STOP PRESS! Diduga Terlibat Plagiasi, Rektor UNJ Diberhentikan Sementara

GoT Season 7 Episode 1: Walder Frey Masih 'Hidup'

Reporter: Arlian Buana
17 Juli, 2017 dibaca normal 4:30 menit
GoT Season 7 Episode 1: Walder Frey Masih 'Hidup'
Ed Sheeran di Film Game of Thrones. FOTO/thrillist.com
tirto.id - Game of Thrones season 7 episode 1 telah tayang pada Senin (17/7/2017) di HBO. Banyak adegan mengejutkan di episode perdana kali ini.

Pada episode perdana season 7 dibuka dengan adegan Walder Frey berpidato di hadapan para pendukung setianya di Riverrun. Cukup mengagetkan, karena di season sebelumnya, Walder Frey tewas di tangan Arya Stark, dengan leher digorok seperti hewan kurban. Tapi kekagetan itu tak berlangsung lama, penonton setia GoT segera tahu, itu adalah Arya yang sedang malih rupa. Arya, yang telah lulus dari padepokan Jaqen H’ghar di Braavos, bisa berubah menjadi siapa saja dan menjadi pembunuh berdarah dingin.

Walder Frey palsu mengajak para pendukungnya bersulang. Mereka meminum wine dari cangkir yang telah disediakan di hadapan mereka, Walder sendiri tidak minum, dan melarang istri mudanya (yang berdiri di sampingnya) ikut minum. “Aku tidak sudi wine-ku dihabiskan seorang perempuan,” katanya. 

Walder terus berpidato. Ia memuji para pengikutnya yang telah berjasa membantunya membantai keluarga Starks. Di sini para pengikutnya mulai merasakan keanehan, nada pidato Walder Frey mulai bersimpati kepada para korban dan justru menghina para pelaku. Dan mereka mulai batuk-batuk. Minuman itu mengandung racun.

Tidak perlu menunggu lama, mereka yang meminum wine itu segera tumbang. Lalu Walder Frey membuka kulit wajahnya, dari bawah ke atas. Sang istri muda ketakutan melihat penampakan suaminya yang telah berubah menjadi perempuan. “Kalau ada yang bertanya apa yang terjadi di sini,” kata perempuan itu, “katakan kepada mereka bahwa “The North remember” dan musim dingin telah mendatangi Keluarga Frey.”

Adegan berikutnya adalah angin berhembus dalam gelap. Lalu perlahan-lahan mulai muncul “Pasukan Kematian”, rombongan zombie yang dipimpin oleh “Raja Malam.” Tidak ada percakapan, mereka hanya berjalan dan berjalan, menuju “Dinding” yang memisahkan mereka dengan orang-orang yang hidup di Westros.

Di selatan “Dinding”, di Winterfell, Jon Snow, Raja di Utara, memimpin rapat akbar di hadapan pengikutnya. Mereka membicarakan rencana menghadapi “Pasukan Kematian” yang semakin dekat. Jon meminta pasukannya berlatih siang-malam, juga melatih para perempuan dan anak-anak untuk membentengi diri. “Aku tidak mau hanya setengah dari rakyatku yang berjuang,” ujarnya. Dan ia meminta secara khusus agar pasukannya mencari cara untuk memproduksi “Kaca Naga” secara massal.

Sebelum rapat akbar ditutup, terjadi perdebatan antara mereka tentang nasib Keluarga Karstark dan Keluarga Umber. Sansa Starks, adik tiri Jon, menginginkan keluarga itu dibunuh dan kediaman mereka diberikan kepada keluarga yang lebih setia dan terbukti telah berjuang bersama keluarga Starks dalam perang mengusir Ramsay Bolton. Tapi Jon menolak gagasan itu. Ia tak ingin anak-anak ikut bertanggung-jawab atas dosa-dosa ayah mereka, dan ia lebih memilih persatuan untuk melawan Pasukan Kematian. Ia lalu memanggil Ned Umber dan Alys Karstark yang ternyata masih bocah ke depan, dan meminta mereka sekali lagi bersumpah setia kepada keluarga Starks.

Selesai rapat, Jon dan Sansa mengobrol berdua. Sansa memuji cara Jon memimpin, tapi ia meminta supaya Jon lebih cerdas.

“Cerdas bagaimana?” tanya Jon. “Dengan mendengarkanmu?” Jon terlihat kesal, dan Sansa, seperti biasa, seperti menyembunyikan sesuatu.

“Apa itu jelek?” tanya Sansa.

Percakapan itu terpotong kehadiran pengawal mereka yang menyerahkan sepucuk surat dari Kotaraja. Surat dari Ratu Cercei Lannister.

“Apa yang dia mau?” tanya Sansa.

“Dia mengundang kita ke Kotaraja. Membungkuk di hadapannya.”

“Kamu terlalu banyak memikirkan musuh di Utara, Jon,” kata Sansa. “Lupa bahwa kita juga punya musuh di Selatan.”

Di Kotaraja, Ratu Cercei sedang mengawasi pembuatan peta Westeros dan Essos. Jamie, saudara kembarnya, datang menghampiri. Mereka membicarakan perlunya aliansi untuk menghadapi musuh-musuh mereka di Timur, di Selatan, di Utara, dan di Barat. Juga tentang adik mereka, Tyrion Lannister, yang telah menjadi tangan kanan musuh utama mereka, Daenarys Targaryen.

Aliansi itu segera datang. Euron Greyjoy dengan armada 1000 kapalnya mendarat di Kotaraja. Euron menawarkan kesetiaannya untuk melawan Daenarys. Tapi Jamie menghadapinya dengan skeptis, menyinggung sejarah Keluarga Greyjoy yang tidak bisa setia dan selalu semau mereka sendiri. Tapi Cercei menghadapinya dengan tenang, bertanya, “Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?”

Euron berkata ia ingin menikahi Sang Ratu. Namun Cercei menolak proposal itu. 

Euron tak menyerah begitu saja. Ia mengaku tahu bagiamana meluluhkan hati perempuan: dengan memberinya hadiah yang nilainya tak terkira. “Aku tidak akan kembali ke Kotaraja, sebelum aku punya “hadiah” itu untukmu,” kata Euron, segera pergi untuk menghancurkan armada Daenarys.

Di Citadel, Samwell Tarly tenggelam dalam rutinitasnya sebagai pelayan di kota para ilmuwan itu, sebelum nanti diberi kesempatan untuk belajar agar menjadi Maester. Ia membersihkan kotoran para maester tua, menyediakan makan mereka, merapikan buku-buku yang mereka baru, membersihkan kotoran, menyediakan makanan, merapikan buku-buku, terus begitu. Sampai ia tertarik dengan buku-buku di area terlarang.

Sam terus mengulang rutinitasnya, sesekali mengamati area terlarang itu, hingga akhirnya punya kesempatan bicara dengan Archmaetser, Sang Maester Kepala di Citadel. Kepadanya, Sam bercerita tentang “Pasukan Kematian” yang sudah ia lihat dengan mata kepala sendiri.

“Semua orang di Citadel meragukan ceritaku,” kata Sam.

“Semua orang di Citadel memang bertugas meragukan semua hal,” jawab Archmaester.

Archmaester akhirnya memang percaya bahwa benar Sam melihat “apa yang kau lihat”, tapi ia tidak mengizinkan Sam untuk masuk ke perpustakaan di area terlarang. Dan Sam mencari caranya sendiri untuk menembus tempat itu dan menggondol beberapa buku.

Kembali ke Winterfell, Sansa sedang menonton orang-orangnya berlatih. Petyr Baelish datang. 

“Apa yang kau mau, Lord Baelish?”

“Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu aman?”

“Aku aman. Dikelilingi teman-teman. Dan Brienne (of Tarth) melindungiku.”

“Bagaimana dengan bahagia?” Petyr berusaha lagi mempengaruhi Sansa, agar menentukan jalan sendiri dan melawan Jon Snow.

Sansa diam.

“Kenapa kamu tak bahagia?,” lanjut Baelish. “Apa yang kau inginkan dan sekarang tak kau miliki?”

“Saat ini, ketenangan dan kedamaian.”

Brienne datang menghampiri mereka. Petyr undur diri. 

Dari Riverrun, Arya menempuh perjalanan ke Selatan. Dari kejauhan ia mendengar suara merdu orang bernyanyi (penyanyinya diperankan oleh Ed Sheeran!), pasukan Lannister. Ia menghampiri mereka, dan ditawari makan. Mereka makan sambil bercakap-cakap tentang dampak perang, masa depan yang tak pasti. Sampai mereka bertanya, untuk apa seorang gadis berjalan ke selatan, ke Kotaraja.

“Untuk membunuh Sang Ratu,” kata Arya. Mereka terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak.

Tak jauh dari tempat itu, rombongan “Persaudaraan tanpa Bendera” sedang mencari tempat bermalam. Mereka akhirnya menemukan sebuah gubuk kosong. Sandor Clegane, Si Anjing, bersama Thoros dan Beric Dondarrion yang sudah tujuh kali mati dan hidup lagi. Sandor tahu, rumah itu adalah rumah seorang petani yang ia bunuh bersama putri kecilnya.

Perasaan Sandor terganggu. Ia bertanya, dengan nada menggugat, kenapa Tuhan mereka menghidupkan kembali Beric, bukan petani itu? Beric menjawab, setiap jam, setiap hari, ia juga bertanya hal yang sama, tapi ia meyakini, ia di sana karena suatu alasan. Thoros meminta Sandor mendekat ke perapian dan melihat baranya. Sandor yang punya trauma dengan api, di masa kecil kakaknya Gregor pernah menaruh mukanya ke dalam api, menolak untuk mendekat. Kalau kau ingin tahu untuk apa kau ada di sini, lihatlah bara itu, kata Thoros yang penyembah api. Di sana, Sandor melihat “Dinding” dan “Pasukan Kematian.”

Sandor lalu menguburkan jasad petani dan putrinya itu.

Di Citadel, Sam membaca buku curiannya hingga larut malam. Di buku itu ia mendapati sesuatu yang ia cari. Peta Dragonstone, Batunaga, istana keluarga Targaryen. Di sana ada banyak bahan Kaca Naga (dragonglass), terkubur di bawah tanah.

“Ini penting,” kata Sam kepada pacarnya, Gilly. “Jon harus tahu.” 

Keesokan harinya, Sam kembali ke rutinitasnya bersih-bersih. Ketika akan mengambil sebuah mangkuk di jendela satu kamar, ia dikejutkan satu tangan bersisik yang mencapai mangkuk itu. 

“Apakah dia sudah datang?” tanya pemilik tangan itu.

“Siapa?”

“Ratu Naga. Daenarys Stormborn.”

“Belum dengar.”

Daenarys masih di atas kapalnya, bersama armada besar di belakangnya dan tiga ekor naga yang terbang di atasnya. Mereka hampir tiba di Dragonstone.

Begitu menginjakkan kaki di pasir pantai Bragon Stone, Daenarys menyentuh pasirnya dengan tangan, dan menatap istana di hadapannya, rumah yang ia rindukan sejak kecil.

Diikuti beberapa penasihat pentingnya, ia masuk ke istana, menatap singgasananya, dan masuk ke ruang rapat.

“Sudah bisa kita mulai?"

Baca juga artikel terkait GAME OF THRONES SEASON 7 atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - arl/agu)

Keyword