Guntur: Anak Sulung Sukarno yang Suka Elvis dan Tak Mau Dikawal

Presiden Republik Indonesia Sukarno dan putranya Guntur di Disneyland. FOTO/wikipedia/Aneka Amerika/American Miscellany (1957)
Oleh: Petrik Matanasi - 8 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kisah Guntur Soekarnoputra, anak sulung presiden pertama yang ikut ibunya saat Fatmawati meninggalkan Istana.
tirto.id - Pada 16 Mei 1956, Sukarno beserta rombongan bertolak ke Amerika Serikat. Kedatangannya di Negeri Paman Sam disambut meriah bak pahlawan. Ratusan wartawan mengerubutinya.

Dalam lawatan yang menyenangkan itu, Sukarno tak lupa pesanan istrinya yang minta dibelikan pakaian. Selain itu, ia juga membawa serta putra sulungnya: Mohammad Guntur Soekarno Putra.

“Turut sertanya Guntur dalam rombongan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat, adalah suatu kebanggaan bagi Negara dan anak2 Indonesia khususnya,” catat Sukarno & Winoto Danoeasmoro dalam Perdjalanan P.J.M. Presiden Ir. Dr. Hadji Achmad Sukarno ke Amerika dan Eropah (1956:200).

Guntur yang lahir di Jakarta pada 3 November 1944 itu dianggap sebagai manifestasi Duta Anak-Anak Indonesia.

Saat Sukarno berkunjung, Amerika Serikat tengah dipimpin oleh Presiden Dwight David Eisenhower (1890-1969) yang menjabat mulai 20 januari 1953 hingga 20 Januari 1961. Ia adalah Jenderal Besar Tentara Amerika yang memimpin pendaratan di Normandia.

Eisenhower sempat mengomentari Guntur yang ikut bersama bapaknya. Menurutnya, kehadiran putra sulung Sukarno itu adalah hal yang bijaksana karena Guntur berhasil merebut hati berjuta-juta orang Amerika.


Suka Lagu "Ngak Ngik Ngok"

Setelah Sukarno menikahi Hartini, Fatmawati meninggalkan Istana pada tahun 1956, dan Guntur yang pernah ikut terculik pada peristiwa Rengasdengklok, dibawa serta.

“Guntur tidak sedekat sebagaimana seharusnya. Dia anak ibunya,” kata Sukarno.

Presiden pertama itu adalah ayah yang bangga pada anak-anaknya. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang disusun oleh Cindy Adam di tahun-tahun terakhir jabatannya sebagai presiden.

“Semua anakku memiliki bakat. Putriku yang kedua Rahmawati dan kakaknya Megawati, yang kupanggil Ega, pandai menari dengan bagus sekali. Guntur menyanyi dan main musik dengan baik, dan memiliki band sendiri meski kecil,” ucapnya.

Sukarno memang sempat melihat kebolehan Guntur bermain musik saat ia dan kawan-kawannya tampil di Istana. Meski demikian, selera musik Guntur tak sejalan dengan garis politik kebudayaan bapaknya yang menganggap musik Barat adalah sesuatu yang dekaden.

“Zaman Bapak melarang Elvis dan Beatles, saya malah Ngelvis. Saya memang anak bandel, lho,” kata Guntur dalam Wartawan bertanya, Guntur Sukarno menjawab (1983:278).

Sukarno yang anti musik Barat yang dicapnya sebagai musik "Ngak Ngik Ngok", tentu tak suka dengan selera musik Guntur, namun hal itu tak dihiraukan anaknya. Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia(2015:78) menyebut Guntur pernah bermain di genre folk dalam grup Kwartet Bintang.

Menurut Tatang Sumarsono dalam Sajadah panjang Bimbo (1998:47), Guntur juga sempat tergabung dalam band Aneka Nada bersama Syamsudin Hardjakusumah, Acil Darmawan Hardjakusumah, dan Jessy Wenas (seniman asal Minahasa).

Meski keranjingan musik, tapi Guntur tak dikenal sebagai musisi kesohor.


Tak Mau Dikawal Cakrabirawa

Sekali waktu, Guntur mendatangi Mangil Martowidjojo, ajudan kesayangan Sukarno. Kepada dirinya, seperti dikisahkan Mangil dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 (1999:207-208), Guntur meminta agar ia tidak dikawal lagi. Alasannya, Guntur merasa dirinya sudah dewasa.

Mangil tentu tak mau menurutinya, sebab keselamatan presiden satu paket dengan keselamatan keluarganya. Jika Guntur celaka, bukan hanya karier Mangil yang binasa, tapi bisa menjadi masalah nasional.

Ia pun mencoba mencari solusi dengan menemui atasannya, Brigadir Jenderal Mohamad Sabur, Komandan Resimen Cakrabirawa.

”Kau harus minta surat tertulis dari Bung Karno, yang menyatakan Mohamad Guntur Sukarno Putra tak perlu dikawal,” kata Mohamad Sabur.



Setelah itu, ia pun menemui Sukarno dan menjelaskan bahwa keamanan presiden dan keluarganya adalah tanggung jawabnya.

“Kalau begitu, biar saja Guntur kamu kawal terus,” kata Sukarno.

Mangil mengetahui alasan Guntur yang berkeras tak mau lagi dikawal oleh anggota Cakrabirawa.

“Rupanya, Mas Guntur waktu itu memang sudah mempunyai pacar, mungkin Mas Guntur malu sama pacarnya, kalau ke mana-mana selalu dibuntuti pengawalnya,” ungkap Mangil.

Untuk menyiasatinya, Mangil menempatkan anggota Cakrabirawa yang usianya tidak terpaut jauh dengan Guntur. Dengan begitu mereka tidak terlihat sebagai pengawal, tetapi tampak sebagai teman Guntur. Sebagai catatan, di Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang termasuk bagian dari Resimen Cakrabirawa, memang banyak anggotanya yang masih muda dan berpendidikan akhir SMA atau SMP.

Meski tidak terlalu dekat dengan bapaknya, Guntur sejatinya anak yang membuat Sukarno merasa senang.

“Dia kuliah di Institut Teknologi Bandung, sama seperti ayahnya dulu, di mana dia mengambil jurusan listrik dan mata pelajaran yang juga sangat kusukai, perencanaan kota,” ucap Sukarno.

Barangkali karena sejak berusia 11 tahun tak lagi tinggal di Istana, Guntur berbeda dengan saudara-saudaranya. Ia tak menjelma menjadi politikus seperti bapak dan adik-adiknya.

Kenyataan ini sesuai dengan harapan Sukarno terhadap Guntur yang sekali waktu pernah berucap, “Hanya satu doaku untuknya, semoga dia tidak akan menjadi presiden. Itu adalah kehidupan yang sangat berat.”

Baca juga artikel terkait ANAK PRESIDEN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight