 8 Oktober 1965 membuat editorial berjudul: Gestapu Didalangi PKI Aidit.

Andree Feillard dalam NU vis a vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna (1999, hlm. 85) menyebut Angkatan Bersendjata kerap memuji koran NU Duta Masyarakat atas sikapnya yang tegas antikomunis.

Di masa-masa kritis 1965, percetakan koran ini yang berada di Petojo, diberi penjagaan yang kuat. Buku Seabad Pers Kebangsaan (2007, hlm 811) menyebut di masa-masa genting 1965-1966, koran tentara ini juga menyelipkan berita soal kelompok musik The Blue Diamond yang konser di Senayan pada 11 Januari 1966. Di hari yag sama, ada berita Kolonel Sarwo Edhi menemui mahasiswa di kampus Universitas Indonesia, Jakarta.

Infografik Harian Angkatan Bersenjata
Infografik Harian Angkatan Bersenjata. tirto.id/Fuad


Buzzer Orde Baru

Pada 1967, Kolonel Djojopranoto ditunjuk menjadi Pimpinan Redaksi Angkatan Bersendjata—sambil merangkap jadi anggota MPRS untuk keamanan dan pertahanan luar negeri. Kantor redaksinya pun dipindahkan ke Merdeka Barat 13.

Ketua Business International Corporation (BIC) Elliot Haynes dalam catatan rahasianya untuk Pemerintah Amerika Serikat menyebut Angkatan Bersendjata telah mencapai oplah 40 ribu eksemplar pada akhir 1967. Haynes juga menyebut Djojopranoto sebagai bawahan yang taat daripada Letnan Jenderal Soeharto. Jika Soeharto bilang “A”, Djojopranoto akan mencetak “A”. Sejak itu, Angkatan Bersendjata memang sudah selaiknya buzzer alias pendengung dari jenderal dedengkot Orde Baru itu.

Koran ini juga tak segan menggebuk koran lain yang menerbitkan pemberitaan miring soal kroni-kroni Orde Baru. Ketika kasus kerugian Pertamina merebak, koran Indonesia Raya menurunkan berita yang dianggap menyudutkan Mayor Jenderal Ibnu Sutowo. Pemerintah yang jengkel kemudian menggebuk koran ini.

Menurut David Hill dalam Pers Masa Orde Baru (2011, hlm. 38), Angkatan Bersendjata juga turut menyerang Indonesia Raya setelah itu. Hill mencatat, Angkatan Bersendjata menuduh Pemimpin Redaksi Indonesia Raya Mochtar Lubis punya konflik kepentingan dalam urusan bisnisnya dengan Pertamina.


Bersama Berita Yudha, Angkatan Bersendjata kemudian berjaya mengawal langgengnya Orde Baru daripada Soeharto. Harian Angkatan Bersenjata hidup hingga tergulingnya Soeharto pada 1998. Setelah ABRI bertransformasi menjadi TNI, koran ini tinggallah sejarah saja.

Baca juga artikel terkait PROPAGANDA ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight