Guru Spiritual dan Kegamangan Hidup

Oleh: Arman Dhani - 4 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Ditangkapnya Gatot Brajamusti dan Dimas Taat Pribadi membuka mata Indonesia tentang fenomena guru spiritual. Fenomena yang juga banyak muncul di negara seperti Amerika Serikat. Mengapa mereka bisa punya banyak pengikut?
tirto.id - Begitu takzim penyanyi Reza Artamevia pada Gatot Brajamusti yang disebutnya sebagai guru spiritual, sampai-sampai ia bolak-balik tahanan untuk menengok sang guru yang ditangkap polisi karena kedapatan menyimpan sabu sabu. Begitu pula Marwah Daud Ibrahim, seorang tokoh perempuan di ICMI dan MUI, peraih Ph.D dari American University, yang toh-tohan membela Dimas Taat Pribadi, seorang dukun pengganda uang.

Untuk kasus yang pertama, label “spiritual” bahkan dilengkapi beberapa kesaksian soal skandal seks. Adapun kasus yang kedua, sang guru menjadi tersangka kasus pembunuhan.

Tapi ternyata fenomena manusia yang dianggap setengah dewa macam Aa Gatot atau Kanjeng Dimas bukan eksklusif terjadi di Indonesia saja. Swami Muktananda misalnya, seorang India dengan karisma besar yang menggemari kaca mata hitam. Ia pernah dianggap manusia setengah dewa dengan ribuan pengikut. Pada puncak ketenarannya pada 1981, ia mendapatkan gugatan dari mantan muridnya karena dugaan pelecehan seksual.

William J Broad, pada Februari 2012 di New York Times menulis bahwa ini bukan pertama kalinya seorang guru spiritual dituntut dan diduga melakukan pelecehan seksual. Swami Satchidananda dan Swami Rama juga dituduh terlibat dalam skandal seks.

Jika banyak kasus menunjukkan bahwa guru spiritual memiliki kekurangan, mengapa manusia terobsesi dengan manusia-manusia suci dan guru spiritual? Kumaré sebuah film dokumenter (2012) yang dibuat oleh Vikram Gandhi menggambarkan fenomena ini. Vikram Gandhi adalah orang India keturunan yang tinggal di Amerika. Di tengah kegamangan tentang iman, ia melihat ada keanehan dengan kultus individu di Amerika. Bagaimana mungkin spiritualisme yang dianggap Vikram sebagai kebohongan malah dipeluk dan diikuti oleh jutaan orang di Amerika.

Vikram lantas mentransformasi dirinya dan membuat karakter fiksi bernama Sri Kumaré, seorang guru spiritual dari sebuah desa palsu di India. Ia masuk ke dalam pasar spiritualitas dan New Age Amerika yang pada 2000an mencapai $5 miliar. Di Amerika, Kumaré pergi ke Arizona dan menyebarkan filosofi buatannya dan mendapatkan penganut yang taat. Ia menyadari bahwa guru spiritual dan gerakan spiritual baru di Amerika punya masalah fundamental, bagaimana mengetahui kebenaran atas klaim dari guru?

Film dokumenter ini menunjukkan bagaimana manusia "menciptakan" guru spiritual untuk menjawab pertanyaan tentang hal yang tak bisa mereka ketahui. Pada satu titik, guru spiritual itu menjadi kebenaran tunggal dan para pengikutnya menjadi umat yang taat secara buta. Ia sadar bahwa untuk mengetahui bagaimana seorang pengikut bisa menjadi tunduk, ia mesti menjadi guru yang penuh bualan.

“Banyak dari kita mencari jawaban di timur untuk menyelesaikan persoalan di barat,” kata Vikram.

Carol Nemeroff, Psikolog seperti yang dikutip dari Psychology Today, menyebut ada banyak lapisan kepercayaan. Bagi beberapa orang, sihir atau keajaiban tak akan mengakui bahwa hal itu masuk akal, tapi toh jika dihadapkan dengan fenomena itu mereka akan menerimanya begitu saja. Itu mengapa fenomena guru spiritual mengganggu bagi mereka yang berpikir rasional tapi menjadi kebenaran mutlak bagi mereka yang percaya.

Tapi apakah para pengikut guru spiritual itu otomatis adalah korban kebohongan?

Agama, seperti juga sistem kepercayaan lain, memberikan jawaban atas pertanyaan bagi banyak manusia. Steven Reiss, profesor emeritus psikologi dari Ohio State University menyebutkan bahwa manusia mempercayai agama karena memberikan umatnya kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara terus menerus.

Penulis The 16 Strivings for God ini menjelaskan 16 keinginan paling dasar yang kemudian membuat manusia percaya akan konsep mukjizat. Dalam konteks manusia suci atau guru spiritual mereka menjadi jembatan atau bahkan pembimbing dalam pemenuhan kebutuhan dasar tadi.

Gad Saad, Ph.D, profesor marketing di Concordia University, berkelakar perihal panduan menjadi guru spiritual. Penulis buku The Evolutionary Bases of Consumption ini sedang menjelaskan bagaimana citra membentuk kepercayaan manusia. Bagi para pengikut, guru spiritual memiliki karomah, keajaiban, berkah, dan mukjizat yang tak dimiliki manusia biasa.

Citra itu bisa muncul dari penampilan, penipuan, manipulasi, hingga trik sepele ala sulap. Oleh karena itu ia mesti disembah. Orang-orang ini bukannya bodoh. Ingat, di Amerika Serikat murid dari berbagai guru spiritual merentang dari artis, politisi, sampai intelektual.



Ada beberapa pakem standar untuk menjadi guru ala New Age yang ditulis dengan satir oleh Gad Saad. Pertama: buatlah pernyataan kosong yang terdengar subtil dan agung. Orang akan menganggap kegagalan memahami teks dan pernyataan orang suci tadi sebagai ketidakmampuan kita sebagai manusia yang penuh dosa.

Kedua: tampillah dramatis dengan aksen fashion spiritual ala timur dengan menekankan bahwa dunia ini fana sementara keabadian ada pada diri murid anda.

Ketiga: alih-alih menggunakan lema-lema keagamaan seperti "Tuhan", gunakan kata "semesta", ketimbang "doa" gunakan "daya kosmik," ketimbang "dosa" gunakan "energi negatif." Dan terakhir: jangan ragu menyalahkan rasi bintang atas kegagalan atau nasib buruk yang anda buat sendiri.

Tapi bukan berarti seluruh guru spiritual adalah penipu. Apalagi jika Anda memasukkan Paus Fransiskus atau Dalai Lama ke dalam kategori ini. Mereka, juga banyak nama lain, konsisten berusaha membawa umatnya untuk mencapai keharmonisan dunia, perdamaian, dan kualitas iman tanpa janji penggandaan uang atau pencerahan kosmik dari jagat raya. Mereka adalah manusia yang bekerja untuk kemanusiaan, dengan konsistensi dan integritas yang bisa kita ukur dengan akal sehat dan hati nurani.

Beberapa yang dianggap orang suci menyadari bahwa keselamatan dan kebijaksanaan manusia tidak bisa disematkan hanya pada satu orang. Misalnya Jiddu Krishnamurti, orang (yang dianggap) suci kelahiran India yang dianggap sebagai juru selamat dan Guru Dunia dari Theosophical Society. Namun pada 1929, pada usia 34 tahun Jiddu memutuskan menarik diri dari simbol religius dan juru selamat itu.

Ia menolak menjadi guru spiritual dan mengatakan bahwa kebenaran adalah jalan negeri yang tak memiliki jalan pasti. Menurut Jiddu, mengikutu guru spiritual tidak akan membuat manusia mengalami pencerahan.

Jiddu Krishnamurti yang meninggal pada 1986 menjadi simbol penting bagaimana Orang Suci bisa menjadi sangat manusiawi. Sesudah melepaskan diri dari tanggung jawab dan label sebagai guru spiritual, Jiddu menghabiskan waktunya untuk menjadi pembicara, penulis dan pemikir.

Ia kerap mengkritik agar manusia mencari pencerahan sendiri dan tidak perlu mendengarkan khotbah spiritual. Ia kerap menggoda pengunjung seminarnya dengan berkata, “Apakah anda mau tahu rahasiaku?” katanya. Saat para pengunjung itu diam dan membuka telinganya lebar-lebar Jiddu malah berkata, “Aku tak pernah benar-benar peduli,” katanya.

Jiddu adalah manusia biasa yang diramal kelak akan menjadi juru selamat dunia, namun di puncak hidup ketika ia bisa benar-benar menjadi nabi, ia malah memilih jadi manusia. Barangkali Aa Gatot atau Kanjeng Dimas bisa mengikuti jejak Jiddu jika kelak sudah terbebas dari kungkungan Hotel Prodeo.

Baca juga artikel terkait DUKUN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani