Menuju konten utama

Hari AIDS Sedunia & Sejarah Hidup Luc Montagnier Penemu Virus HIV

Hari AIDS Sedunia diperingati setiap 1 Desember, berikut kisah hidup Luc Montagnier penemu virus HIV.

Hari AIDS Sedunia & Sejarah Hidup Luc Montagnier Penemu Virus HIV
Luc Montagnier berbicara selama wawancara di Paris. Senin, 6 Oktober 2008 (Foto AP / Jacques Brinon, File)

tirto.id - Tepat pada hari ini, Selasa, 1 Desember 2020 diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Seluruh masyarakat dunia menjadikan peringatan tahunan ini sebagai pengingat untuk lebih sadar soal AIDS. Sebagaimana dicatat Worldometers, setidaknya 42 juta orang telah terinfeksi penyakit ini.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau biasa disingkat AIDS, merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan tubuh lebih mudah terserang penyakit akibat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. Sebagaimana ditulis Healthline, belum ada obat yang bisa mematikan virus tersebut di dalam tubuh.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan pertama kali oleh ahli virologi asal Perancis bernama Luc Antoine Montagnier dan dokter asal Amerika, Robert Charles Gallo. Penemuan mereka berhasil mengetahui penyebab AIDS yang membuat pengidapnya tidak mampu melawan infeksi di dalam tubuh. Penemuan ini berhasil menjadikannya pemenang hadiah Nobel di bidang Kesehatan pada tahun 2008, demikian mengutip situs Nobel Prize.

Siapa Luc Montagnier?

Tertulis dalam laman Mayo Clinic, Montagnier lahir pada 18 Agustus 1932 di Chabris, Perancis Tengah. Sejak kecil, ia telah bercita-cita menjadi peneliti medis. Masa sekolahnya ia habiskan di College de Chatellerault yang berlokasi di Perancis Barat. Kemudian, ia belajar ilmu kedokteran dan sains di Universitas Poitiers dan Paris.

Pada tahun 1953, ia memperoleh diplome d’etudes superieures de sciences naturalle di Poitiers. Setelah menjalani studi di Poitiers dan Paris, ia dianugerahi license es sciences pada tahun 1960.

Tak hanya itu, Montagnier merupakan asisten fakultas sains di Paris dan mengajar fisiologi di Sorbonne. Pada tahun 1960, ia menerima gelar kedokterannya dari Sorbonne. Ia pun melanjutkan profesinya sebagai peneliti di Center National de la Recherche Scientifique, badan pusat yang bertanggung jawab atas promosi dan koordinasi penelitian berbagai bidang sains dan alokasi dana dan sumber daya untuk penelitian ilmiah.

Tak hanya itu, ia juga bekerja di Unit Riset Virus dari Dewan Riset Medis di Carshalton di London, Inggris dari tahun 1960 hingga 1963. Pada tahun 1963, Montagnier dan rekan kerjanya menemukan ganda pertama virus RNA untai tunggal. Montagnier juga pernah bekerja di Institut Virologi di Glasglow, Skotlandia, dan berhasil menemukan sel kanker dapat dibiakkan untuk mempelajari transformasi sel dan onkogen.

Ketika kembali ke Paris, ia bekerja sebagai direktur laboratorium di Institut du Radium yang kemudian dikenal sebagai Institut Curie. Ia bekerja di institute tersebut mulai tahun 1965 hingga 1972.

Pada tanggal 20 Mei 1983, Montagnier dan kawan-kawannya menerbitkan sebuah artikel yang dimuat di Science dengan judul “Isolation of a T-Lymphotropic Retrovirus from a Patient at Risk Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)”. Artikel tersebut ditulis berdasarkan penelitiannya yang mengidentifikasi retrovirus disebut limfadenopati. Virus ini disebut sebagai penyebab AIDS.

Di waktu yang bersamaan, Robert C. Gallo dari National Cancer Institute di Bethesda, Md, mengumumkan bahwa penyebab AIDS ditemukan dalam keluarga virus limfotropik sel-T manusia yang ditetapkan Gallo sebagai HTLV-III. Keduanya pun saling menggugat pada Desember 1985, hingga akhirnya selesai melalui mediasi, demikian sebagaimana dilansir Science Focus.

Perselisihan tersebut selesai pada tahun 1987, usai pemerintah AS dan Perancis menyatakan keduanya sebagai penemu bersama. Tim Gallo pun sempat dituduh telah menularkan virus dari tim Paris yang kemudian ditolah oleh penyelidik.

Argumen terus berlanjut hingga tahun 2002, ketika Gallo secara terbuka menyetujui tim Montagnier yang telah menemukan HIV. Meski demikian, kontroversi berlanjut lagi di tahun 2008 ketika hadiah Nobel diberikan untuk Montagnier dan kontribusi Gallo diabaikan.

Baca juga artikel terkait HIV atau tulisan lainnya dari Dinda Silviana Dewi

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto