Hari Perempuan Sedunia: Karier Zaha Hadid Arsitek Peraih Pritzker

Oleh: Adrian Samudro - 8 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Kontribusi Zaha Hadid yang luar biasa untuk profesi arsitektur telah diakui oleh lembaga–lembaga profesional.
tirto.id - Zaha Hadid, perempuan kelahiran Baghdad, Irak pada 1950 ini merupakan seorang arsitek yang pernah menempuh pendidikan matematika di Universitas Amerika, Beirut, sebelum dia pindah ke London pada 1972 untuk Sekolah Asosiasi Arsitektur (AA) di mana dia menerima penghargaan Diploma pada tahun 1977.

Perempuan bernama lengkap Dame Zaha Mohammad Hadid ini pernah mengajar di Sekolah AA sampai pada 1987 dan juga memegang banyak jabatan sebagai profesor tamu di universitas-universitas seluruh dunia, termasuk Columbia, Harvard, Yale dan Universitas Seni Terapan di Wina.

Pada tahun 1979, dia mendirikan perusahannya sendiri yang berbasis di London, Zaha Hadid Architects (ZHA). Pada 1983, Zaha memperoleh pengakuan internasional atas karyanya, The Peak, sebuah pusat hiburan dan rekreasi d Hongkong.

Desainnya ini tidak pernah terwujud, juga sebagian besar desain radikal lainnya pada 1980-an dan awal 90-an, temasuk Kurfürstendamm (1986) di Berlin, Pusat Seni dan Media Düsseldorf (1992-93), dan Teluk Cardiff Gedung Opera (1994) di Wales.

Dikutip dari Britannica, dia kemudian mulai dikenal dengan “arsitek kertas”, yang berarti desainnya terlalu modern yang melampaui sebuah sketsa biasa dan benar–benar bisa untuk dibangun. Kesan tentangnya semakin tinggi ketika desain-desainnya yang indah dalam bentuk lukisan berwarna sering dipamerkan sebagai karya seni di museum-museum besar.

Pada tahun 2004, dia menjadi perempuan pertama yang dianugerahi Penghargaan Pritzker Architecture.

Karyanya diakui dan dipamerkan di Museum Solomon R. Guggenheim di New York pada 2006, Museum Desain London pada 2007, Museum Negara Hermitage Saint Petersburg pada 2015, dan Galeri Serpentine London pada 2016.

Proyek besar pertamanya adalah Stasiun Pemadam Kebakaran Vitra (1989-1993) di Weil am Rhein, Jerman. Desainnya memiliki banyak sudut yang strukturnya menyerupai burung yang sedang terbang.

Karya lainnya yang juga dibangun pada periode ini yaitu termasuk proyek perumahan IBA Housing (1989–1993) di Berlin, ruang pameran Zona Mind (1999) di Millennium Dome, Greenwich, London, dan ruang pameran Land Formation One (1997-1999) di Weil am Rhein.

Zaha memantapkan reputasi karier sebagai arsitek pada tahun 2000, ketika dia mendesain untuk Pusat Seni Kontemporer Lois & Richard Rosenthal di tengah pusat kota Cincinnati, Ohio. Tempat seluas 85.000 kaki persegi (7900 meter persegi) ini dibuka pada tahun 2003 dan merupakan museum Amerika pertama yang dirancang oleh seorang perempuan.

Pada tahun 2010, desain Zaha yang berani dan imajinatif untuk museum seni dan arsitektur kontemporer, MAXXI, di Roma membuatnya mendapatkan Penghargaan Stirling Institute of British Architects (RIBA) dari Royal untuk bangunan terbaik oleh arsitek Inggris yang telah diselesaikan.

Dia memenangkan Penghargaan Strirling kedua pada tahun berikutnya untuk struktur yang dia rencanakan untuk Evelyn Grace Academy, sebuah sekolah menengah di London.

Desain bergelombang rancangan Zaha untuk Heydar Aliyev Centre, sebuah pusat budaya yang dibuka pada 2012 di Baku, Azerbaijan, memenangkan Desain Museum London tahun 2014. Dia adalah perempuan pertama yang mendapatkan penghargaan itu, yang menilai desain dalam arsitektur, furnitur, mode, grafik, produk, dan transportasi.

Karya-karyanya yang terkenal lainnya termasuk London Aquatics Centre yang dibangun untuk Olimpiade 2012, Eli dan Edythe Broad Art Museum, yang dibuka pada 2012 di Michigan State University, Lansing Timur, Michigan, dan Menara Inovasi Jockey Club (2014) untuk Universitas Politeknik Hong Kong.

Kontribusi Zaha yang luar biasa untuk profesi arsitektur telah diakui oleh lembaga–lembaga profesional, akademis, dan masyarakat di seluruh dunia termasuk daftar Forbes tentang “Perempuan Paling Tangguh di Dunia” dan Asosiasi Seni Jepang membersembahkannya dengan “Praemium Imperiale”. Zaha Hadid meninggal pada 31 Maret 2016.


Baca juga artikel terkait HARI PEREMPUAN SEDUNIA atau tulisan menarik lainnya Adrian Samudro
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Adrian Samudro
Editor: Dipna Videlia Putsanra