Hari Kanker Sedunia 2019: Cara Mengatasi Trauma Karena Kanker

Oleh: Febriansyah - 4 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Diagnosis kanker bisa menjadi pengalaman traumatis. Ia dapat meninggalkan jejak seumur hidup dan abadi pada seseorang.
tirto.id - Hari kanker sedunia atau World Cancer Day diperingati setiap 4 Februari. Berdasarkan data Globocan 2018, sebanyak 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia terserang kanker.

Pengobatan dan upaya deteksi dini kanker telah banyak diusahakan. Penyakit kanker bukan hanya melahirkan sakit di tubuh mereka, namun juga memicu berbagai reaksi dan perubahan pikiran dan jiwa.

Diagnosis kanker bisa menjadi pengalaman traumatis. Ia dapat meninggalkan jejak seumur hidup dan abadi pada seseorang.

Trauma datang dalam berbagai bentuk dan ukuran, bisa fisik, emosional, akut, berkelanjutan atau kombinasi dari semua itu.

Apa pun penyebabnya, pengalaman traumatis dapat meninggalkan jejak abadi pada seseorang. Jika tidak ditangani, pengalaman traumatis dapat menyebabkan masalah serius, hingga hal terberatnya dapat mengubah karakter seseorang.

Biasanya trauma, terutama jika berkepanjangan atau di awal kehidupan, dapat mempengaruhi seseorang menjadi lebih buruk jika tidak ditangani.

Dalam bukunya, The Bodys the Score, Bessel van der Kolk, meneliti lebih lanjut bagaimana fisik kita dipengaruhi oleh peristiwa traumatis.

“Trauma telah merampas perasaan Anda yang membuat Anda bertanggung jawab atas diri sendiri. Emosi yang muncul selama trauma dialami sebagai reaksi fisik yang mengganggu di masa sekarang. Untuk mendapatkan kembali kendali atas diri Anda, Anda perlu meninjau kembali trauma dan menemukan cara mengatasi perasaan kewalahan oleh sensasi dan emosi masa lalu itu," jelas van der Kolk, dikutip Psychology Today.

Menurut Van der Kolk, kesadaran diri yang tinggi merupakan pusat pemulihan setelah trauma. Mencari komunitas, terapis, teman atau anggota keluarga, kelompok pendukung orang lain yang pernah mengalami trauma serupa adalah langkah penting kedua dalam penyembuhan.

"Memiliki jaringan pendukung yang baik merupakan satu-satunya perlindungan paling kuat agar tidak menjadi trauma. Untuk pulih, pikiran, tubuh, dan otak perlu diyakinkan bahwa aman untuk dilepaskan," kata van der Kolk.


Infografik Kanker
undefined


Upaya menemukan komunitas perempuan yang memahami secara dekat terkait trauma kanker adalah langkah penting untuk perubahan bagi pasien kanker.

“Kanker lebih dari sekadar kondisi fisik, kanker membekas pada jiwa Anda. Berhubungan dengan komunitas perempuan lain yang seusia saya dan memiliki kisah serupa: muda, didiagnosis kanker payudara, dan mempunyai anak, dapat membantu saya menemukan empati, validasi, kebijaksanaan bersama, dan akhirnya, kekuatan,” cerita Jenny Leyh, salah satu survivor kanker seperti dilansir Phsycology Today.

Jenny menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Young Survival Coalition (YSC) di Florida dan menghadiri program dan lokakarya yang mengeksplorasi terobosan baru dalam penelitian kanker payudara, nutrisi, ketahanan hidup, yoga, meditasi, dan keintiman seksual setelah kanker.

“Saya menemukan sesi-sesi menari. Ini adalah waktu yang kami habiskan untuk bersosialisasi dengan wanita-wanita lain seperti tertawa, berbagi cerita. Ini adalah aspek yang paling menyegarkan di akhir pekan,” tulis Jenny.

Apa yang dilakukan oleh Jenny atau solusi yang diberikan oleh van der Kolk tentang menemukan komunitas dan bercerita dalam mengatasi trauma karena kanker bisa saja menenangkan pasien. Tetapi pengobatan secara medis harus tetap dilakukan dan para ilmuwan tidak boleh berhenti untuk menemukan solusi terkait pengobatan kanker.

Penelitian yang diterbitkan The England Journal of Medicine menjelaskan bahwa terapi kelompok suportif-ekspresif kanker belum bisa memperpanjang kelangsungan hidup mereka.

Dalam uji coba multicenter, para peneliti secara acak menunjuk 235 wanita dengan kanker payudara stadium lanjut (metastasis) yang diharapkan untuk bertahan hidup setidaknya tiga bulan.

Para peneliti membandingkan kelompok intervensi yang berpartisipasi dalam terapi kelompok ekspresif mingguan sebanyak 158 wanita dan kelompok yang tidak menerima intervensi semacam itu sebanyak 77 wanita.

Lalu semua wanita yang menjadi peserta diberi materi pendidikan dan perawatan medis atau psikososial apa saja yang dianggap perlu.

Hasilnya, untuk kelompok yang mendapat intervensi psikologis tidak memperpanjang kelangsungan hidup. Peneliti mencatat kelangsungan hidup rata-rata, 17,9 bulan pada kelompok intervensi dan 17,6 bulan pada kelompok biasa.

“Terapi kelompok suportif-ekspresif tidak memperpanjang kelangsungan hidup pada wanita dengan kanker payudara metastasis. Namun, tindakan ini mampu meningkatkan suasana hati dan menekan rasa sakit, terutama pada wanita yang awalnya lebih depresi,” tulis Goodwin PJ dalam penelitian tersebut.


Baca juga artikel terkait HARI KANKER SEDUNIA atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani