Hari Ibu 2018

Hari Ibu, Mengenang sang Feminis Radikal: Syarifah Sabaroedin

Oleh: Yulia Dwi Andriyanti - 22 Desember 2018
Dibaca Normal 6 menit
Syarifah, menurut Debra Yatim, adalah feminis radikal. Ia menentang borjuasi dalam masyarakat, juga pernikahan.
tirto.id - Hari ini adalah hari ibu. Saya mengingat pada 2017 membaca buku Syarifah Sabaroedin berjudul Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi, karya bermutu tapi tak banyak informasi soal siapa dia. Lewat mesin pencari, saya hanya menemukan berita peluncuran buku tersebut pada 2006.

Ia terbit di tengah protes berbagai kelompok masyarakat terhadap Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Syarifah membahas pornografi dari sudut pandang feminis. Pornografi, menurutnya, adalah objektifikasi sekaligus perendahan status moral perempuan. Pornografi tak lepas dari ekonomi-politik tubuh dimana kapitalisme dan patriarki bersama-sama menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditi pasar.

Dua tahun selepas bukunya terbit, pada 1 Oktober 2008, Syarifah meninggal dunia dalam usia 59 tahun.

Tidak mudah mencari informasi tentang Syarifah Sabaroedin. Ketika menghubungi Departemen Kriminologi UI, data Syarifah Sabaroedin tidak tersedia di Sistem Akademik UI dan Sistem Informasi Kepegawaian (SIPEG). Tulisan-tulisan Syarifah juga sudah tidak ditemukan di Perpustakaan Departemen Kriminologi UI, terutama paska Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI terbakar di 2014.

Dari kawan-kawannya, saya menemukan bahwa Syarifah Sabaroedin lahir di Jakarta pada 1949. Dia selesai pendidikan S1 Kriminologi dan S2 Filsafat di Universitas Indonesia (UI). Lalu, menempuh studi feminisme di Rutgers, The State University of New Jersey serta St. Scholastica di Manila. Ia melakukan studi banding sistem penjara perempuan di Indonesia dan Belanda awal 1980an. Buku Hak-Hak Reproduksi Perempuan Yang Terpasung merupakan buku pertama Syarifah, yang ditulis bersama Adrina, Kristi Purwandari dan NKE Triwijati pada 1998.

Akhir November lalu, saya wawancarai dua temannya: Debra Yatim dan Ratna Batara Munti. Nama pertama adalah rekan Syarifah sesama pendiri Kalyanamitra pada awal 1980an. Nama kedua adalah kolega Syarifah di Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) sejak 1990an.

Wawancara dengan Debra Yatim


Bisakah Anda bercerita tentang siapa Syarifah Sabaroedin?

Panggilannya Ifa, namanya feminin sekali. Dia lebih tua dari kita semua (para pendiri Kalyanamitra). Waktu itu saya umur 26, Ifa udah 37 tahun. Dia perokok berat. Dia sosok yang tahu siapa dirinya. Ia berwibawa dan sangat menikmati ke-kriminologi-annya. Hobinya pergi malam-malam ke daerah pekerja seks, ngobrol dengan mereka, yang untuk saya itu adalah hal mengerikan.

Saat itu saya masih cewek Jakarta banget yang sangat terproteksi di tengah kelas menengahan. Ifa membukakan saya dari itu. Ifa sering nongkrong di rumah tiap malam. Dengan mobil Alfa Romeo hijau, dia cerita mulai dari ngomong dengan roh halus nongol di mobilnya hingga pergi ke daerah Senen, ngobrol dengan para germo dan pekerja seks. Sebagai dosen kriminologi, dia memang kelas menengah tapi menikmati pergi ke kantong-kantong kehidupan yang gelap.

Di hari pertama semester saat di kampusnya, orang selalu sangka Ifa laki-laki. Nah, itu yang ditunggu Ifa.

Dia tanya, “Ini jam tangan laki-laki atau perempuan?” Sambil dia tunjukkan jam tangan Rado yang dengan tiga subdial.
Ya, pasti jawabnya jam tangan laki.

Lalu Ifa jawab, “Tidak, yang pake perempuan. Jadi ini jam tangan perempuan.”

Kalau mahasiswanya sudah terbiasa dengan Ifa, dia akan ngetes lagi: “Ini celana laki atau perempuan?”

Karena orang sudah mulai tahu kan, mereka lalu bilang celana perempuan.

Ifa jawab lagi: “Bukan. Ini saya beli di Matahari Department Store di man’s department.”

Lalu semua orang di kelas tertawa.

Ifa cukuran di barbershop, pake gesper, dan hem ‘laki-laki’ yang dimasukkan ke dalam celananya.

Tapi, suara Ifa sangat feminin, kayak Bu Toety Heraty, melantun dan ramah. Beda jauh dengan penampilannya. Dia tidak memenuhi ekspektasi masyarakat. Ifa orang yang sangat mengejutkan.

Bagaimana feminisme diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian di tengah ideologi “Ibuisme Negara Orde Baru”?

Waktu saya dan Mas Dodo menikah, Ifa kasih saya kotak rokok Bentoel Biru Sejati. Isinya gembok hitam untuk kado pernikahan.

Saya tau Ifa kasih pesan: “Ketika lo mengikatkan diri ke pernikahan, lo lagi menggembok diri, memasung diri.”
Dua orang pendiri Kalyanamitra lainnya menikah. Lalu Ifa bilang sambil berkelakar: “Runtuhlah nih Kalyanamitra.”
Saat itu kan feminisme dibagi dalam beberapa aliran. Ada yang radikal kayak Ifa, menentang perkawinan dan segala borjuasi di masyarakat dan saya moderat.

Ketika Kalyanamitra berdiri tahun 1985, perempuan hadir sekedar memenuhi kepentingan Orde Baru. Perempuan di-Kowani-kan. Menurut Ifa, kita harusnya bawa kendaraan (organisasi) ini lebih nge-gas lagi. Dan kita tidak.

Apakah Kalyanamitra menyatakan diri sebagai organisasi feminis saat itu?

Kita tidak pakai nama organisasi perempuan, kita pakai organisasi feminis. Itu inti Kalyanamitra. Kita bisa habiskan tiga-empat hari ke Puncak untuk ngomongin konsep feminisme, lalu bagaimana bilang tidak untuk Orde Baru.
Pada 1992, Soeharto bilang Indonesia berhasil menekan jumlah pertumbuhan penduduk lewat BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) dengan dua anak cukup. Kalyanamitra bikin penelitian untuk menafikan apa yang Pak Harto bilang.

Sita Aripurnami (pendiri Kalyanamitra yang lain) sampaikan hasil penelitian di hadapan PBB yang menunjukkan bagaimana Orde Baru mewujudkan cita-cita dua anak cukup. Kita ambil sampel desa di Kebumen dimana perempuan dipanggil kepala desa ke kantor lalu disuruh masukin IUD (KB spiral). Perempuan dianggap barang, enggak ditanya dulu. Itu kan pola pemaksaan. Melihat ibu itu mesin, demi menghentikan laju pertumbuhan penduduk.

Saat Kalyanamitra sudah pindah dari Pasar Induk Kramat Jati ke Sebret, sekitar 1988, Syarifah sudah enggak datang lagi. dia menarik diri perlahan. Dia berharap kita bisa jadi femrad, bukan hanya moderat.

Walau begitu, Syarifah membongkar pikiran saya yang sangat kelas menengah dan berpikiran aman-aman aja. Dia bisa menertawakan kita, cewek-cewek ibukota yang sangat terpenuhi kebutuhannya, lalu menunjukkan bahwa kehidupan feminisme harus merangkul segala permutasinya, termasuk tentang lesbianisme, sebuah wacana yang terlalu besar untuk kita abaikan.

Pengalaman apa soal lesbian di Kalyanamitra yang dia lakukan?

Suatu saat Ifa hadirkan tiga teman ke kantor. Tiga temannya menuliskan di kartu nama mereka: lesbian. Trus saya nanya kenapa harus nulis lesbian? Kan ini bikin tembok?

Lalu teman Ifa menjawab: “Lho, tembok itu kan harus saya runtuhkan, maka saya tulis disini.”

Saya diskusi panjang dengan teman Ifa dan Ifa dari jauh tertawa melihat saya. Syarifah adalah teman yang saya enggak akan dapat lagi. Syarifah enggak mungkin kita ajak ngomong tentang berdandan. Dia juga selalu bicara tentang hal besar dan berat. Truly intellectual. Setiap kali dia bahas sesuatu, dia langsung kaitkan dengan konsep pemikiran. Saya dapatkan ini dari dia sebagai teman, sebagai orang yang selalu saling datang ke rumah.

Paling penting, istilah “pelecehan seksual” yang menelurkan adalah Syarifah tahun 1992. Itu kontribusinya terhadap wacana feminisme.

Wawancara dengan Ratna Batara Munti


Siapa itu Syarifah Sabaroedin?

Dia pendiri dan aktivis Kalyanamitra awal 1980an. Pada era tersebut, perempuan hadir berkontribusi pada pemikiran. Ada Kalyanamitra, Solidaritas Perempuan dan menyusul LBH APIK.

Saya banyak belajar dari aktivis perempuan, termasuk dari senior Kalyanamitra, pakar dalam isu seksualitas adalah Syarifah.
Pelatihan seksualitas yang diadakan APIK untuk para penyintas, mulai dari membangun kesadaran tentang situasi korban, yakni kebertubuhan dan seksualitas perempuan. Kekerasan seksual itu menyasar seksualitas perempuan. Otonomi tubuh dan kontrol terhadap tubuh perempuan, konstruksi seksualitas di masyarakat patriarki merupakan konsep-konsep yang perlu dikuasai untuk benar-benar memahami kekerasan terhadap perempuan. Kami banyak belajar dari Mbak Ifa.

Memang bagaimana Syarifah Sabaroedin menjelaskan seksualitas?

Saya dan Bu Nursyahbani (Katjasungkana) belajar dari Mbak Ifa. Saat itu, banyak pelatihan yang hanya fokus pada gender, tapi tidak menukik ke seksualitas. Padahal, ini sangat penting. Misalnya maskulinitas. Laki-laki diinternalisasi bahwa wajar jika mereka bersikap agresif yang akhirnya membuat mereka permisif terhadap kekerasan seksual. Perempuanlah yang disalahkan. Akar masalah tentang konstruksi seksualitas yang harus diintervensi agar tidak dilanggengkan kebijakan. Misalnya, perempuan enggak boleh keluar malam hari, enggak boleh pakai baju terbuka. Penting berpikir bahwa laki-laki juga harus mengontrol tubuhnya. Ini semua adalah proses pembelajaran, bukan kodrat.”

Pada masa itu enggak ada yang bicara tentang seksualitas?”

Yang paling kenceng Mbak Ifa. Kalau lihat di aliran-aliran feminis, feminis liberal bicara tentang perlindungan bagi perempuan, harus ada aturan hukum yang menjamin hak perempuan. Hak perempuan dan laki-laki harusnya sama. Mbak Ifa ini feminis radikal, lebih mengakar.

Ia bicara tentang akar ketertindasan perempuan. Dan akar masalah itu bersumber dari konstruksi seksualitas yang membuat hak-hak perempuan menjadi terabaikan. Kekerasan terhadap perempuan itu adalah kontrol terhadap seksualitas perempuan. Ini kerap dilakukan lewat pelembagaan heteroseksualitas, misalnya perempuan lesbian diperkosa itu sesuatu yang wajar karena perempuan itu harus hetero. Pelembagaan heteroseksual adalah cerminan dari kekerasan terhadap perempuan.

Bagaimana kerja-kerja antara LBH APIK dengan Syarifah Sabaroedin dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan?

Tahun 1997, saya belajar tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan para feminis di Asia Tenggara di Filipina. Saya pergi bersama Mbak Ifa. Setelah itu, saya menyiapkan kajian terhadap RUU PKDRT bersama Mbak Ifa.

Saat itu, Mbak Ifa sudah tak di Kalyanamitra tapi Lembaga bernama SPEaK (Serikat Perempuan anti Kekerasan). Perjuangan sampai buat UU, tak lepas dari kontribusi Mbak Ifa. Ia turut merancang pokok-pokok masalah dan cakupan persoalan dari RUU PKDRT. Misalnya tentang hierarchy of silence, yakni perempuan tidak mudah melaporkan kekerasan yang terjadi karena dilema yang muncul yang disebabkan oleh relasi suami-istri yang timpang. Viktimologi juga termasuk sumbangan Mbak Ifa di kampus. Dia menggagas dan mengajar mata kuliah kejahatan terhadap perempuan.

Bagaimana dengan buku Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi?

Itu buku yang monumental. Tahun 2005 itu dia udah sakit-sakit ya. Dia kena gula, tapi dia enggak mau diamputasi. Buku itu menjelang dia meninggal. Itu kontribusi Mbak Ifa tentang konsep pornografi. Waktu itu kita mau intervensi RUU Pornografi. Kalau orang lain melihat bahwa RUU ini membatasi ekspresi perempuan, maka kami melihat bahwa pornografi adalah sebenarnya kekerasan terhadap perempuan.

Pornografi tak hanya dilihat sebagai pembatasan ekspresi, tapi juga sebagai kekerasan karena media juga mengeksploitasi, mengobjektifikasi dan menjadikan perempuan sebagai komoditas. Gambaran perempuan dikomodifikasi seolah-olah perempuan siap dipenetrasi dan menjadi pelayan seksual.

Kita juga bikin kajian mengkritisi RUU APP dari perspektif perempuan dengan menempatkan pornografi sebagai isu kekerasan terhadap perempuan dan anak dan menolak dampaknya karena ini memicu kekerasan terhadap anak karena anak belajar seksualitas dari pornografi, bukan diajarkan dengan pendidikan yang benar tapi lewat pornografi. Dan ini adalah kekerasan.

Pornografi itu adalah ketika perempuan diobjektifikasi dan ketika perempuan mengalami kesakitan, maka kesakitan tersebut dieksploitasi sebagai sesuatu yang erotis. Termasuk menggambarkan perkosaan sebagai sesuatu yang erotis, itu pornografi. Dan tidak bisa dikonsumsi baik untuk publik maupun privat karena itu mendorong orang-orang melakukan kekerasan.

Kontribusi pemikiran bahwa pornografi adalah kekerasan terhadap perempuan itu adalah Mbak Ifa. Saya belajar ideologi falosentris juga dari Mbak Ifa. Misalnya korban perkosaan dianggap dia menikmati hubungan seksual saat dipenetrasi, padahal itu adalah kekerasan.

Apakah Syarifah Sabaroedin bicara tentang seksualitas non-heteroseksual saat itu?

Iya, lewat Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) di sektor 15, yakni sektor Lesbian Biseksual dan Transgender (LBT). Banyak kasus yang dihadapi LBT, seperti dikeluarkan dari kerjaan, diusir dan dianiaya keluarga, dipaksa coming out, dan tidak bisa akses kesehatan.

Dalam keseharian, Syarifah Sabaroedin itu orang yang seperti apa?

Dia itu inventor, suka mencari dan menemukan. Menyenangi kebebasan untuk berkreasi. Jika ada orang yang pikirannya bertentangan dengan dia, tidak langsung merespon. Dia orang yang sangat tenang, tidak reaksioner, tapi sangat telak saat bicara. Bahasanya kritis tapi sambil berkelakar sehingga kesannya tidak emosional.

Kalau lawan bicaranya enggak setuju, dia tidak akan menyudutkan atau meremehkan. Dia berani, namun juga bisa menahan diri. Suka senyum, suka ketawa. Dia bisa mengemas bahasa yang sukar menjadi sederhana dan menyampaikan dengan sangat santai.

Memang dia sangat akademis, teori dan referensinya banyak sehingga kuat dari segi pemikiran. Penampilannya tomboi. Dia kharismatik dan profesional. Dia juga rajin menulis. Tulisan dan omongannya selalu menggunakan referensi. Ketika sedang menulis, dia sangat konsen. Enggak mau diganggu. Dia bukan seperti aktivis biasa. Dia punya posisi yang kuat sebagai akademisi dan pakar sebagai kriminolog. Dia dekat dengan keluarga. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya laki-laki dan dia lebih banyak diandalkan karena lebih tua.

Sebelum dia meninggal, apakah Anda sempat mengobrol?

Sempat. Ada pesan: bagaimana tulisannya bisa dimanfaatkan lewat perpustakaan. Kalyanamitra dan LBH APIK yang diharapkan bisa meneruskan pemikirannya. Dia ingin ada perpustakaan Syarifah supaya pemikirannya tetap bisa hidup dan dipelajari.

Keteladanannya yang penting: dia enggak sembarangan ngomong. Saat mau ngomong, kita harus siap dengan konsep dan referensi. Rajin membaca agar referensi banyak. Aktivis harusnya membangun kegiatan berdasarkan pada konsep sehingga antara aksi dan teori menjadi siklus. Implementasi dan praktik di lapangan berkontribusi pada perbaikan teori, namun juga perlu membaca konsep yang sudah dibuat oleh para pemikir sebelumnya.

Jangan jadi aktivis pemadam kebakaran. Tradisi kajian dan analisis kritis harus jadi teladan bagi kita. Harus membaca. Para aktivis kadang enggak membaca lagi teori-teori feminis, padahal pemikiran-pemikiran itu banyak menyumbang terhadap apa yang terjadi saat ini. Kita tinggal menikmati dan menyuarakan saja tapi jadi kurang kuat karena kita tidak membaca basisnya.

Baca juga artikel terkait HARI IBU atau tulisan menarik lainnya Yulia Dwi Andriyanti
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yulia Dwi Andriyanti
Penulis: Yulia Dwi Andriyanti
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight