Giovanni Brusca: Pembunuh Bayaran Tersadis dalam Sejarah Mafia

Infografik Giovanni Brusca
Giovanni Brusca, 36, salah satu buronan paling dicari di Italia, yang dianggap sebagai tokoh top dalam hierarki Mafia, dideportasi oleh polisi bertopeng di luar Kepolisian H.Q. di Palermo, Sisilia, Selasa 21 Mei 1996. AP Photo / Alessandro Fucarini
Oleh: Eddward S Kennedy - 22 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mengenal Giovanni Brusca, pembunuh tersadis dalam sejarah mafia Sisilia.
tirto.id - Sepanjang hidupnya, pria ini disebut-sebut pernah menghabisi nyawa sekitar 200 orang. Orang ini memang begitu kejam, bahkan dianggap sebagai pembunuh bayaran paling sadis dalam sejarah mafia. Dia adalah Giovanni Brusca.

Brusca lahir dari keluarga mafia di San Giuseppe Jato, sebuah daerah di Palermo, Italia, pada 20 Februari 1957. Kakek buyut dan kakeknya adalah mantan petani yang kemudian diangkat menjadi anggota kelompok mafia setempat. Sementara ayahnya, Bernardo Brusca, adalah godfather lokal yang kelak dihukum seumur hidup karena berbagai kasus pembunuhan berencana.

Pekerjaan pertama Brusca adalah sopir pribadi Bernardo Provenzano, seorang Don seperti ayahnya. Saat itu usianya masih 20 tahun. Sejak itu pangkatnya naik menjadi bagian grup pembunuh bayaran Corleonesi (sebuah faksi di dalam jejaring mafia Sisilia yang mendominasi Cosa Nostra pada 1980-an dan 1990-an) yang berada di bawah komando Salvatore "Totò" Riina.

Sejak ayahnya ditangkap pada 1989, Brusca-lah yang menggantikannya sebagai capomandamento. Kedegilan Brusca pun tak terbendung. Ia menjelma monster haus darah. Sebab itu pula ia punya beberapa julukan: “Algojo”, “Eksekutor”, dan terakhir yang paling sering disebut orang, “Si Babi”.

Semua julukan ini pada dasarnya merujuk sifat kejamnya.

Dua Korban Menggegerkan: Giovanni Falcone dan Giuseppe Di Matteo


Sebuah kasus tahun 1993 menunjukkan betapa sadisnya Brusca. Ia menculik, membunuh, lalu merendam bocah berusia 11 tahun bernama Giuseppe Di Matteo ke dalam larutan asam.

Di Matteo adalah anak dari Santino Di Matteo, biasa dikenal dengan nama Mezzanasca, salah satu anggota Cosa Nostra dari wilayah Altofonte. Ketika tertangkap pada 1992, Santino secara mengejutkan bersedia bekerja sama dengan aparat untuk mengungkap kasus pembunuhan dua hakim pemberani anti-mafia, Giovanni Falcone dan Paolo Borsellino. Mengetahui hal tersebut, Salvatore Riina berang bukan main. Ia pun mengutus Brusca untuk menghabisi Santino.


Sedikit kisah mengenai Falcone. Ia merupakan sosok asli kelahiran Sicilia yang bekerja sebagai Hakim di Palace of Justice di Palermo. Bersama Borsellino, Falcone kemudian memimpin Antimafia Pool, sebuah satgas anti-mafia yang dibentuk oleh atasan mereka yaitu Hakim Chinnici. Tugas utama tim investigasi ini adalah menyeret Salvatore Riina ke penjara.

Dalam konteks waktu itu, tugas tersebut jelas terbilang mahaberat. Dengan status Salvatore Riina sebagai pemimpin dalam Corleonessi, siapapun yang hendak menangkapnya tak hanya wajib memiliki nyali besar dan anggota yang mumpuni, tapi juga butuh strategi yang brilian. Untuk menyelesaikan kasus ini, Falcone turut dibantu Tomasso Buscetta. Mantan mafia yang ditangkap di rumah persembunyiannya di dekat hutan Amazon ini bersedia menjadi informan pemerintah—atau "pentiti" dalam istilah Italia.

Kesediaan Buschetta menjadi pentiti membuat dunia mafia mengecam dirinya sebagai pengkhianat. Namun demikian, ia tidak merasa seperti itu dan justru menganggap Salvatore Riina-lah yang pengkhianat karena telah melanggar 'etika' mafia dengan membunuh para bos mafia lain, juga wanita beserta anak-anak, agar dapat berkuasa sepenuhnya, sesuatu yang sangat diharamkan dalam kode etik kejahatan mafia. Hal lain yang membuat Buscetta bersedia adalah karena ia punya dendam kepada Salvatore Riina lantaran dua anaknya turut dibunuh.


Atas bantuan Buscetta, sebanyak 474 anak buah Riina berhasil diringkus dan 338 orang dinyatakan bersalah. Begitu banyaknya jumlah tahanan, maka pemerintah Italia bahkan harus membuat jeruji khusus yang dinamakan Maxiprocesso (Maxi Trial). Demikian pula ketika pengadilan para tersangka yang juga diselenggarakan secara berbeda pada Desember 1987. Keberhasilan ini membuat pamor Falcone dan Borsellino melangit. Khusus Falcone, ia pun dijagokan menjadi Ketua Pengadilan Palermo.

Namun, setelah voting dilakukan, Falcone ternyata kalah oleh sosok hakim lain yang dikenal memiliki kedekatan dengan Riina. Walhasil, ratusan anak buah yang sebelumnya dinyatakan bersalah dari Maxi Trial dibebaskan. Tak hanya itu, Riina yang masih muntab dengan kedua hakim pemberani tersebut ingin mereka mati. Ia pun mengutus Brusca untuk menjadi eksekutor. Hasilnya: Keduanya tewas dalam ledakan bom masing- masing pada 23 Mei 1992 dan 19 Juli 1992. Kelak tragedi itu dinamakan Capaci Bombing.

Kasus tersebut dengan segera membuat rakyat Sisilia berang bukan main. Riina dan komplotannya pun diburu habis-habisan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Sisilia, mereka menolak bungkam terhadap mafia. Dan kemarahan itu membuahkan hasil: pada 15 Januari 1993, Riina berhasil ditangkap. Keberhasilan ini salah satunya berkat Balduccio Di Maggio, sosok mafia lain yang berkolaborasi dengan aparat setelah ia mendapat kabar akan dihabisi Riina.

Pada November 1993, Santino, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam eksekusi Falcone dan Borsellino, juga bersedia menjadi pentiti bagi pengadilan. Mengetahui hal ini, Brusca kalap. Muncullah kemudian ide untuk menculik anak Santino, Giuseppe. Menurut pengakuan salah satu penculik, Gaspare Spatuzza, komplotan mereka berpakaian seperti polisi dan mengatakan kepada Giuseppe bahwa ia dibawa untuk menemui ayahnya yang kala itu tengah berada dalam lindungan aparat.


Giuseppe diculik selama 26 bulan oleh Brusca. Selama ratusan hari itu pula ia mengalami siksaan dan berbagai foto mengerikannya kerap dikirim ke Santino agar ia bungkam. Ketika Santino akhirnya mencoba bernegosiasi, Brusca yang sudah tak tahan memutuskan membunuh Giuseppe dengan cara dicekik. Tak hanya itu, tubuh Giuseppe juga direndam ke dalam tong berisi cairan asam.

Dalam istilah Italia, tindakan bengis macam itu disebut sebagai lupara bianca: sebuah upaya menghalangi penyelidikan dengan menghancurkan barang bukti. Tapi, lebih dari itu, Brusca memang sengaja melakukannya agar keluarga Giuseppe, terutama Santino sebagai ayahnya, tidak dapat menguburkan jasad sang anak.



Brusca akhirnya ditangkap pada 20 Mei 1996 di sebuah rumah kecil di Agrigento ketika ia sedang makan malam bersama keluarganya. Penangkapan tersebut dirayakan oleh puluhan polisi. Mereka bersorak sorai, menyembunyikan klakson, hingga saling berpelukan. Beberapa mencopot topeng untuk menunjukkan mereka tidak lagi takut kepada mafia.

Brusca didakwa hukuman seumur hidup karena berbagai kasus kejahatan, terutama sebagai salah satu dalang pembunuhan Falcone dan Borsellino. Untuk mencari keringanan, Brusca kemudian bersedia menjadi pentiti. Namun, sejak tiga bulan pertama, keterangannya banyak yang tidak dapat diverifikasi. Sampai kemudian ia membocorkan rahasia: pembunuhan Falcone melibatkan Menteri Dalam Negeri Italia kala itu, Nicola Mancino. Atas berbagai informasi yang diberikan, Brusca pun diberi “hadiah”: diizinkan keluar dari penjara selama satu minggu setiap 45 hari untuk menemui keluarganya.

Bagaimana dengan Santino ketika mengetahui Brusca berhasil ditangkap? Syahdan, keduanya pernah bersemuka langsung di pengadilan saat pengambilan sumpah untuk menjadi pentiti. Santino pun segera berseru kepada hakim:

"Saya menjamin kolaborasi saya, tetapi untuk hewan ini saya tidak menjamin apa pun. Jika Anda meninggalkan saya sendirian dengannya selama dua menit, saya akan segera memotong kepalanya!"

Baca juga artikel terkait MAFIA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Windu Jusuf
DarkLight