International Women's Day

Hari Perempuan Sedunia & Kuatnya Sejarah Emansipasi di Islandia

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 8 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Warga Islandia memiliki pondasi sejarah yang kuat terkait kesetaraan gender atau emansipasi antara pria dan wanita.
tirto.id - Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Islandia boleh dibilang menjadi salah satu yang terbaik sedunia untuk urusan emansipasi antara kaum wanita dan pria. Kesetaraan gender di negara es dengan penduduk terjarang di Eropa ini tampaknya telah tertanam dalam sejarah dan menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Islandia sudah lama menganut sistem ideologi yang kuat terhadap kesetaraan gender, bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara laki-laki dan perempuan. Sejarah peradaban di negara kecil seluas 103 ribu kilometer persegi ini pun telah memberikan petunjuk.

Selama berabad-abad lampau, perempuan Islandia tidak jarang mengambil peran yang "biasanya" dilakoni oleh kaum lelaki, misalnya bertani, berburu, bahkan membangun rumah, selain tentu saja mengurusi segala isinya. Wanita di Islandia juga mengatur keuangan rumah tangga dalam skala yang lebih besar.

Pengalaman sejarah yang sudah menjadi kebiasaan bahkan gaya hidup terus dipertahankan hingga saat ini. Pemerintah Islandia mencoba memberikan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspek.

Islandia adalah negara yang ramah perempuan dan mengajarkan emansipasi kepada anak-anak sejak usia dini. Kini, Islandia disebut-sebut sebagai negara dengan lingkungan kerja terbaik bagi perempuan.


Terdepan Soal Kesetaraan

Sejak Januari 2018, di Islandia berlaku peraturan bagi perusahaan, baik swasta maupun pemerintah, supaya memberikan gaji setara antara laki-laki dan perempuan. Dilansir oleh Independent, sertifikasi dilakukan untuk setiap instansi. Masalah kesenjangan gaji ini ditargetkan tuntas pada 2022 mendatang.

Tahun 2017 lalu, The Economist merilis laporan khusus untuk melihat kemajuan penyetaraan gender di seluruh dunia. Laporan itu memadukan data pendidikan tertinggi, partisipasi di dunia kerja, gaji, biaya perawatan anak, hak persalinan ayah dan ibu, aplikasi sekolah-bisnis, serta representasi terhadap pekerjaan senior ke dalam satu bagan.

Maka, berdasarkan hasil laporan tersebut, akan diketahui negara mana tempat paling baik dan paling buruk bagi kaum perempuan untuk bekerja. Indikator dari laporan tersebut adalah 1-100, dari terburuk hingga yang terbaik.

Hasilnya, Islandia menempati peringkat pertama dengan indeks 85, diikuti Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Indeks 85 yang diraih Islandia menunjukkan bahwa sekitar 15 persen pekerja/karyawan perempuan di negara itu mendapatkan sekitar 85 persen dari gaji yang diperoleh kaum pria.

Upaya menyetarakan hak laki-laki dan perempuan di Islandia tidak hanya sebatas pada perkara besaran gaji. Islandia dikenal sebagai negara yang juga memberdayakan perempuan secara maksimal.

NCGS melaporkan, Islandia merupakan negara dengan praktek terbaik untuk mendidik dan memberdayakan perempuan, termasuk pelajaran dari perguruan tinggi di negara itu tentang kesetaraan gender tingkat lanjut, politik untuk perempuan, hingga pelatihan kepemimpinan.

Melalui video berdurasi 6 menit, The Economist mengulas bagaimana laki-laki di Islandia akan mendapatkan ijin cuti jika istrinya melahirkan selama 3 bulan dengan tetap menerima gaji, seperti halnya perempuan. Salah seorang ayah yang diwawancarai dalam video tersebut mengatakan:

“Bayangkan jika perusahaan ingin mempekerjakan perempuan, maka mereka akan berpikir bahwa perempuan akan melahirkan, mengambil cuti, dan dapat merugikan perusahaan. Tapi, jika laki-laki juga mendapat hak yang sama [cuti selama 3 bulan], maka perusahaan tidak lagi membeda-bedakan laki-laki dan perempuan.”


Emansipasi Sejak Dini

Penyetaraan hak-hak antar gender juga diajarkan sejak kecil di Islandia. Pendidikan gender tidak hanya harus didengar, melainkan juga diajarkan agar mengakar menjadi mentalitas sebagai orang Islandia. Anak-anak Islandia dididik untuk hidup melawan stereotip sebelum mereka mengenal “laki-laki” dan “perempuan”.

Margret Pala Olafsdottir, akademisi Islandia yang diwawancarai dalam video tersebut, berkata, “Laki-laki, sebagai contoh, selalu kuat, dominan, dan mengambil peran. Mereka akan berakhir dengan menghina, bertengkar, dan melanggar aturan. Kami melakukannya dengan perempuan juga.”

“Jika kamu selalu harus menolong, peduli, memikirkan orang lain mencari penerimaan dari teman-temanmu, kamu akan melupakan diri sendiri. Kita harus menjauhkan kesenjangan, kita harus membawa semuanya ke tengah-tengah [bukan condong ke maskulin atau feminin],” imbuh Olafsdottir.

Kurang lebih 70 sekolah dasar di Islandia mengajari para siswanya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menjadi berani, mandiri, serta mengambil resiko. Sebagai contoh, pertanyaan diajukan guru kepada seorang siswa perempuan:

“Siapa yang akan menolongmu?,” tanya guru

“Diriku sendiri,” jawab siswi tersebut.

Sekolah dasar lainnya di Islandia, tulis The Guardian, memiliki kurikulum “Single Sex Class” yang mengajarkan anak-anak untuk berani berpendapat. Perempuan dan laki-laki dilatih secara fisik, serta percaya diri. Di Islandia, pemberdayaan perempuan sudah diajarkan sejak usia dini dan sudah tertanam dalam sejarah peradaban negara ini.

Baca juga artikel terkait HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Iswara N Raditya