Gerakan Kiri dan Kaum Buruh Melawan Elitisme Olimpiade

Oleh: Sekar Kinasih - 14 Agustus 2021
Dibaca Normal 5 menit
Olimpiade awalnya adalah kompetisi elitis. Ia memicu kompetisi alternatif yang lebih egaliter, diselenggarakan kalangan kiri dan kaum buruh.
tirto.id - Setelah nyaris setengah abad berlalu, pada Olimpiade Tokyo 2020 kemarin Inggris akhirnya kembali meraih medali emas untuk cabang olahraga (cabor) tim berkuda. Namun siapa sangka kalau olahraga yang erat citranya dengan dunia kebangsawanan ini dimenangkan oleh atlet berlatar belakang sederhana.

Salah satunya Oliver Townend, anak dari keluarga pemerah susu kuda di perdesaan Yorkshire, 340 kilometer arah utara London. Saat berusia 16, Townend memutuskan tidak melanjutkan sekolah agar bisa bekerja untuk membiayai hobinya berkuda. Ada pula Tom McEwen yang merupakan anak dokter hewan, lalu Laura Collett yang dibesarkan oleh ibu tunggal yang bekerja sif malam di stasiun pengisian bahan bakar.

Ketiganya berasal dari latar belakang sosial-ekonomi yang kontras dengan para juara Olimpiade Munich 1972. Kala itu, tim berkuda Inggris terdiri dari menantu Ratu Elizabeth II, Mark Phillips, kerabat kerajaan Mary Gordon-Watson, dan Richard Meade, lulusan Universitas Cambridge dari keluarga pencinta berkuda. Meade bahkan sudah mendulang emas pada cabor sama di Olimpiade Meksiko 1968 bersama dua atlet lain yang berlatar belakang militer.

Perhelatan Elite dan Bias Kelas

Tak hanya berkuda, Olimpiade era modern secara umum memang erat dengan citra elite dan eksklusif—baik dilihat dari sisi penyelenggara maupun peserta.

Acara yang berawal dari Yunani kuno ini digagas kembali pada akhir abad ke-19 oleh seorang ningrat dan pendidik asal Prancis, Pierre de Coubertin. Pada 1894, dua tahun sebelum perhelatan Olimpiade modern pertama di Athena, Coubertin mendirikan International Olympic Committee (IOC).

IOC tak lebih dari sekadar “klub elitis,” kata sosiolog John Horne. Dalam buku Understanding the Olympics (2020) yang ditulis bersama Garry Whannel, Horne menjelaskan bahwa IOC mencerminkan tradisi perkumpulan laki-laki aristokrat abad ke-18, semacam grup sosialita yang disebut gentlemen’s club. Peserta begitu eksklusif sampai-sampai calon anggota bisa ditolak atas pertimbangan segelintir anggota lama alih-alih suara mayoritas. Mereka yang baru diterima pun dituntut untuk senantiasa menyesuaikan gaya hidup mengikuti aturan perkumpulan. Akhirnya, melansir temuan John Hoberman (1995) di Journal of Sport History, sampai 1908, 68 persen keanggotaan IOC diisi oleh bangsawan Eropa. Persentasenya memang merosot jadi 41 persen pada 1924, namun tetap saja signifikan.


Klub elite ini punya cita-cita setinggi langit. Hoberman mengatakan afiliasi dengan bangsawan diperlukan oleh Coubertin sebagai “penanda ideologis” visi Olimpiade, yakni mendorong perdamaian dunia. Dengan merangkul aristokrat, Coubertin berharap dapat mendorong ideologi internasionalisme untuk melawan para nasionalis garis keras. Menurut idealisme Coubertin, olahraga adalah instrumen pemersatu bangsa-bangsa sebab atlet dihargai berdasarkan prestasi alih-alih asal negara.

Namum visi yang tampak mulia dari para elite ini dikritik karena bias kelas. Seperti disampaikan oleh Jules Boykoff dalam buku Power Games: A Political History of the Olympics (2016), pada awal penyelenggaraan Olimpiade, Coubertin bersikeras bahwa pesertanya harus amatir. Menurut Coubertin, amatirisme merupakan salah satu syarat untuk “kemajuan dan kesejahteraan olahraga.”

Masalah mulai muncul ketika “amatir” dimaknai dari lensa masyarakat Inggris abad ke-19 yang sangat terpaku pada kelas sosial. Amatir dimaknai sebagai orang-orang yang berolahraga sekadar untuk bersenang-senang, alih-alih cari uang. Orang yang dapat pemasukan rutin dari bekerja, baik berkaitan dengan olahraga maupun tidak, didefinisikan sebagai “profesional” yang tidak diperbolehkan berkompetisi.

Pada akhirnya peserta Olimpiade terbatas untuk mereka yang sejak lahir sudah bergelimang harta sehingga tidak perlu bekerja dan tidak sampai menyandang status “profesional”.

Beberapa negara mengeluh dengan pembatasan tersebut, terutama Amerika Serikat, di mana kebanyakan olahragawan amatir adalah kelas pekerja. Coubertin sendiri akhirnya merasa risih juga. Dalam surat yang ditulis pada 1919, ia tidak menampik bahwa olahraga memang “hiburan selingan kaum muda yang kaya dan menganggur,” namun mengakui bahwa “kelas menengah bawah” dan “kaum proletariat dewasa” juga perlu merasakan nikmatnya ikut kompetisi olahraga.

Pada 1922, permohonan Coubertin untuk mendefinisikan ulang “amatir” ditolak oleh panitia eksekutif IOC. IOC masih bersikeras memaknai “amatir” sebagai “atlet yang tidak dapat keuntungan material dengan berpartisipasi di kompetisi.”

Debat tentang amatirisme ini berlangsung sengit sampai penghujung 1980-an, ketika IOC menyerah dan membebaskan tiap-tiap federasi cabang olahraga untuk menentukan siapa yang boleh berkompetisi di Olimpiade. IOC berdalih profesionalisme sebenarnya bisa membantu menarik atlet-atlet terkenal—kelak meningkatkan prospek komersial penyelenggaraan Olimpiade.

Kompetisi Tandingan

Seiring dengan kuatnya elitisme dalam “Olimpiade borjuis” pimpinan Coubertin dkk, muncullah kompetisi alternatif yang dimotori oleh gerakan kiri dan kaum buruh. Pada 1925, perkumpulan yang berbasis di Eropa, Buruh Sosialis Olahraga Internasional atau Sozialistische Arbeitersport Internationale (SASI) memutuskan menyelenggarakan Olimpiade Buruh di Frankfurt, Jerman. Perhelatan ini, mengutip Boykoff dalam Power Games, berusaha menggabungkan olahraga dengan nilai-nilai solidaritas, sosialisme, kerja sama, dan tradisi kelas pekerja.


Acara yang berlangsung selama empat hari ini dihadiri oleh 150 ribu orang dan boleh diikuti oleh siapa pun, terlepas dari tingkat kemampuan, gender, ras, latar belakang sosial-ekonomi, atau asal negara. Ini berbeda dari Olimpiade oleh IOC yang tidak berkenan mengundang atlet dari Jerman dan Austria, negara-negara yang kalah Perang Dunia I, dalam Olimpiade Antwerp (1920) dan Olimpiade Paris (1924).

Singkatnya, Olimpiade Buruh berusaha menciptakan acara olahraga yang humanis, alih-alih menonjolkan kompetisi dan nasionalisme negara asal peserta.

Acara juga dilengkapi dengan pegelaran seni. Dalam upacara pembukaan, 1.200 orang bergabung dalam paduan suara. Masih ada pula 60 ribu orang yang terlibat dalam pementasan bertajuk “Perjuangan Buruh untuk Dunia”. Tidak ada pengibaran bendera dan pemutaran lagu nasional. Sebagai gantinya, hanya ada ornamen bendera merah dan pementasan mars gerakan sosialis “The Internationale”.

Olimpiade Buruh kedua berlangsung pada musim panas 1931 di salah satu basis gerakan sosialis terkuat Eropa yang dikuasai Partai Buruh Sosial Demokrat Austria (SDAP): Wina. Sebagai tuan rumah, pemerintah Austria sampai membangun stadion baru, Prater Stadium, yang sekarang masih dibanggakan sebagai stadion sepak bola terbesar di negara tersebut.

Robert Wheeler dalam studi berjudul “Organized Sport and Organized Labour: The Workers’ Sports Movement” (1978) mencatat, pada hari terakhir acara, sebanyak 250 ribu orang hadir untuk menyaksikan parade sekitar 100 ribu atlet. Penutupan festival olahraga ini juga dibarengi dengan pembukaan Kongres Buruh dan Sosialis Internasional keempat. Olimpiade ini sukses besar dan dipandang semakin mencerminkan Wina Merah sebagai ibu kota internasional untuk gerakan buruh.

Dua Olimpiade Buruh ini hanya diikuti oleh mereka yang berafiliasi dengan penyelenggara. Artinya, grup-grup non-SASI, seperti yang terikat dengan gerakan komunis Red Sport International (RSI) sokongan Uni Soviet, tidak diundang. RSI juga sempat mengadakan acara olahraga sendiri di Moskow (1928) dan Berlin (1931).

SASI didukung oleh partai sosial demokrat, sementara RSI didirikan oleh kaum komunis. Meski sama-sama berhaluan kiri, sosial demokrat dan komunis kerap berseberangan dalam banyak hal terutama strategi politik.

Masih melansir temuan Wheeler, perseteruan antara SASI dan RSI akhirnya berhasil dijembatani melalui Olimpiade Buruh ketiga yang berlangsung di Antwerp, Belgia, pada 1937. Meskipun tidak seramai perhelatan sebelumnya, Olimpiade ini tetap dipandang penting karena sudah menunjukkan kuatnya solidaritas buruh.

Sayangnya, Olimpiade Buruh Antwerp jadi perhelatan terakhir SASI karena pemerintahan kiri dan gerakan buruh dilindas oleh rezim fasis yang semakin menguat di Eropa menjelang Perang Dunia II.


Aksi Boikot Olimpiade Nazi 1936

Coubertin boleh saja bercita-cita menjadikan Olimpiade sebagai ajang melawan gagasan nasionalisme sempit. Namun sejarah membuktikan bahwa justru IOC kelak bisa bergandengan tangan dengan pemerintahan fasis Nazi Jerman, tepatnya dalam Olimpiade Musim Panas di Berlin Agustus 1936.

Menurut John Hoberman di Journal of Sport History, Olimpiade pada dekade 1930-an lebih tepat dipahami sebagai gerakan “internasionalisme sayap kanan” yang sudah dikooptasi atau dikendalikan oleh Nazi dan para simpatisannya. Perhelatan yang dicemooh oleh kalangan antifasis sebagai “Olimpiade Nazi” ini memberikan arena kepada Nazi untuk melancarkan propaganda demi popularitas partai dan mempertontonkan supremasi bangsa Arya.

Hoberman menjelaskan Olimpiade Nazi bisa terwujud karena ada semacam “kesesuaian ideologis” antara elite IOC dan Nazi. Mereka punya “cita-cita sama tentang kejantanan aristokrat dan sistem nilai yang berasal dari pemuliaan terhadap laki-laki yang fisiknya sempurna sebagai manusia ideal.”

Olimpiade yang kontroversial ini pun mengundang seruan boikot dari penjuru dunia. Pemerintahan Spanyol di bawah Frente Popular termasuk salah satu yang giat menyerukannya. Aliansi berhaluan kiri yang baru saja menang pemilu pada Februari 1936 ini punya anggota beragam, mulai dari Partai Buruh Sosialis Spanyol, Partai Komunis Spanyol, dan faksi-faksi anarkis.

Satu bulan sebelum Olimpiade Nazi dimulai, tepatnya sepanjang 22-26 Juli 1936, Frente Popular berencana menggelar Olimpiade Popular atau Olimpiade Rakyat di Barcelona. Acara yang dielu-elukan bakal jadi perhelatan olahraga antifasis terbesar ini dipromosikan dengan poster bergambar tiga orang dengan warna kulit berbeda (merah, hitam, dan kuning) sambil membawa bendera warna putih karya seniman Jerman keturunan Yahudi yang melarikan diri dari Nazi. Melansir Boykoff dalam Power Games, panitia juga menyambut partisipasi atlet dari negara-negara jajahan, seperti Aljazair dan Maroko, bahkan menganugerahkan status “negara” bagi Catalonia.

Perempuan turut didorong untuk berpartisipasi. Asosiasi olahraga perempuan Catalan Feminist Sports Club menjadi salah satu penyelenggara acara.

Sayang Olimpiade Rakyat tidak pernah terlaksana. Hanya beberapa hari sebelum upacara pembukaan (17 Juli), aliansi nasionalis yang dipimpin oleh militer Spanyol melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan Frente Popular.


Infografik Olimpiade Buruh
Infografik Olimpiade Buruh. tirto.id/Quita


Sejarawan James Stout dalam artikel di National Geographic menceritakan bagaimana atlet-atlet dari Amerika Serikat, dibantu atlet Jerman dan Italia, turun ke jalan bersama warga, mengeruk pasir dengan cangkul untuk membangun barikade. Atlet AS keturunan Afrika asal New York, Frank Payton, terkesima dengan peran pejuang perempuan yang sebagian berasal dari Feminist Sports Club. Mereka menjaga barikade dan menengahi bentrokan antara buruh dan tentara.

Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh warga sipil dan para atlet, yang merayakannya dengan menyanyikan “The Internationale” di jalanan. Masih melansir tulisan Stout, dari sekitar 200 atlet yang ikut bertempur, mayoritas meninggal dunia.

Perjuangan berdarah oleh gerakan kiri dengan bantuan atlet Olimpiade Rakyat ini mengawali Perang Sipil Spanyol (1936-39), yang dimenangkan aliansi nasionalis dan membuka pintu bagi rezim diktator Jenderal Francisco Franco sampai 1975.

Kompetisi yang diperjuangkan kaum kiri dan buruh sampai dekade 1930-an memang berhasil menawarkan pengalaman yang lebih merakyat dibandingkan dengan kejuaraan elitis milik Coubertin dan IOC. Namun penyelenggaraannya tetap diwarnai ketegangan dan masalah internal. Acara ini awalnya didesain untuk memupuk kebersamaan melalui pertandingan yang nonkompetitif. Akan tetapi, seiring dengan berjamurnya klub-klub olahraga pada 1920-an, menjadi pemenang dipandang semakin penting. Peserta tidak terbebas dari hasrat pribadi untuk memecahkan rekor dan merayakannya—perilaku yang kerap disindir kalangan buruh sendiri sebagai sikap “borjuis”, catat sejarawan Robert Wheeler.

Perhelatan olahraga alternatif warisan kaum sosialis ini sempat mati suri sampai akhirnya dihidupkan kembali oleh International Workers and Amateurs in Sports Confederation (CSIT). CSIT, yang mengaku penerus (SASI), rutin menyelenggarakan CSIT World Sports Games setiap dua tahun sekali sejak 2008. Kompetisi boleh diikuti olahragawan amatir dengan tingkat kualifikasi apa pun, dari segala usia, gender, dan kewarganegaraan. Tidak sekaku pendahulunya, CSIT diakui oleh IOC dan bahkan berpartner dengan mereka.

Baca juga artikel terkait OLIMPIADE atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino
DarkLight