Harga Porang: Tepung Capai Rp150 Ribu/kg, Nilai Ekspor Rp11 M/Tahun

Oleh: Yulaika Ramadhani - 18 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Peluang bisnis porang dinilai masih sangat terbuka mengingat kebutuhan untuk memenuhi ekspor sangat tinggi.
tirto.id - Porang adalah tanaman umbi-umbian yang sering kali disebut dengan iles-iles dan sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan diekspor sebagai bahan baku industri.

Meskipun demikian tanaman tersebut belum secara luas dibudidayakan, demikian sebagaimana dikutip dari laman Litbang Pertanian.

Manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan "jelly" yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain.) adalah tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Berapa Harga Tanaman Porang?

Harga ubi segar porang yang telah layak dipanen berkisar antara Rp3000-3.500/kg. Namun apabila ubi tersebut diproses dan dikeringkan menjadi bentuk keripik (chip), harganya menjadi Rp17.500-22.000/kg, sementara apabila telah diproses lebih lanjut menjadi tepung glukomannan, harganya meningkat menjadi sekitar Rp125.000-150.000/kg.

Peluang bisnis porang dinilai masih sangat terbuka mengingat kebutuhan untuk memenuhi ekspor ke China, Jepang, Australia, Sri Langka, Malaysia, Korea, New Zealand dan Italia mencapai 10.000 ton/tahun, sementara hingga saat ini baru dapat terpenuhi sekitar 4.000 ton/tahun sehingga masih kekurangan 6.000 ton/tahun.

Nilai Bisnis Tanaman Porang

Pertanian.go.id menulis, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Umbi porang saat ini masih banyak yang berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan. Ada beberapa sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung serta Maros.


Baca juga artikel terkait HARGA PORANG atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight