Google: Sudah Berkuasa, Monopoli Pula

killed by google. FOTO/killedbygoogle.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 19 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Google berbuat curang untuk mengalahkan para kompetitor mereka.
tirto.id - “Jika Anda tidak ditemukan di Google, artinya Anda sesungguhnya tidak ada di dunia ini.”

Pada 2013, Yoko Miyashita, Penasihat Umum Getty Images, kesal pada Google. Tahun itu, karena menilai bahwa penggunanya ingin memperoleh hasil pencarian instan, Google langsung saja menampilkan foto-foto Getty Images di muka pencarian.

Miyashita, sebagaimana diungkapkannya pada The New York Times, menyebut bahwa tindakan Google itu "tidak keren". Kunjungan ke situs web Getty yang seharusnya mereka dapatkan dari orang-orang yang menemukan mereka via Google jadi berkurang drastis.

Sialnya, alih-alih mendapatkan solusi, Google bersikap keras. Katanya, “jika Anda tidak setuju dengan kebijakan ini, kami akan menghapus Anda dari sistem Google.” Maka betul belaka ucapan Miyashita: entitas yang tidak ditemukan di Google, memang dapat diartikan "tidak pernah ada".

Curang dan Monopolistik

Sejak berdiri pada 1998 lalu, hingga hari ini Google berkuasa di dunia mesin pencari. Setiap detik, mereka memproses lebih dari 40 ribu kata kunci pencarian yang dilakukan penggunanya. Artinya, dalam sehari, ada lebih dari 3,5 miliar kata kunci yang diproses Google.

Kesuksesan Google mendulang masifnya pencarian melalui layanan mereka diramu dengan resep "sederhana". Yaitu, mesin super yang memindai ratusan miliar laman situs web ditambah dengan teknik penampilan hasil pencarian ala PageRank.

Hanya saja, meskipun berkuasa atas dunia pencarian, Google tetap memiliki celah untuk dikalahkan.

Masih mengutip The Times, Google adalah mesin pencari horizontal. Neha Narula, mantan teknisi Google yang kini bekerja pada M.I.T Media Lab, menyatakan bahwa dengan demikian kekuatan pencarian Google sesungguhnya terbatas.

Tatkala pengguna mengetik “berapa total populasi di Myanmar”, misalnya, Google kemudian akan mencari situsweb yang memiliki kata “populasi” dan “Myanmar” atau kombinasi di antaranya. Dengan PageRank, Google lalu menyusun situsweb yang dianggapnya paling sesuai dengan apa yang dikehendaki pengguna.

Lantas, menurut Narula, bagaimana misalnya bila pengguna mencari sesuatu dengan mengetik: “toko online mana yang menjual kulkas paling murah?” atau “tiket pesawat tujuan Singapura paling murah jika saya ingin berangkat di pagi hari?”

Jenis pertanyaan demikian jelas lebih rumit dibandingkan “berapa total populasi di Myanmar”. Dan itulah yang disebut pencarian vertikal, atau pencarian dengan hanya memiliki satu jawaban tunggal yang benar. Mesin pencari vertikal harus benar-benar memperoleh satu jawaban.

Dan itu, menurut Narula, “sangat-sangat sulit dilakukan.”

Google sebetulnya sadar untuk memperkaya kekuatannya dengan pencarian vertikal. Pada 2005, dalam bocoran email internal, eksekutif Google pernah bertanya “bagaimana nasib Google jika teknologi pencarian vertikal tidak ditinggalkan?”

Jawabannya: karena semakin banyak pengguna yang mencari jawaban spesifik, “penggunaan Google akan jauh menurun.”

Salah satu startup yang mengembangkan pencarian vertikal ialah Foundem.com. Didirikan pada 2006 oleh Shivaun Moeran dan Adam Raff, Foundem.com merupakan mesin pencari vertikal untuk menemukan harga terbaik dari berbagai barang yang dijual di berbagai toko online.

Ketika seseorang mencari “kaos murah untuk malam mingguan” sebagai contoh, maka Foundem.com dapat langsung memberikan jawaban yang memuaskan.

Namun, karena Foundem.com masih bukanlah siapa-siapa di dunia maya, seperti Getty Images, mereka memanfaatkan Google untuk mengenalkan diri. Maka, ketika pengguna Google mengetik “kaos murah untuk malam mingguan”, Foundem.com muncul sebagai jawaban teratas.

Sialnya, lantaran merasa terancam dengan keberadaan Foundem.com, maka tak sampai 48 jam sejak diluncurkan, Google merekayasa agar hasil pencarian dari Foundem.com melorot ke halaman-halaman belakang.

Dan seperti kasus Getty, kunjungan ke Foundem.com pun ikut melorot.

Kecewa diperlakukan demikian, Foundem.com kemudian melakukan gugatan pada Google. Mereka menganggap raksasa mesin pencari ini melindungi produknya dari startup yang memberikan hasil pencarian lebih baik dengan berbuat curang dan monopolistik.

Lagi-lagi, dan seperti kasus Getty, Google bergeming. Mereka mengatakan bahwa melorotnya kunjungan ke Foundem.com terjadi karena selalu melakukan pembaruan algoritma. Alasan tersebut diacuhkan oleh otoritas Uni Eropa. Kala itu, Margrethe Vestager selaku Komisioner Uni Eropa, menyatakan bahwa Google harus membayar denda sekitar $26 miliar.

Akan tetapi, sebagai perusahaan yang menghasilkan lebih dari $130 miliar saban tahun, jumlah denda tersebut jelas tak terlalu berarti bagi perusahaan gigantis seperti Google.

Kecurangan jadi Kelaziman

Merunut sejarahnya, Google bukan hanya pernah berlaku curang kepada Getty Images dan Foundem.com saja, tapi juga berbagai perusahaan lain.

Google pernah menggunakan kekuatannya untuk menghentikan laju Skyhook Wireles, perusahaan pencipta sistem navigasi, dengan menekan Samsung dan Motorola agar tidak bekerjasama dengannya.

Google juga sempat mengambil konten Yelp, TripAdvisor, dan CitySearch, yang merupakan layanan pencarian lokal, untuk langsung ditampilkan di muka Google. Sementara dengan TradeComet, layanan seperti Foundem.com, Google pernah pula melonjakkan harga iklan ketika mengetahui perusahaan itu memperoleh untung tinggi.

Sialnya, perusahaan teknologi yang punya kekuatan seperti Google sudah umum melakukan cara serupa.

The New York Times, dalam laporan investigasi yang dikerjakan bersama Sensor Tower, firma analisis aplikasi, mengungkapkan bahwa Apple bermain "curang" agar aplikasi mereka digunakan pengguna Apple. Dalam analisis terhadap 700 kata kunci yang digunakan untuk mencari aplikasi di App Store, Apple disebut mengutamakan aplikasi buatannya dibanding para pesaing.

The Times mencontohkan, pada 2013, sebelum Apple meluncurkan Apple Music, Spotify menjadi aplikasi teratas tatkala pengguna memasukkan kata “music” di App Store. Namun, tak lama selepas Apple Music lahir di Juni 2016, Spotify tergeser ke urutan ke empat.

Apple tak berhenti di situ saja. Pada akhir 2018, demi memuluskan kesuksesan aplikasi-aplikasinya, ketika pengguna memasukkan kata “music” di kolom pencarian App Store, hasil yang diperoleh secara berurutan ialah: Apple Music, Garage Band, Music Memos, iTunes Remote, Logic Remote, iTunes Store, iMovie, dan Clips.

Artinya: banyak aplikasi buatan Apple yang sebetulnya tidak relevan dengan kata kunci itu tampil di muka hasil pencarian. Spotify sendiri berada di posisi ke-23.

Pun, kecurangan ini terjadi tatkala kata kunci “TV” atau “Movie” dimasukkan. Sebelum Apple merilis Apple TV, Netflix jadi teratas. Lalu ketika The Times memasukkan kata kunci yang sama pada Juni 2018, Netflix terjun ke urutan ratusan.

Philip Schiller, Senior Vice President Apple, membantah kecurangan yang dituduhkan pada perusahaannya. Katanya, “hasil pencarian dirancang dengan algoritma yang memprediksi apa yang pengguna inginkan.”


Berkaca pada Standard Oil Company

Perusahaan yang bersikap monopolistik bukan hal baru dan tidak hanya terjadi di dunia teknologi. Contoh kasus terjelas bisa merujuk pada awal 1900-an, tatkala Amerika Serikat memiliki Standard Oil Company, perusahaan yang didirikan John D. Rockefeller.

Dalam paper “Predatory Price Cutting: The Standard Oil (N. J.) Case” yang ditulis John S. McGee (PDF, 1958), disebut bahwa sejak akhir dekade 1880-an, Standard telah menguasai pasar perminyakan di AS, mengendalikan 90 hingga 95 persen jalannya industri ini.

Kekuasaan ini didapat selepas Standard Oil sukses merevolusi dunia perminyakan. Sebelum Standard lahir, untuk menerangi rumah diperlukan minyak dari ikan hiu seharga $3 per galon. Namun, dengan teknologi baru yang diciptakan, Standard Oil sukses mengubah minyak mentah menjadi minyak tanah, hingga enurunkan biaya penerangan rumah menjadi hanya 8 sen.

Seiring berjalannya waktu, dan dengan kerjasama dengan banyak instansi di AS, Standard menjadi raksasa. Hingga akhirnya, pada 1906, Presiden Theodore Roosevelt menggugat Standard ke meja hijau.

Alasannya: “Jika suatu perusahaan memiliki kekuatan yang lebih kuat dibandingkan perusahaan lain, mereka pasti bertingkah laku berbeda. Maka, demi membuat perusahaan lain memiliki kesempatan yang sama, perusahaan yang sangat kuat mesti diberi aturan khusus.”

Lima tahun berselang, pengadilan memutuskan bahwa Standard Oil harus dipecah menjadi 33 perusahaan. Dari pecahan ini kemudian lahirlah Chevron dan Exxon.

Hal serupa terjadi pada 1998. Kala itu, Microsoft digugat Pemerintah Amerika Serikat karena diduga melakukan praktik monopoli. Sebabnya, atas kekuasaannya pada Windows, Microsoft lantas memberikan beberapa aplikasi secara gratis dan terpasang langsung, khususnya Internet Explore, bagi pengguna mereka.

Tindakan tersebut membuat Netscape, perusahaan di balik Netscape Navigator, hancur.

Pada tahun 2000, atas kekuatan monopoli yang dimiliki, pengadilan memutuskan Microsoft harus dipecah menjadi dua perusahaan, yakni satu perusahaan yang khusus menangani Windows dan satu lagi untuk menangani non-Windows. Sayangnya, keputusan ini kemudian dianulir.

Standard Oil kini hanya tinggal nama. Lalu, dengan rengsekan Linux, Mac, dan kehadiran Android, sistem operasi Windows yang dimiliki Microsoft juga tak lagi berkuasa. Sementara Internet Explorer, yang semula dianggap telah mematikan Netscape, kini sekadar kenangan karena telah dikalahkan Chrome.

Dengan begitu, gugatan anti monopoli seakan sia-sia belaka.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight