Hari Bumi (Earth Day) 22 April Jadi Google Doodle Hari Ini

Oleh: Yulaika Ramadhani - 22 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Google Doodle menghadirkan satu satwa spesies burung laut Albatros kelana pada peringatan Hari Bumi tahun 2019 ini
tirto.id - Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati setiap tanggal 22 April jadi Google Doodle hari ini, Senin (22/4/2019).

Pada peringatan Hari Bumi tahun 2019 ini, Google Doodle menghadirkan satu satwa spesies burung laut Albatros kelana (Diomedea exulans).

Albatros kelana merupakan spesies burung laut yang memiliki ukuran besar dari keluarga Diomedeidae.

Hari Bumi, seperti dilansir dari History, pertama kali dikenal pada 1970, yang didedikasikan sebagai hari pendidikan tentang isu-isu lingkungan.

Hari Bumi, oleh sebagian masyarakat dunia biasanya diperpanjang menjadi Pekan Bumi. Selama satu minggu, masyarakat diajak untuk fokus memperhatikan isu lingkungan dan membuat gerakan yang mengubah kebiasaan merusak lingkungan.

Sebagaimana dikutip History, "Hari Bumi bisa terwujud karena respons spontan dari level akar rumput. Kami tidak punya waktu atau sumber daya untuk mengelola 20 miliar demonstran, ribuan sekolah dan komunitas lokal yang berpartisipasi. Itulah yang luar biasa dari Hari Bumi, ia mengorganisasikan dirinya sendiri."


Isu pencemaran lingkungan ini juga diangkat dalam buku karya Rachel Carson berjudul Silent Spring yang terbit pada 1962. Buku ini berkisah soal bahaya pestisida di perdesaan Amerika.

Beberapa tahun setelahnya, terjadi kebakaran besar di Sungai Cuyahoga, Cleveland yang disebabkan oleh pembuangan limbah kimia ke sungai. Beberapa peristiwa tersebut kemudian mendorong orang untuk melindungi sumber daya alam.

Pada 1969, mulai bermunculan aktivis peduli lingkungan yang fokus pada isu-isu pencemaran lingkungan berskala besar, seperti polusi udara yang disebabkan pabrik dan pembuangan limbah yang belum diatur secara ketat. Hanya sedikit masyarakat Amerika pada tahun itu yang mengenal istilah daur ulang.

Senator Gaylord Nelson, yang terpilih di Senat AS tahun 1962, bertekad untuk meyakinkan pemerintah bahwa planet bumi berada dalam bahaya. Pada 1969, Nelson kemudian menjadi salah satu orang yang mengembangkan gagasan Hari Bumi.

Nelson mengumumkan konsep Hari Bumi di sebuah konferensi pers di Seattle pada musim gugur 1969. Dennis Hayes, seorang aktivis muda yang pernah menjabat sebagai presiden mahasiswa di Universitas Stanford, terpilih sebagai koordinator nasional Hari Bumi.

Hayes bekerja bersama para relawan mahasiswa dan beberapa anggota staf dari kantor Senat Nelson untuk mengatur proyek Hari Bumi tersebut.

Selama tahun 1970-an, sejumlah undang-undang lingkungan disahkan, di antaranya UU Udara Bersih, UU Peningkatan Kualitas Air, UU Spesies Terancam Punah, UU Pengawasan Zat Beracun dan Pertambangan, serta UU Reklamasi.

Selain itu, pada Desember 1970 dibentuk Badan Perlindungan Lingkungan, yang bertugas melindungi kesehatan manusia dan menjaga lingkungan alam, termasuk udara, air dan tanah.


Sejak saat itu, peringatan Hari Bumi terus tumbuh dan dikenal dunia. Pada tahun 1990, Hari Bumi diikuti 200 juta orang di lebih dari 140 negara, menurut Earth Day Network (EDN), sebuah organisasi nirlaba yang mengkoordinasikan kegiatan Hari Bumi.

Menurut EDN, saat ini lebih dari 1 miliar orang terlibat dalam kegiatan Hari Bumi, yang menjadikannya "acara sosial terbesar di dunia."

Sebelumnya, Hari Bumi tahun 2018 lalu berfokus pada program "Mengakhiri Polusi Plastik".

EDN mendorong dibuatnya peraturan global soal penggunaan plastik sekali pakai. Menurut organisasi ini, plastik berdampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan dan mencemari air serta tanah.



Baca juga artikel terkait HARI BUMI atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight