Hari Ibu Bermula dari Dalem Jayadipuran Yogyakarta

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 21 Desember 2017
Dibaca Normal 1 menit
Kongres Perempuan I dilaksanakan di Pendapa Dalem Jayadipuran, pada 22 Desember-25 Desember 1928.
tirto.id - Hari ini, 89 tahun yang lalu, sekitar seribu orang, tak hanya perempuan, berkumpul di rumah jawa klasik berbentuk limasan yang dikenal dengan nama Dalem Jayadipuran. Mereka menghadiri pembukaan resmi Kongres Perempuan pertama pada 22 Desember 1928. Kongres ini diadakan di masa itu untuk melanjutkan perjuangan para aktivis perempuan di tahun 1920-an.

Dalem Jayadipuran mulanya bernama Dalem Dipowinatan sesuai dengan nama pemiliknya KRT Dipowinoto. Setelah Dipowinoto meninggal, Sultan Hamengkubuwono VII kemudian memberikan rumah itu kepada menantunya, KRT Jayadipura, seorang seniman serba bisa. Sejak saat itu, bangunan jawa klasik berbentuk limasan ini diberi nama Dalem Jayadipuran.

Kongres Perempuan dilaksanakan di pendapa Dalem Jayadipuran yang bangunannya berbentuk limasan pokok, ditambah dengan bangunan emper yang bentuknya panggangpe (rumah persegi panjang).

Tambahan bangunan ini terdapat pada semua sisi bangunan atau keliling bangunan. Pendapa ini terbuka tanpa dinding, mempunyai 16 tiang, yang 4 ditengah berfungsi sebagai saka guru atau tiang utama. Begitu pemaparan Darto Harnoko dalam buku Rumah Kebangsaan, Dalem Jayadipuran Periode 1900 - 2014 (2014).

Di pendapa itulah para perempuan dari sejumlah organisasi menyampaikan pidato mereka. Seperti ditulis Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang (2007), ada 600 perempuan dari sekitar 22 organisasi yang mengirim utusan untuk hadir di kongres tersebut.

Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya menyampaikan pidatonya tentang derajat dan harga diri perempuan Jawa. Lalu disusul Siti Moendji'ah dengan “Derajat Perempuan” dan istri Ki Hajar Dewantara, Nyi Hajar Dewantara yang membicarakan soal adab perempuan. Ada juga pembicara yang menyampaikan topik soal perkawinan dan perceraian.

Selain pidato soal perkawinan anak, ada pidato berjudul “Iboe” yang dibacakan Djami dari Darmo Laksmi. Di awal pidatonya, ia menceritakan pengalamannya masa kecilnya yang dipandang rendah karena ia anak perempuan.

Kongres yang berlangsung hingga 25 Desember 1928 ini kemudian dianggap penting untuk mengenang semangat perempuan juga ibu-ibu dalam pergerakan nasional demi perbaikan kehidupan perempuan era kolonial.

Maka, pada 22 Desember 1953, dalam peringatan kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953, Presiden Sukarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Pendapa Dalem Jayadipuran tak hanya menjadi saksi bisu lahirnya Hari Ibu. Rumah yang terletak di Jalan Brigjen Katamso 139 Yogyakarta ini dipakai sebagai tempat pelaksanaan Kongres Jong Java (1919, 1923, 1924, 1928), Rapat Umum Partai Nasional Indonesia, Kongres Jong Islamieten Bond, serta Kongres Serikat Pemuda.

Di sebelah selatan pendapa, terdapat satu bangunan yang berbentuk panggangpe memanjang dari timur ke barat yang dahulunya digunakan untuk sekolah bernama standard school, sekolah untuk pribumi bangsawan. Selain bangunan standard school, di luar bangunan induk ada satu bangunan lagi yang terletak di sisi pojok timur, yang saat ini digunakan sebagai perpustakaan.


Rumah ini sempat beberapa kali berganti kepemilikan, sampai akhirnya bangunan beserta tanahnya dimiliki oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan difungsikan sebagai Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta (BPNB).

Dalem Jayadipuran pernah direhabilitasi pada 1985 oleh PT Sri Krishna Manggala sebagai pelaksana rehab. Rehab dalem ini dilakukan dengan tanpa mengubah bentuk asli, meskipun ada penggantian bahan namun semua disesuaikan dengan aslinya terutama pada ornamen ragam hias.

Kondisi bangunan sampai saat ini tampak terawat dan bersih. Di sisi utara pendapa dalem, terdapat foto pemilik rumah dahulue, KRT Jayadipura (1878-1938), foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Di sisi timur, terdapat prasasti Kongres Perempuan Pertama yang ditandatangani oleh Ketua Kongres Wanita Indonesia, Enny Busiri pada 7 November 1995.


Pendapa Dalem, yang tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya, saat ini dimanfaatkan untuk kantor, dan untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan seperti seminar tentang kebudayaan, nasionalisme, pentas-pentas tari dan sebagainya. Setiap tahun, untuk memperingati Hari Ibu, pegawai BPNB melakukan upacara di halaman balai.

Baca juga artikel terkait HARI IBU atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight