Hadis Tentang Toleransi Antar Umat Beragama & Menghargai Agama Lain

Penulis: Abdul Hadi - 24 Mar 2022 14:43 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Hadis tentang toleransi antar umat beragama mengajarkan kaum muslimin untuk menghargai keyakinan agama yang beragam.
tirto.id - Hadis tentang toleransi antar umat beragama disampaikan Nabi Muhammad SAW untuk memelihara kerukunan masyarakat. Tidak diragukan lagi, Islam menjunjung tinggi prinsip toleransi selama tidak tercampur dalam perkara iman dan akidah terhadap Allah SWT.

Perbedaan dan keberagaman ras, agama, budaya, suku, bahasa, dan warna kulit adalah fitrah umat manusia. Sebagai ajaran moderat (ummatan wasatha), Islam memegang erat nilai toleransi dan menghargai perbedaan-perbedaan tersebut.

Keragaman atribut manusia itu tergambar dalam surah Al-Hujurat ayat 13:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Dalam Islam, toleransi dikenal dengan istilah tasamuh atau tenggang rasa. Pengertiannya adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan antarsesama manusia, sebagaimana dilansir Kemdikbud.


Islam adalah agama yang diridai Allah SWT karena berada di posisi tengah, moderat, lurus, dan toleran terhadap sesama manusia. Hal itu tergambar dalam hadis riwayat Abdullah bin Abbas berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

"Dari Ibnu Abbas, ia berkata: 'Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, 'Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?', maka beliau bersabda: 'Al-hanifiyyah as-samhah atau agama yang lurus lagi toleran [maksudnya agama Islam]," (HR. Ahmad).

Toleransi Islam menitikberatkan pada kualitas diri individu, alih-alih pada tampilan eksternal, mulai dari ciri fisik, warna kulit, hingga kekayaan seseorang. Yang paling penting dalam Islam adalah iman dan takwa muslim tersebut:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ بَكْرٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: "انْظُرْ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

"Telah menceritakan kepada kami Waki, dari Abu Hilal, dari Bakar, dari Abu Zar [Al-Ghifari] yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda kepadanya: 'Perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah SWT," (H.R. Ahmad).

Meskipun Islam menjunjung tinggi toleransi, penghargaan yang diberikan Islam hanya sebatas urusan muamalah atau hubungan sesama manusia. Toleransi Islam tidak sampai ke batas akidah dan keimanan yang dianut umat agama lain.

Artinya, selama itu tidak mengotori atau mencemari kemurnian keyakinan terhadap Allah SWT, pintu toleransi dibuka seluas-luasnya. Batasan toleransi itu tergambar dalam Al-Quran surah Al-Kafirun.

Dalam hal ini, penurunan atau asbabun nuzul surah Al-Kafirun berkaitan dengan kokohnya tekad Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah di Makkah. Tindakan itu mengganggu kaum kafir Quraisy sehingga mereka bermaksud menggagalkan dakwah beliau.

Sebagaimana dikutip dari buku Menyelami Makna Kewahyuan Kitab Suci (2009) yang ditulis Mahmud Arif, dinyatakan bahwa pemuka Quraisy, Umayyah bin Khalaf, Al-Walid bin Mughirah, dan Aswad bin Abdul Muthalib menegosiasi Nabi Muhammad SAW untuk saling menyembah Tuhan mereka.

Mereka berkata bahwa jika Rasulullah SAW berkenan menyembah Tuhan mereka (berhala) selama setahun, mereka pun akan menyembah Allah SWT setahun berikutnya.

Berkenaan atas hal itu, turunlah surah Al-Kafirun yang menyatakan لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ "Lakum diinukum waliyadiin" atau "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku," (QS. Al-Kafirun [109]: 6). Ayat tersebut menjelaskan bahwa toleransi tidak diizinkan jika menyangkut ritual peribadatan umat lain.

Islam menghargai agama-agama lain, namun toleransi itu jangan sampai menjadikan umat Islam ikut beribadah seperti orang-orang non-muslim.

Dalam perkara duniawi, toleransi merupakan prinsip muamalah yang sangat penting dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan mengajak kaum muslimin untuk memudahkan urusan duniawi tanpa memandang perbedaan antarmanusia.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى.

Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara,” (H.R. Bukhari).


Baca juga artikel terkait TOLERANSI DALAM ISLAM atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Abdul Hadi
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight