Gerutu Warga Depok karena Jalan Amblas: Macet, Debu, Berisik Pula

Oleh: Riyan Setiawan - 10 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Jembatan Mampang amblas. Warga mesti sabar menghadapi macet yang kian akut.
tirto.id - Macet adalah nama tengah Kota Depok. Tapi beberapa hari ke belakang, terutama di Jalan Sawangan, macet semakin akut setelah Jembatan Mampang ambrol Kamis (27/6/2019) malam. Jembatan yang rusak, tak tanggung-tanggung, menghubungkan empat jalur, yakni arah Tanah Baru ke Sawangan dan juga Mampang menuju Citayam. Lokasinya persis di sebelah Masjid Jami' Al-Istiqomah.

Muhammad Aldie (22) adalah salah satu korban jahatnya jalanan penyangga ibukota ini. Aldi mengendarai motor matik dari rumahnya di Sawangan menuju ke Margo City, tempatnya bekerja. 20 menit dia lewati tanpa bergerak sedikit pun. Dia pun misuh: "Ini merugikan buat saya, yang biasanya hanya sekitar 45 sampai satu jam [ke tempat kerja]. Bisa satu jam setengah."

Saat Aldie marah-marah, Selasa (9/7/2019) kemarin sekitar pukul 10.00, terpantau para pekerja mulai memperbaiki jembatan yang amblas. Dua juru parkir yang mengenakan rompi hijau stabilo jadi penguasa tunggal di jalanan berdebu itu. Mereka menerapkan sistem buka tutup.

Pengendara, yang mungkin sudah 'diteror' bos karena tak kunjung sampai ke tempat kerja dan mungkin juga sudah mandi keringat, harus menunggu 20an menit hanya untuk bisa mendapatkan kesempatan lewat.

Kemacetan panjang pun terjadi. Dari arah Tanah Baru terpantau kendaraan 'parkir' sepanjang 300 meter dan Sawangan sekitar 100 meter. Sementara dari arah Cinere dan Citayam macet sekitar 100 meter.

Menurut kesaksian warga, jembatan ini memang terlalu sering berlubang. Selama itu pula otoritas terkait hanya menambal-nambalnya saja. Aldie lantas meminta Pemerintah Kota Depok lebih serius. Misalnya, "jembatan lebih dibuat permanen dan dibuat lebih baik lagi."


Jika Aldie yang kerja di Jalan Margonda saja mengeluh, maka wajar jika yang bekerja lebih jauh dari itu lebih bersungut-sungut. Hadi (38) misalnya, kerja di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan.

"Waktunya jadi ngaco," katanya kepada saya.

Hadi biasa berangkat kerja pukul 09.30 dan sampai satu jam kemudian. Tapi karena perkara jembatan, "setengah jam ya di sini aja menunggu macet."

Sementara Herman (38), warga Cinere yang bekerja di daerah Citayam, menyoroti soal petugas yang kelewat cuek. Memang tak ada Polantas setidaknya hingga pukul 11. Yang ada hanya dua juru parkir tadi. Petugas Dishub pun baru datang sekitar pukul 10.45.

"Aparat kita jangan duduk-duduk saja. Kasihan ini. Harapan saya ada Polantas yang mengatur lalu lintas," pintanya, sederhana.

Bukan cuma pengendara, warga sekitar juga tak kalah nyaring gerutunya. Heri (45), seorang penjaja pulsa, misalnya, pusing bukan main karena "suara klakson yang berisik," lebih berisik dari hari-hari biasanya. Dia juga mengeluh soal polusi dan debu yang lebih ganas. Ini belum termasuk panas--jika matahari sedang terik-teriknya.


JALAN AMBLAS DEPOK
Kemacetan di perempatan Mampang, Depok akibat jembatan Amblas. Selasa 9/7/2017. tirto.id/Riyan Setiawan


Keluh-kesah ini akan terus berulang, atau mungkin mereka akan terbiasa juga. Soalnya, Sekretaris Dinas PUPR Depok Citra Indah Yulianty mengatakan perbaikan memakan waktu sampai 75 hari atau sampai September nanti.

"Agak Bingung Juga, Ya..."


Kabid Bimbingan Keselamatan dan Ketertiban Dinas Perhubungan Kota Depok, Agus Tamim, mengaku bingung bagaimana mengurai macet ini. "Karena titik kemacetannya sangat sulit direkayasa," kata Agus.

Sejauh ini yang mereka lakukan adalah menerjunkan delapan personel dalam satu sif. Sif pertama dari pukul 05.00 sampai 13.00, sif kedua dari 13.00 sampai 21.00. Jadi ada 16 petugas. Mereka berjaga di empat jalur dan akan bekerja di sana hingga perbaikan rampung.

Khusus kemarin, Agus berdalih tak ada petugas terpantau karena mereka semua sedang apel bersama di Kantor Dishub Depok. "Semua petugas lapangan sedang ikut apel bersama, menerima arahan Pak Kadis."

Baca juga artikel terkait DEPOK atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight