Grumpy Cat

Grumpy Cat, Si Kucing Berwajah Cemberut Itu, Meninggal....

Oleh: Eddward S Kennedy - 18 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kucing berwajah pemarah itu meninggal di usia 7 tahun.
tirto.id - Netizen sedunia tengah berduka. Kucing favorit mereka, Grumpy Cat, meninggal beberapa hari lalu akibat komplikasi infeksi kantung kemih. Di akun Instagram resminya yang punya pengikut hingga 2,5 juta orang, @realgrumpycat, tertulis:

“Tak terbayangkan betapa patah hatinya kami untuk mengumumkan kehilangan Grumpy Cat tercinta. Meski sudah mendapat penanganan profesional dan juga cinta dari keluarga, Grumpy mengalami komplikasi dari infeksi kantung kemih beberapa waktu lalu yang makin lama makin membuatnya sulit untuk selamat. Ia meninggal dengan damai pada Selasa (14/5) pagi, di rumah dalam pelukan ibunya, Tabatha."

“Tak hanya menjadi kesayangan di keluarga, Grumpy Cat juga telah membantu jutaan orang di seluruh dunia tersenyum, bahkan di hari terberat mereka. Jiwa dan semangat Grumpy akan terus hidup di dalam sanubari para penggemarnya di mana saja.”

Grumpy Cat lahir pada 4 April 2012 dengan nama asli Tardar Sauce. Kucing ini tenar jauh sebelum kata “viral” mulai populer seperti belakangan ini. Semua bermula sejak fotonya beredar di Reddit pada September 2012. Sejak saat itu, kucing berusia 7 tahun yang wajahnya selalu tampak mengernyit ini memenangkan hati pecinta meme seluruh dunia. Ia bahkan memenangkan penghargaan ‘Buzzfeed’s Meme of the Year Webby Awards’ pada 2013 dengan mengalahkan “Gangnam Style” dan “Harlem Shake.” Di tahun yang sama pula ia meraih Life Time Achievement Award

Ketenaran Grumpy membuatnya sampai masuk ke beberapa acara terkenal di dunia, seperti American Idol, Sesame Street, hingga The Bachelorette, salah satu reality show andalan ABC yang telah tayang sejak 2003 lalu. Selain itu, kucing milik Tabatha Bundesen juga bekerja sama dengan kurang lebih 900-an merek, termasuk menjadi bintang iklan Friskies dan Honey Nut Cheerios. Ia juga main di film edisi Natal dari Lifetime berjudul ‘Grumpy Cat’s Worst Christmas Ever’, hingga jadi bintang sampul New York Magazine.

Tak hanya itu saja, popularitas Grumpy pun juga dijadikan inspirasi untuk dua buku anak-anak. Buku pertama berjudul ‘Grumpy Cat: A Grumpy Book and The Grumpy Guide to Life: Observations by Grumpy’ (2014), yang juga termasuk ke dalam daftar rekomendasi The New York Times. Sementara buku kedua turut mengajak 'adik' Grumpy yang bernama Pokey, judulnya: ‘The Misadventures of Grumpy Cat and Pokey’ (2016).

Dengan segala pencapaiannya tersebut, Grumpy Cat sanggup meraup kekayaan hingga 100 juta dolar AS pada 2014. Sementara pada 2015, pihak Madame Tussauds juga membuatkan versi animatronik dari Grumpy. Terakhir, pada 2018, pihak Bundesen juga memenangi kasus hak cipta dari sebuah perusahaan kopi yang memakai merek Grumpy Cat Grumppuccino senilai $710000.

Sebelum Grumpy Cat meraih popularitas dan kekayaan ini, Bundesen bekerja sebagai pelayan di Red Lobster, sebuah restoran lokal di kota kelahirannya Arizona. Ketika akhirnya sang kucing mulai viral di mana-mana, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengatur jadwal kesibukan hewan peliharaannya tersebut.

Dalam wawancaranya dengan The Telegraph tahun 2014 yang turut dilansir Newsweek, Bundesen mengatakan: "Saya bisa keluar dari pekerjaan saya sebagai pelayan hanya beberapa hari setelah kemunculan pertamanya viral di media sosial. Sejak itu telepon tidak berhenti berdering.”

Infografik Mengenal Si Kucing Pemarah
Infografik Mengenal Si Kucing Pemarah. tirto.id/Nadia


Kematian Hewan yang Membuat Sedih Banyak Orang

Pada Januari 2019 lalu, seekor anjing ras Pomeranian bernama Boo juga meninggal di usia 12 tahun. Anjing yang kerap dijuluki sebagai anjing terlucu di dunia itu meninggal karena hal yang amat sentimentil: patah hati usai ditinggal pergi selamanya oleh sang sahabat terdekat, Buddy.

Kabar kematian tersebut diumumkan oleh sang pemilik di laman Facebook resmi Boo yang memiliki 16 juta pengikut tertanggal 18 Januari.

“Kepada teman-teman Boo tersayang,

Dengan kesedihan yang terdalam, saya ingin mengabarkan bahwa Boo telah meninggal dalam tidurnya pagi ini dan telah meninggalkan kami untuk bergabung dengan sahabatnya, Buddy. Kami sekeluarga patah hati, tetapi kami merasa bahagia karena tahu bahwa ia tidak akan lagi merasa sakit.”

Boo dan Buddy memang merupakan duo anjing yang selama ini juga telah mencuri hati netizen melalui foto maupun video-video mereka yang menggemaskan. Namun, kebersamaan keduanya mesti selesai karena Buddy harus pergi lebih dulu. Sejak itu, Boo, sebagaimana diakui pemiliknya, merasakan kehilangan yang sangat hingga kesehatannya terganggu.

“Tak lama setelah Buddy meninggal, Boo memperlihatkan gejala-gejala gangguan jantung. Kami pikir hatinya benar-benar hancur ketika Buddy pergi meninggalkan kami,” demikian tulis pemilik mereka.

"Dia (Boo) bertahan selama kurang lebih satu tahun. Tapi ini adalah waktunya. Saya yakin akan sangat menyenangkan saat mereka (Boo dan Buddy) saling bertemu di surga. Buddy dan Boo telah membawa kebahagiaan bagi orang-orang di seluruh dunia."

Kabar kematian Boo tak hanya membuat sedih para penggemarnya. Hewan-hewan menggemaskan lain yang selama ini juga termasuk ke dalam lingkaran selebriti perhewanan di media sosial turut merespons kabar duka tersebut. Akun Venus the Two Face Cat, misalnya, kucing menggemaskan dengan wajah yang memiliki dua warna berbeda sekaligus (demikian pula warna matanya), menulis di akun Instagramnya yang memiliki 1,8 juta pengikut :

"Boo adalah hewan peliharaan yang paling pertama kami ikuti di media sosial. Kami sangat bersedih untuk keluarga dan semua yang mencintainya.”

Pada 2012, Boo juga sempat diangkat sebagai Virgin Airlines Official Pet Liaison. Dia juga telah tampil di sejumlah buku, termasuk buku berjudul ‘Boo: The Life of the Cutest Dog’ yang diterbitkan pada 2011 dan telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa.

Hewan lain yang kematiannya juga ditangisi seluruh dunia adalah dua gorila di Amerika Serikat bernama Vila dan Koko. Vila adalah gorila tertua kedua dan paling dicintai di dunia, sementara Koko acap dianggap sebagai gorila jenius yang menguasai bahasa isyarat. Keduanya sama-sama meninggal di tahun 2018, hanya berselisih empat bulan saja.

Vila, yang lahir pada tahun 1957 di Kongo dan dibesarkan di Kebun Binatang San Diego, meninggal di usia yang ke-60 pada Kamis, 25 Januari 2018. "Dengan berat hati kami mengumumkan kepergian Vila, salah satu gorila tertua di dunia. Vila meninggal sore ini dikelilingi oleh anggota keluarganya. Jika Anda memiliki kenangan favorit Vila, kami ingin mengetahuinya," demikian pernyataan pihak Kebun Binatang San Diego kala itu.

Vila adalah gorila langka karena sanggup hidup sepanjang enam dekade lamanya. Biasanya, usia gorila “hanya” mencapai 35 atau 40 tahun. Hanya ada dua gorila dataran rendah barat lainnya yang diketahui berusia mendekati usia hidup Vila. Satu di Little Rock Zoo di Arkansas dan yang lainnya berada di Kebun Binatang Berlin di Jerman. Keduanya diperkirakan lahir pada tahun 1957 juga.

Tahun 2017, Vila sempat menjalani perawatan medis untuk retensi cairan agar tidak menimbulkan penyakit berbahay yang mengancam hidupnya. Ketika itu, ia menjalani diagnostik penuh dan dinyatakan pulih setidaknya untuk satu tahun ke depan. Usai meninggalnya Vila, jumlah gorila di kebun binatang San Diego kian mengalami penurunan. Selama ini mereka terus mengupayakan konservasi gorila bekerja sama dengan organisasi di Uganda, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, serta Kamerun.

Adapun Koko, si gorila jenius itu, meninggal di usia 46 tahun, pada Selasa, 19 Juni 2018. Berdasarkan keterangan dari The Gorilla Foundation, yayasan yang merawat Koko, gorila dataran rendah barat itu tutup usia dalam tidurnya di penangkarannya di pegunungan Santa Cruz, California. Adapun Koko sebelumnya lahir di Kebun Binatang San Francisco pada tahun 1971 dengan nama asli Hanabi-ko. Nama tersebut diambil dari bahasa Jepang yang artinya “anak kembang api.”

Popularitas Koko mendunia karena kemahirannya dalam menggunakan bahasa isyarat. Sejak kecil, ia memang telah diajarkan bahasa isyarat oleh Dr. Francine Patterson dari Universitas Stanford. Pengajaran bahasa isyarat kepada gorila memang telah menjadi bagian dari proyek universitas tersebut sejak 1974. Dan sejak diajarkan, Koko disebut telah mengerti sekitar 2.000 kata dalam bahasa Inggris lisan.

Salah satu kisah paling mengesankan tentang Koko terjadi pada tahun 1983. Ketika ulang tahun, para peneliti membawakannya anak kucing dan membiarkannya memilih salah satu. Koko lantas memilih seekor kucing berwarna abu-abu dan putih yang ia beri nama “All Ball”. Koko memperlakukan kucing itu seperti salah satu dari dirinya sendiri. Ia menjaganya, membawanya seperti bayi, dan bahkan mencoba untuk merawatnya.

Namun, kebahagiaan Koko sirna setelah All Ball ditabrak oleh sebuah mobil pada tahun 1984. Diperlihatkan dalam cuplikan video yang diunggah akun Thori Mclean tahun 2011, diperlihatkan bagaimana Patterson bertanya pada Koko apa yang telah terjadi. Dengan wajah yang tampak jelas bersedih, Koko memberi isyarat balasan:

"Buruk, sedih-buruk, menangis…”

Baca juga artikel terkait HEWAN PELIHARAAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti