Hari Guru Nasional & Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Oleh: Iswara N Raditya - 25 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
Hari Guru Nasional yang diperingati tanggal 25 November tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.
tirto.id - Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November tentunya tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara. Gelar Bapak Pendidikan Nasional disematkan kepada pendiri Taman Siswa ini. Ki Hajar Dewantara juga merupakan Menteri Pendidikan RI yang pertama.

Ki Hajar Dewantara bernama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat (ejaan lama: Soewardi Soerjaningrat). Ia lahir pada 2 Mei 1889 dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakulaman di Yogyakarta yang merupakan salah satu kerajaan pecahan Dinasti Mataram selain Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran.

Semasa muda, Suwardi dikenal sebagai aktivis sekaligus jurnalis pergerakan nasional pemberani. Ia sempat bergabung dengan Boedi Oetomo (BO) di Batavia (Jakarta) pada 20 Mei 1908, kemudian keluar dan mendirikan Indische Partij (IP) bersama Cipto Mangunkusumo serta Ernest Douwes Dekker atau Tiga Serangkai pada 25 Desember 1912.

Dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern (1986) karya Abdurrachman Surjomihardjo, Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda sejak 1913 karena tulisan Suwardi yang dianggap menghina pemerintah.

Di Belanda, ia bergabung dengan Indische Vereeniging (IV), organisasi pelajar Indonesia di Belanda, serta terus menulis di media massa. Ia juga mendirikan kantor berita dengan nama Indonesische Persbureau di Den Haag. Inilah untuk pertamakalinya, kata ”Indonesia” dipakai di kancah internasional.

Suwardi dipulangkan ke tanah air pada 6 September 1919. “Kini, saya telah memperoleh kembali kebebasan saya tanpa suatu janji atau pernyataan apapun juga dari saya. Ini berarti kemenangan bagi saya,” tulis Suwardi mengenai kepulangannya.


Bapak Pendidikan Nasional

Di tanah air, Suwardi masih berurusan dengan aparat kolonial karena aktivitas dan tulisan-tulisannya yang berani. Beberapa kali pula ia harus mendekam di penjara lantaran sepak-terjangnya itu.

Lantaran berbagai hal tersebut, Suwardi merasa kurang tepat untuk terus berkecimpung di ranah politik. Ia merasa tidak bisa menahan emosi, sering lepas kendali, dan apa yang dilakukannya tentu saja bakal berdampak kepada istri dan anak-anaknya.

Maka, atas saran istrinya, Sutartinah, dan setelah melalui pertimbangan matang, Suwardi memutuskan akan berjuang dengan jalan lain, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa lewat pendidikan.

Di Yogyakarta, pada 3 Juli 1922, Suwardi mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Taman Siswa. Dikutip dari Perjalanan Pendidikan di Tanah Air (2005) karya Najamuddin, cita-cita Taman Siswa adalah untuk membahagiakan bangsa dan manusia serta merupakan panggilan nurani untuk ikut memajukan kehidupan bangsa.


Suwardi menawarkan gagasan untuk pendidikan nasional. Jadilah Taman Siswa sebagai tonggak awal kebangkitan masyarakat terpelajar bumiputera yang mempelopori kebangkitan rakyat melawan kolonialisme.

Lantas, kapan Suwardi Suryaningrat mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara?

Bambang Sokawati Dewantara dalam Ki Hajar Dewantara Ayahku (1989) mengungkapkan, pengubahan nama tersebut terjadi pada 3 Februari 1928. Istri Suwardi, Sutartinah, juga mengikuti jejak suaminya dengan memakai nama Nyi Hajar Dewantara.

Kendati beralih haluan dari politik radikal ke ranah pengajaran, bukan berarti Ki Hajar Dewantara jadi lembek. Taman Siswa yang didirikannya adalah lembaga pendidikan independen, menolak mentah-mentah subsidi dari pemerintah kolonial.

Ki Hajar Dewantara menentang setiap kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dianggapnya merugikan pendidikan untuk rakyat. Ketika pemerintah kolonial mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1932, misalnya, Ki Hajar Dewantara tetap menggerakkan Taman Siswa.

Ordonansi Sekolah Liar mengatur bahwa setiap lembaga pendidikan harus mendapatkan izin dari pemerintah kolonial. Jika tidak, maka pemerintah berhak membubarkan sekolah atau lembaga pendidikan itu.

Namun, Taman Siswa jalan terus bahkan justru berkembang pesat. Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas: Colonial Practice in the Netherlands Indies 1900-1942 (2006) mencatat, satu dekade setelah penerapan peraturan tersebut, Taman Siswa sudah mendirikan 166 sekolah yang memiliki sekitar 11.000 murid.


Konsep pendidikan yang dirumuskan Ki Hajar Dewantara dan dipraktikkan melalui Taman Siswa diarahkan pada tujuan nasionalisme, semangat perjuangan, dan kerakyatan menghadapi kolonialisme.

Cita-cita kemerdekaan dijelaskan untuk manusia merdeka lahir batinnya, hidup selamat dan bahagia, serta membangun masyarakat tertib dan damai. Itulah dasar pikiran pendidikan nasional yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara yang diaplikasikan dengan mendirikan Taman Siswa.

Setelah Indonesia merdeka, berkat segenap sumbangsihnya bagi kepentingan pendidikan nasional, maka oleh Sukarno selaku Presiden RI pertama, Ki Hajar Dewantara ditunjuk untuk menjabat sebagai Menteri Pengajaran sejak 2 September 1945.

Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta pada 2 April 1959 dalam usia 70 tahun. Atas jasa-jasanya, pemerintah RI menetapkannya sebagai pahlawan nasional serta menyematkan gelar Bapak Pendidikan Nasional. Hari kelahiran Ki Hajar Dewantara pun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.


Baca juga artikel terkait HARI GURU NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight