Menuju konten utama

Harga Pertalite Naik Rp200 Picu Konsumen Beralih ke Premium

Suahasil memaklumi jika ada pelanggan yang beralih dari Pertalite ke Premium.

Harga Pertalite Naik Rp200 Picu Konsumen Beralih ke Premium
Motor mengisi Pertalite di SPBU Kramat, Jakarta Pusat, Selasa (29/8). tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - Pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite sebesar Rp200 per liter per 24 Maret 2018. Sebelumnya harga Pertalite Rp7.600 per liter, kemudian naik menjadi Rp7.800 per liter.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Suahasil menyatakan, kenaikan harga Pertalite itu didorong oleh tren kenaikan harga minyak dunia yang sudah menyentuh 65 per barel dolar AS. Ia juga memaklumi jika ada pelanggan yang akan beralih dari Pertalite ke Premium.

"Nah, kami mengerti harga dunia meningkat, Pertalite meningkat. Kalau harga Pertalite meningkat jauh dari Premium ada kemungkinan orang pindah itu kami mengerti," ucap Suahasil dalam acara World Bank di Jakarta pada Selasa (27/3/2018).

Terkait dengan adanya kemungkinan meningkatnya pengguna Premium dan penyesuaian harga, ia menyatakan bahwa hal itu akan diatur oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Saya rasa sudah ditetapkan itu kan Kementerian ESDM memberikan perintah kepada Pertamina. Pertamina akan menyediakan sesuai yang diperintahkan pemerintah," ujarnya.

Suahasil menjelaskan, penentuan harga Pertalite merupakan kebijakan Pertamina yang disesuaikan melalui tren harga minyak mentah dunia dan permintaan masyarakat.

Ia mengatakan, Pertalite pun bukan merupakan jenis BBM yang disubsidi pemerintah, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No.191/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.

PT Pertamina (Persero) Tbk pada tahun ini mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk memasok Premium sebanyak 7,5 juta Kiloliter (KL). Angka ini menurun dari 2017 yang sebesar 12,5 juta KL, dengan pertimbangan realisasi penyaluran yang terserap hanya 7,04 juta KL.

Ia juga mengakui bahwa kenaikan harga Pertalite Rp200 per liter sejak Sabtu (24/3/2018) dapat mempengaruhi kenaikan inflasi pada bulan ini. Namun, dia tidak menyebutkan secara pasti kenaikannya.

"Yang namanya harga naik bisa ngaruh ke inflasi. Harga tomat naik aja bisa ngaruh ke inflasi," ujanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Februari 2018 secara tahun ke tahun sebesar 3,18 persen dengan kontribusi dari harga energi sebesar 7,4 persen. Bank Indonesia menargetkan inflasi untuk tahun ini dapat terjaga di kisaran 3,5 plus minus satu persen.

Inflasi Februari saja tercatat sebesar 0,17 persen dengan kontribusi dari harga energi sebesar 0,32 persen.

Sementara itu, Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira memprediksikan inflasi Maret dapat terkerek naik di kisaran 0,20 persen dan pada April meningkat lagi menjadi sebesar 0,23 persen.

Bhima menghimbau kepada pemerintah untuk segera bersiap menghadapi inflasi ganda menjelang Lebaran, yakni inflasi pangan akibat faktor seasonal dan harga BBM yang terus disesuaikan dengan tren kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga Pertalite dan Premium Terkini

Pemerintah menaikan harga Pertalite sebesar Rp200 per liter per 24 Maret 2018. Sebelumnya harga Pertalite Rp7.600 per liter, kemudian naik menjadi Rp7.800 per liter.

Untuk harga Pertalite masing-masing daerah memiliki keberagaman harga. Misalnya, di Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, harganya menjadi Rp7.800 per liter dari sebelumnya Rp7.600 per liter.

Sedangkan Provinsi Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Lampung, Jambi, Kepulauan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, harganya menjadi Rp8 ribu per liter dari sebelumnya Rp7.800 per liter.

Sementara harga Premium untuk wilayah kepulauan Jawa, Madura, Bali (Jamali) sebesar Rp6.550 per liter, sedangkan untuk wilayah di luar Jamali sebesar Rp6.450 per liter.

Baca juga artikel terkait PERTALITE atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Alexander Haryanto