Seri Para Pelukis Revolusi

Gerilya Kebudayaan Pelukis Djaya Bersaudara

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 18 Oktober 2018
Dibaca Normal 5 menit
Pelukis Djaya Bersaudara membawa panji Indonesia berkelana di Eropa. Benarkah mereka telik sandi?
tirto.id - Pada 9 Juni-2 September 2018 lalu, Stedelijk Museum, Amsterdam menggelar pameran karya-karya pelukis Djaya Bersaudara. Pameran bertajuk “The Djaya Brothers: Revolusi in the Stedelijk” itu merupakan retrospeksi atas pameran tunggal Djaya Bersaudara di museum yang sama pada 1947. Pameran ini menampilkan karya Djaya Bersaudara dalam konteks sejarah hubungan Indonesia-Belanda selama periode Revolusi.

Seturut Kerstin Winking, kurator sekaligus periset pameran ini, tema utama yang diusung Stedelijk Museum adalah bagaimana Djaya Bersaudara mempromosikan Revolusi Indonesia di Eropa. Karya-karya Djaya Bersaudara yang dipajang selama pameran berfokus pada tema sintesis antara tradisi Hindu-Jawa dan seni Barat modern.

Selain lukisan, pameran ini juga menampilkan arsip terkait pameran Djaya Bersaudara pada 1947 serta karya-karya seniman masa Revolusi seperti Mochtar Apin dan Baharudin koleksi Stedelijk Museum. Tak ketinggalan pula foto-foto pelantikan Sukarno sebagai Presiden RIS pada 1949 hasil jepretan Henri Cartier-Bresson.

Agus Djaya Suminta dan adiknya, Otto Djaya Suntara, adalah bagian penting dari perkembangan awal seni rupa modern Indonesia. Bisa berpameran di museum seni rupa paling prestisius di Belanda pada 1947—kala hubungan Indonesia dan Belanda begitu tegang—tentu sebuah pencapaian tersendiri. Namun, nama mereka tenggelam oleh para raksasa macam Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, atau Basuki Abdullah.

Karenanya, pameran retrospeksi di Stedelijk Museum beberapa waktu silam adalah pembuka pintu untuk menilik lagi peran mereka di masa lalu yang terlupakan.

Bermula dari Persagi

“Di antara rekan-rekan Pak Yudho mengajar, ada seorang bernama Agoes Djajasoeminta. Pemuda yang lucu ini punya bakat melukis. Apalagi sebab teman-temannya dari Banten dan teman-temannya sekolah sering mengatakan bahwa dia tampangnya macam pelukis, maka dia pun berusaha keras menjadi pelukis. Dan dengan Saudara Agoes ini saya di kemudian hari bekerja dalam bidang seni lukis.”

Demikian impresi pelukis S. Sudjojono terhadap Agus Djaya yang dicatatnya dalam Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017: 51). Kala itu, sekira 1930-an, Agus Djaya sudah menjadi guru gambar di Sekolah Arjuna, Petoyo, Jakarta.

Tentu tak serta merta karena bertampang pelukis ia menjadi pelukis. Setidaknya pelukis kelahiran Pandeglang, 1 April 1913 itu telah belajar melukis sejak bersekolah di HIS Pandeglang pada umur 9. Bersama Sudjojono ia mulai ikut memikirkan tentang pembentukan suatu perkumpulan “ahli gambar” bumiputra.

Dari sekadar omong-omong di Sekolah Arjuna, mereka berdua lantas mengajak beberapa ahli gambar lain untuk ikut mendirikan perkumpulan. Maka berdirilah Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada awal 1938. Kala itu Agus Djaya terpilih sebagai ketua pertamanya.

Anggota Persagi tidak melibatkan diri dalam politik, tetapi mereka tak buta politik. Agus Djaya dan Sudjojono, misalnya, sangat terpengaruh oleh gerakan nasionalis sezaman. Mereka diikat oleh satu ide: mencoba membayangkan imaji tentang seni lukis yang khas Indonesia.

Menurut Inge-Marie Holst dalam Dunia Sang Otto Djaya 1916-2002 (2016), secara artistik karya-karya Persagi fokus pada manusia dan pengalaman-pengalaman riil kehidupan, sebagai kritik mereka atas aliran mooi Indie ala Belanda. Namun, Agus Djaya sendiri bukanlah penentang garis keras mooi Indie.

“Agus Djaya bersikap filosofis dan netral dalam mengevaluasi fenomena mooi Indie, sebuah gaya pelukisan yang sangat ditentang Sidjojono. Sudjojono justru sangat antusias akan wacana perlunya mooi indie dihentikan,” tulis Inge-Marie Holst (hlm. 17).

Sementara itu, Otto Djaya bergabung dengan Persagi agak belakangan. Sama seperti kakaknya, Otto Djaya mulai menggeluti seni lukis sejak belia pada umur 12. Setelah lulus sekolah menengah, ia menyusul ke Batavia dan bersekolah di tempat kakaknya mengajar.

Nama Djaya Bersaudara mulai diperhitungkan kala mereka ikut berpameran bersama Persagi pada 1941 di Bataviasch Kunstkring. Mengingat Bataviasch Kunstkring adalah galeri seni paling prestisius di Hindia Belanda, pameran itu jelas sebuah peluang besar.

Tak sembarang pelukis bisa berpameran di sana. Kala itu, kurasi Bataviasch Kunstkring berpatokan pada karya-karya pelukis besar seperti Pieter Ouburg dan Jan Frank. Juga, pameran itu bukanlah usaha pertama Persagi menembus Bataviasch Kunstkring. Proposal mereka pada 1938 pernah ditolak.

Menurut kritikus dan dosen sejarah seni ITB Aminuddin Th. Siregar, keberhasilan Persagi berpameran di Bataviasch Kunstkring tak semata karena kualitas karya mereka. Lantaran kebanyakan anggota Persagi adalah pelukis muda yang belum sampai umur 30, mereka masih dalam tahap pencarian karakter, sehingga kualitasnya tentu belum masuk pertimbangan.

“Perkara mereka lalu dibolehkan untuk berpameran bukan karena karya mereka bagus. Ada konteks politik Perang Dunia II yang melingkupinya. Para pengurus Bataviasch Kunstkring merasa perlu mendapat dukungan dari seniman Indonesia. Itu sebabnya proposal kedua Persagi diterima pada 1941,” tutur Aminuddin.

Matang di Masa Jepang

Periode penting dalam proses kreatif Agus dan Otto Djaya adalah di masa pendudukan Jepang. Di masa ini Agus Djaya banyak berperan membimbing pelukis-pelukis yang lebih muda. Sementara Otto Djaya mengasah teknik dan kepekaan artistiknya.

Solichin Salam dalam Agus Djaya dan Sejarah Seni Lukis Indonesia (1994: 17-18) menyebut bahwa Agus Djaya bergabung dalam Keimin Bunka Shidoso alias Pusat Kebudayaan Indonesia atas rekomendasi Sukarno. Ia ditunjuk sebagai ketua bagian seni rupa.

Dengan sponsor lembaga ini, Agus Djaya kemudian mendirikan sebuah akademi seni lukis. Dibantu Sudjojono dan Basuki Abdullah, Agus membimbing generasi pelukis muda seperti Affandi, Muchtar Apin, Hendra Gunawan, Dullah, hingga Henk Ngantung. Otto juga ikut berproses di sini.


Djaya bersaudara sadar belaka bahwa seniman saat itu diberi ruang karena dipakai untuk propaganda oleh Jepang. Karya-karya Djaya Bersaudara di masa ini pun tak terlepas dari upaya memobilisasi masyarakat. Karya mereka dari periode ini umumnya menggambarkan tentang kerja bakti, penyuluhan kesehatan, giat membangun, hingga kegiatan menanam kapas dan jarak.

Beberapa pengamat seni berkomentar sinis terhadap karya seni yang muncul dalam periode ini. Jangan-jangan karya seniman Indonesia di zaman Jepang ini tidak bernilai karena hanya dipakai untuk propaganda. Tetapi, Aminuddin mengamati bahwa justru di masa inilah Djaya Bersaudara menemukan karakter khas mereka, terlebih Otto.

Di akhir masa pendudukan, Otto ikut pelatihan PETA di Bogor. Tiga bulan masa pelatihan itu adalah waktu yang sulit baginya. Meski begitu, ia menyempatkan diri menggambar di waktu istirahat. Hasilnya adalah puluhan ilustrasi dan karikatur yang menggambarkan kehidupan di barak.

“Dalam zaman Jepang inilah Otto menemukan kekhasan karyanya yang ilustratif, sangat keseharian, dan tajam merekam aktivitas sosial. Otto ini kemudian dikenal dengan karyanya yang sangat naratif,” tutur Aminuddin.

Jadi Telik Sandi di Eropa?

Usai Proklamasi, sebagaimana dicatat Solichin Salam dalam bukunya (hlm. 20), kakak beradik Djaya pindah ke Sukabumi dan ikut revolusi sebagai tentara. Tapi itu tak lama. Pada awal 1946 mereka mundur dari ketentaraan.

Otto kemudian mengikuti Presiden Sukarno dan melukisnya ketika berpidato. Beberapa karya Otto pun akhirnya menjadi koleksi istana. Pada awal 1947 Otto dan Agus Djaya mendapat beasiswa belajar ke Belanda. Pada Juni Djaya bersaudara berangkat ke Belanda dengan kapal laut. Inge-Marie dalam bukunya (hlm. 34) menyebut Otto Djaya membawa serta 170 lukisan karyanya.

Keberangkatan Djaya bersaudara ke Belanda ini kemudian memunculkan perdebatan. Sebuah majalah seni kala itu mengolok-olok mereka sebagai antek van Mook karena pilihan mereka untuk belajar ke Belanda. Sementara, banyak kawan seniman mereka yang ikut bertempur.


Tentang ini Aminuddin berkomentar bahwa pilihan mereka ke Belanda adalah wajar sebagai seniman yang ingin maju.

“Indonesia tak punya sekolah yang cukup baik dan situasi kacau karena perang, tentu mereka akan menerima beasiswa itu apapun kata orang. Saya kira terlalu dini kalau menganggap Djaya Bersaudara sebagai antek Belanda karena ada konteks yang mengikat,” katanya.

Lain itu, berkembang pula cerita bahwa Djaya Bersaudara dikirim ke Belanda sebagai intelijen. Seperti disebut Solichin Salam dalam bukunya (hlm. 20), Agus Djaya diberi mandat oleh presiden dan menteri pertahanan untuk mengupayakan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Solichin Salam juga menyertakan sebuah piagam penghargaan kepada Agus Djaya atas perannya sebagai Intelligent Service yang ditandatangani Menteri Pertahanan Djuanda pada 1959.

“Dalam tugas dan operasi ini termasuk mendekati dan kerja sama dengan golongan ‘Etis’ dan ‘Progressif’, baik yang sudah maupun ada kecenderungan bersimpati kepada Kemerdekaan Bangsa Indonesia,” tulis Solichin Salam (hlm. 21).

Kebenaran tentang peran Djaya Bersaudara sebagai mata-mata ini masih sumir hingga kini. Tetapi yang terang keduanya nisbi sukses memperkenalkan seni rupa kontemporer Indonesia kepada khalayak Eropa.

“Di sana mereka dianggap sebagai pembawa panji kebudayaan Indonesia. Dan karya-karya mereka memang sangat Indonesia sekali,” kata Aminuddin.

Infografik Seri Pelukis Revolusi Djaya Bersaudara


Pameran Djaya Bersaudara yang pertama di Eropa digelar di Stedelijk Museum Amsterdam pada akhir 1947. Stedelijk Museum adalah museum seni rupa modern terkemuka di Belanda. Agus dan Otto adalah pelukis kontemporer Indonesia pertama yang berpameran di sana. Karenanya ini adalah pameran istimewa.

Dalam pameran itu Agus memajang 45 karya, sementara Otto 81 karya. Lukisan-lukisan mereka umumnya menggambarkan detail-detail suasana Revolusi Indonesia dan legenda rakyat. Karya Agus Djaya sangat kental terpengaruh gaya impresionis Perancis, sementara Karya Otto lebih dekat pada ekspresionisme.

Media massa Belanda tak ketinggalan mengulas karya-karya Djaya Bersaudara. Seperti dikutip Inge-Marie dalam bukunya (hlm. 37-39), umumnya kritikus seni Belanda menganggap karya mereka adalah perpaduan antara visi Timur dengan teknik Barat.

Pameran pertama itu menjadi pembuka pintu mereka berkelana di Eropa. Mereka kemudian berpameran di banyak tempat, di antaranya di Museum Stadelijk, Den Haag, dan Rotterdam. Mereka juga mengunjungi dan berpameran di Brussels, Paris, Praha, hingga Monte Carlo.

Di luar kesenian kegiatan Djaya bersaudara tentu saja belajar. Mereka terdaftar di Rijksakademie voor Beeldende Kunsten. Secara terpisah Otto juga mengikuti kuliah filsafat di Gemeentelijke Universiteit Amsterdam. Sementara Agus memilih belajar jurnalistik di Universiteit Amsterdam.

Djaya Bersaudara pulang ke Indonesia pada 1950. Sesampainya di tanah air, Otto banyak menggambar karikatur untuk majalah Merdeka. Sementara Agus sempat bergabung di agensi periklanan yang dibikin B.M. Diah. Kemudian pada 1953 ia sekeluarga hijrah ke Bali dan mendirikan galeri di sana.


==========

Sepanjang Oktober hingga November, Tirto menayangkan edisi khusus bertajuk "Seri Para Pelukis Revolusi". Serial ini ditayangkan setiap Kamis.

Baca juga artikel terkait SEJARAH SENI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan