Industri Fintech

GoPay vs OVO: Mana yang Kini Berhasil Merebut Hati Pengguna?

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 20 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Persaingan OVO dan Go-Pay makin memanas. Data menunjukkan, secara penggunaan, OVO dengan Go-Pay bersaing sangat ketat.
tirto.id - Wangi khas roti tart keju panggang keluar dari panggangan tercium tajam dari salah satu sudut di lantai dua sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan. Harumnya yang menggoda membuat stand kue itu dikerubungi pelanggan yang telah mengantre lumayan panjang.

Tapi, bukan produk makanan ringan saja yang menggugah selera konsumen, melainkan juga tawaran promo dari dua banner perusahaan digital yang menjadi rival. Pertama adalah tawaran cashback sebesar 20 persen yang diberikan jika pembayaran menggunakan Go-Pay, dan kedua adalah tawaran yang hampir serupa jika membayar dengan OVO, meski angkanya lebih kecil, yakni 10 persen.

"Di sini banyak yang bayarnya pakai Go-Pay, mungkin 88 persen bayar pakai Go-Pay. Mungkin karena tawaran cashback-nya [uang kembali] lebih besar," cerita Nur (22), salah seorang cook helper di stand makanan ringan asal Jepang tersebut kepada Tirto.

Ia mengatakan, hampir 95 persen transaksi pembayaran di gerai tersebut adalah non-tunai berupa kartu debit serta pembayaran melalui dua platform tersebut. Selain itu, promo cashback yang telah berlangsung sekitar tiga bulan itu, lanjutnya, memang sanggup menaikkan angka penjualan.

"Iya, konsumen memang lebih banyak dengan adanya tawaran cashback ini. Jumlah kue yang kami panggang mengalami kenaikan," imbuh Nur.

Situasi ini, rupanya, tidak hanya terjadi pada gerai makanan atau food and beverage (F&B) yang menawarkan promo menarik seperti itu, tetapi juga merambah ke gerai lainnya seperti toko kosmetik dan juga pakaian. Saat Tirto mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut, sejumlah banner OVO dan Go-Pay marak terpampang di depan toko.


Kedua platform pembayaran digital ini - Go-Pay oleh PT Dompet Anak Bangsa dan OVO oleh PT Visionet Internasional - memang paling dikenal di Indonesia, setidaknya menurut hasil survei Morgan Stanley.

Katadata melaporkan, survei tersebut dilakukan terhadap 727 pengguna financial technology (fintech) jenis pembayaran, yang memiliki pendapatan menengah ke atas di beberapa kota di Indonesia pada Oktober 2018. Hasilnya, sebanyak 86 persen responden mengenal Go-Pay dan OVO.

Pencapaian Go-Jek melalui Go-Pay tidak main-main. Melansir rilis Go-Jek tertanggal 1 Februari 2019, gross transaction value (GTV) atau transaksi pengguna sepanjang 2018 mencapai 9 miliar dolar AS. Angka itu setara Rp126 triliun jika dihitung berdasarkan kurs Rp14.000 per dolar AS. Total volume transaksi mencapai 2 miliar transaksi sampai dengan akhir 2018.

Adapun transaksi pengguna Go-Pay mencapai 6,3 miliar dolar AS atau setara Rp88,2 triliun menggunakan nilai tukar yang sama. Angka ini setara dengan 69,6 persen terhadap keseluruhan transaksi Go-Jek. Sementara transaksi pengguna Go-Food senilai 2 miliar dolar AS sepanjang 2018 atau setara Rp28 triliun.

Angka tersebut diperoleh berkat kerja sama Go-Jek dengan dua juta mitra pengemudi, 400 ribu merchant, 1,5 juta agen dan 600 ribu penyedia jasa.

Menurut survei yang dilakukan oleh DailySocial berjudul "Fintech Report 2018," Go-Pay merupakan penyedia layanan pembayaran mobile paling populer di Indonesia. Dari 825 responden yang mengklaim bahwa mereka menggunakan layanan teknologi finansial di perangkat digital, sebanyak 79,39 persen mengatakan bahwa mereka menggunakan Go-Pay.

OVO, sementara itu, berada pada urutan kedua dengan 58,42 persen responden mengatakan mereka menggunakan OVO. Sebagai catatan, survei DailySocial ini dilakukan terhadap total 2.009 responden di 33 provinsi dengan 69 persen responden bermukim di Jawa dan bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Jakpat.

Meski demikian, berdasarkan survei Morgan Stanley, giliran OVO yang mengalahkan GO-Pay, setidaknya dalam hal penggunaan atau use case. Survei itu menyebut, sebanyak 73 persen responden menggunakan OVO sedangkan pengguna Go-Pay adalah sebesar 71 persen.


OVO mengklaim pihaknya telah menggaet lebih dari 500 ribu mitra di lebih dari 300 kita di Indonesia. Dilansir CNBC Indonesia, Harianto Gunawan Direktur OVO menyebut bahwa pengguna platform fintech ini mengalami kenaikan jumlah sampai dengan 400 persen.

"Untuk transaksi OVO, tumbuh 75 kali lipat tahun lalu, atau sekitar satu miliar transaksi," ungkap Harianto.

Capaian ini tentu tidak mengherankan, mengingat OVO merupakan bagian dari konglomerasi besar Lippo Group. Dengan luasnya jaringan bisnis Lippo Group yang mencapai berbagai sektor industri, OVO jelas memiliki keunggulan tersendiri dalam peta persaingan.

Berdasarkan laporan keuangan PT Lippo Karawaci Tbk (PDF) yang merupakan induk usaha, Lippo Group setidaknya memiliki 511 anak usaha, mulai dari sektor properti, hingga jaringan bioskop. Selain itu, pertumbuhan pesat OVO juga tidak luput disumbang oleh masifnya karyawan Lippo Group. Jumlah karyawan Lippo Group per 31 Maret 2019 sebanyak 10.181 orang.

Satria (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu karyawan Lippo Group tersebut. Pria yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang media ini mengungkapkan kepada Tirto bahwa setiap bulannya gaji yang ia terima dipotong sebesar Rp500 ribu untuk dimasukkan ke dalam rekening OVO miliknya.

Sejatinya, ia merasa kebijakan ini cukup berat, kendati juga sangat membantu di saat-saat terdesak, misalnya, saat pulsa telepon genggam mendadak harus diisi ulang karena habis. "Biasa pakai aplikasi OVO buat beli-beli pulsa. Kalau beli makan justru seringnya pake Go-Pay karena pesannya via Go-Food," ungkapnya.

Pria yang berdomisili di selatan Jakarta ini mengaku, ia justru rajin mengisi saldo Go-Pay baik untuk kepentingan membeli makanan maupun transaksi lainnya seperti transportasi. Sementara itu, untuk saldo mengendap di rekening OVO, bisa dikembalikan atau ditransfer ulang ke rekening perbankan.

"OVO berguna sih, sebagai dana talangan. Kalau akhir bulan enggak punya uang tunai dan berasa miskin terus pas buka OVO ternyata masih ada uangnya itu, cukup menghibur sih," cerita Satria semringah.

Pengguna OVO juga menjadi lebih masif lantaran berbagai pusat perbelanjaan atau mal yang berada di bawah naungan Lippo Group memberlakukan pembayaran parkir dengan menggunakan OVO. Dengan begitu, mau tidak mau, masyarakat harus mengunduh platform fintech keuangan tersebut. Situs Lippo Mall menyebut terdapat sekira 67 mal yang berada di bawah naungan perseroan, serta lima single purpose mall.

Infografik Uang Elektronik yang diizinkan bank indonesia
Infografik Uang Elektronik yang diizinkan bank indonesia


Selain menggunakan jaringan bisnis Lippo Group, OVO juga menjadi alat pembayaran jaringan taksi daring Grab di Indonesia, serta aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti dengan raksasa e-commerce Indonesia yaitu Tokopedia. Pada nama terakhir, peran OVO menggantikan TokoCash, uang elektronik Tokopedia yang urung diberi izin oleh Bank Indonesia (BI). Sejatinya, OVO juga menggantikan peranan Grab-Pay yang urung mendapat izin dari BI.

Sebagai catatan, masih dari laporan Morgan Stanley, pengguna Go-Pay biasanya memiliki dana mengendap (floating fund) dalam ekosistem pembayaran Go-Pay mereka di kisaran nominal terendah sebesar Rp215 ribu. Sedangkan pengguna OVO pada umumnya menyimpan sebesar Rp269 ribu.

Perusahaan keuangan asal AS ini juga menyebut bahwa laju pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia diperkirakan mencapai 50 miliar dolar AS pada 2027 mendatang. Data bank sentral Indonesia mencatat, transaksi uang elektronik Indonesia periode Januari-April 2019 mencapai 1,44 juta transaksi dengan nominal sebesar Rp31,41 triliun.

Di tingkat internasional, sektor fintech di bidang sistem alat pembayaran diprediksi bisa menghasilkan pendapatan sampai dengan 2,3 triliun dolar AS per tahun di dunia.

Baca juga artikel terkait UANG DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara