Gerakan Antifeminis di Korea Selatan

Penulis: Sekar Kinasih - 11 Jan 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Sejumlah laki-laki muda Korea Selatan belakangan ini jadi antifeminis, ditunjukkan lewat aksi demonstrasi sampai lirik lagu yang dipopulerkan rapper San E.
tirto.id - Beberapa tahun terakhir pemuda Korea Selatan merasa risi dengan aktivisme para feminis. Meskipun feminisme pada esensinya adalah usaha untuk memberdayakan perempuan agar dapat berprogres bersama laki-laki di ranah apa pun, segelintir pihak di Negeri Gingseng justru menganggapnya sebagai gerakan yang kebablasan sekaligus penuh ancaman.

Salah satunya bernama Dang Dang We, grup yang menyatakan tujuannya secara eksplisit: “Memperjuangkan keadilan bagi laki-laki”. Kelompok dipelopori oleh Moon Sung-ho kala dia masih berusia dua puluhan akhir. Melansir CNN, Dang Dang We didirikan pada 2018, tak lama setelah seorang pengusaha laki-laki dijatuhi hukuman setengah tahun penjara gara-gara menyentuh pantat seorang perempuan di restoran. Kejadian tersebut menimbulkan kegegeran karena membuktikan bahwa seseorang bisa divonis berdasarkan klaim dari korban semata.

Moon lantas menuding gerakan feminis sebagai kambing hitamnya. “Feminisme bukan lagi tentang kesetaraan gender. Ini adalah diskriminasi gender dan cara-caranya kejam serta penuh kebencian,” seru Moon di hadapan puluhan pengikutnya di depan gedung legislatif National Assembly, Seoul, pada 2019.

Jaringan antifeminis lain bernama Men on Solidarity, didirikan pada 2021 oleh Youtuber berusia 31 tahun, Bae In-kyu. Grup yang punya 457 ribu pengikut di Youtube ini rutin merilis rekaman video saat turun ke jalanan menandingi demonstrasi para aktivis feminis, terbaru pada November silam. Dikutip dari The New York Times, Bae mengaku tidak benci perempuan secara umum apalagi hendak menghalangi hak-hak mereka. Dia mengatakan musuhnya adalah kalangan feminis, yang menurutnya merupakan “kejahatan sosial”.

Perempuan juga dianggap lebih diuntungkan karena tidak perlu ikut wajib militer sehingga punya waktu lebih untuk memupuk karier. Seorang mahasiswa bernama Park mengatakan kepada CNN: “Tidak adil apabila hanya ada satu gender yang harus mengabdi [militer] selama usia awal 20-an. Kami seharusnya mengejar mimpi-mimpi kami [pada usia itu].”

Park juga menganggap perempuan sudah diistimewakan di dunia pendidikan karena banyaknya universitas khusus untuk mereka. Kampus ini menawarkan jurusan-jurusan yang bisa mengarahkan mereka pada profesi mapan, misalnya di bidang hukum.


Sejumlah laki-laki juga berada di balik ratusan komplain di situs Asosiasi Panah Korea terkait An San, pemanah perempuan usia 20 yang berhasil meraih tiga medali di Olimpiade Tokyo tahun lalu. Mereka menuntut agar medalinya dicabut. Alasannya sepele, “Dia punya rambut pendek dan mengenyam pendidikan di kampus khusus perempuan—dia beraroma seperti feminisme,” kata salah satu hater.

Tahun kemarin, jaringan waralaba produk rumah tangga GS25 merilis iklan dengan ilustrasi tangan yang membawa sepotong sosis. Tak butuh waktu lama, forum-forum diskusi daring yang didominasi laki-laki menuding GS25 sudah menyebarkan kebencian terhadap laki-laki. Meskipun GS25 sudah meminta maaf dan mencabut iklan tersebut, aksi protes dan seruan boikot terlanjur menyeruak.

Penolakan terhadap feminisme juga disuarakan lewat budaya pop, misalnya dilakukan oleh rapper San E dalam lagu kontroversial berjudul Feminist yang dirilis pada 2018. Potongan liriknya sebagai berikut: “Aku tak paham orang-orang yang bilang bahwa perempuan dan laki-laki tidak setara hari ini. Jika yang bilang nenekku, aku mungkin paham. Tapi ketimpangan apa yang kalian hadapi?”

San E lantas menyebut ketimpangan upah berbasis gender yang tinggi sebagai “fakta bohong”. Di bagian lain San E bernyanyi, “Hei, jika kalian ingin sekali hak-hak itu (privilese laki-laki), kenapa kalian tidak ikut militer saja? Kenapa kalian ingin kami memberikan ruang untuk kalian sendiri di kereta, bus, lahan parkir?”

Moon, Bae, Son, Park dan San E tampaknya masuk dalam kelompok demografi yang merasa dirinya jadi korban diskriminasi gender dalam survei yang diselenggarakan harian Hankook Ilbo pada Mei 2021. Survei itu menemukan 78,9 persen responden laki-laki usia 20-an dan 70 persen laki-laki usia 30-an sepakat bahwa diskriminasi terhadap laki-laki adalah masalah serius. Uniknya, persentase bapak-bapak usia 50-60 tahun yang berpandangan demikian hanya 30-40 persen.

Selain itu, hanya 27-37 persen responden laki-laki usia 20-30 tahun setuju bahwa status sosio-ekonomi perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki disebabkan oleh patriarki dan diskriminasi gender. Sedangkan pada kelompok pria usia 50-60 tahun, persentasenya mencapai 50 persen. Singkat kata, dibandingkan dengan generasi ayah mereka, laki-laki generasi Z dan milenial lebih merasa eksistensinya terancam oleh gerakan pemberdayaan perempuan masa kini.

Kemunculan Gerakan Antifeminis

Kegusaran terhadap gerakan feminis salah satunya dikaitkan dengan kejadian langka yang dialami Son Sol-bin pada 2018 lalu, saat berusia 28. Ia dipenjara 8 bulan karena tuduhan memerkosa dan menculik kekasihnya. Kelak, rekaman CCTV membuktikan dirinya tidak bersalah.

“Pengaruh kalangan feminis sudah membuat sistem jadi bias terhadap laki-laki sehingga polisi menganggap kesaksian seorang wanita dan tetesan air matanya sebagai bukti yang cukup untuk menjebloskan pria tak bersalah ke dalam penjara,” kata Son.


Narasi antifeminis itu sendiri mulai tumbuh lebih lama dari kasus tersebut lewat internet.

Merangkum artikel yang terbit di Korean Herald, warganet di negara itu mulai memakai istilah-istilah mengejek perempuan pada 2006. Salah satunya doenjangnyeo, ditujukan bagi mereka yang suka berbelanja produk mewah dari luar negeri. Sekitar empat tahun kemudian, Ilbe, situs yang suka menyuarakan pandangan politik kanan, diluncurkan. Di situlah akun-akun anonim memopulerkan panggilan-panggilan yang meremehkan perempuan, seperti kimchinyeo (perempuan yang bergantung secara ekonomi pada laki-laki) dan samilhan (perempuan yang harus dipukul oleh laki-laki setidaknya sekali dalam tiga hari).

Ada aksi, ada reaksi. Emily Singh di Quartz menjelaskan maraknya sebutan-sebutan misoginis ini akhirnya menimbulkan respons dari warganet perempuan. Mereka lantas menyindir laki-laki dengan istilah-istilah serupa. Lalu, pada 2015, lahirlah Megalia, semacam forum diskusi daring tandingan yang khusus dibuat untuk mengolok-olok laki-laki. Komunitas ini kelak dicap sebagai kelompok feminis radikal dan provokatif, terbukti dari logonya: karikatur tangan dengan jempol dan jari telunjuk mendekat yang merujuk pada penis berukuran kecil.

Para laki-laki menuding warganet Megalia sebagai “crazy bitches—'perempuan gila'yang “mendedikasikan hidupnya untuk membenci gender berlawanan.” Bahkan ada yang membandingkan Megalia dengan gerakan teroris ISIS.

Muncul pula forum seperti Womad, situs pecahan Megalia, yang dipandang mempromosikan pandangan misandris.

Semenjak itu perseteruan antara grup feminis dan laki-laki antifeminis semakin ramai.

Ada pula katalis lain yang menuai respons keras dari kalangan perempuan, yaitu pembunuhan terhadap perempuan berusia 23 tahun oleh seorang laki-laki di dekat Stasiun Gangnam pada 2016. Pelaku mengaku membunuh karena benci terhadap perempuan yang kerap meremehkan dirinya, meskipun kasusnya sendiri dikategorikan sebagai “kejahatan kecelakaan” karena si pelaku punya gangguan mental.

Karena kasus ini narasi tentang kejahatan misoginis pun menguat dan kaum perempuan mulai gencar menuntut lingkungan yang lebih aman. Sejumlah kelompok laki-laki lantas mengeluarkan protes tandingan untuk menegaskan tidak semua dari mereka berpotensi jadi penjahat—sekaligus membela diri karena sudah jadi korban diskriminasi gender.


Dalam iklim permusuhan yang kental tersebut, presiden terpilih pada Pilpres 2017, Moon Jae-in, berjanji jadi pemimpin “feminis” yang akan meningkatkan partisipasi perempuan di kabinet maupun level eksekutif perusahaan. Administrasi Moon juga berusaha mendorong iklim yang ramah bagi perempuan pekerja untuk berkeluarga, seperti menyediakan cuti melahirkan yang bisa diambil suami-istri secara berbarengan, fasilitas kesuburan bagi perempuan lajang atau pasangan tidak menikah, termasuk mendorong kaum bapak agar lebih terlibat dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga.

Perempuan Masih Rentan

Sikap antifeminis di kalangan laki-laki muda terlihat absurd sebab faktanya perempuan memang masih termarjinalkan. Satu contoh, sampai sekarang kesenjangan upah berbasis gender di Korsel masih yang terbesar di antara negara-negara mapan OECD. Di sana, perempuan mendapat gaji 31,5 persen lebih sedikit daripada laki-laki.

Di samping itu, perempuan Korsel mendapat skor terendah dalam indeks glass-ceiling (hambatan dalam berkarier) yang dipublikasikan The Economist pada 2021 lalu, yakni 25 dari 100 poin atau kurang dari separuh rata-rata OECD. Hanya 4,9 persen perempuan menjabat posisi dewan direktur perusahaan dan sekitar 15 persen di posisi manajerial padahal sejak 2005 jumlah perempuan lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan tinggi selalu menembus 70 persen sedangkan laki-laki hanya di kisaran 60-an persen. Persentasenya termasuk yang terendah bersama Jepang.

Pertumbuhan ekonomi yang melambat juga dipandang membuat kedudukan perempuan lebih rentan, seiring kesempatan kerja jadi terbatas pada sektor layanan dan kontrak berjangka pendek, yang diperparah oleh pandemi Covid-19.

Dalam beberapa tahun terakhir juga terdapat tren kenaikan angka bunuh diri di kalangan perempuan usia 20-an. Melansir The Economist edisi Desember 2020, pakar mengaitkannya dengan tekanan sosial yang dihadapi mereka, mulai dari kompetisi di lingkup akademik dengan laki-laki, diskriminasi di tempat kerja, standar kecantikan yang seksis, sampai tuntutan untuk menikah dan punya anak.

Di mata kaum feminis, tekanan tersebut kerap digaungkan oleh komunitas daring yang suka menyebarkan pandangan misoginis atau merendahkan perempuan. Persekusi daring bahkan disinyalir jadi salah satu motif bunuh diri bintang k-pop Goo Hara (28) dan Sulli (25) pada 2019.


Perempuan Korsel juga masih rentan menjadi objek pelecehan seksual, sebagaimana di banyak belahan dunia lain.

Soal ini, kaum perempuan semakin berani mengungkap pelecehan yang pernah dilakukan oleh laki-laki berkuasa, mulai dari elite dari Kementerian Hukum Ahn Tae-geun, sutradara terkenal Kim Ki-duk, sampai gubernur yang pernah ikut pemilihan presiden Ahn Hee-jung sejak gerakan #MeToo menguat di Korsel pada 2018.

Pada 2018 pula, kaum perempuan semakin vokal memprotes maraknya kasus perekaman video dengan kamera-kamera ilegal di toilet umum, kamar ganti, jalanan, sampai dalam gedung apartemen—yang kemudian disebarluaskan di internet. Demonstrasi bertajuk “My Life is Not Your Porn” ini pun ditanggapi oleh pemerintah, yang lantas mendirikan Digital Sex Crimes Victim Support Center untuk menyediakan jasa konsultasi dan penghapusan video di internet.

Orang-orang yang terlibat dalam aksi perekaman ilegal ditahan polisi. Dari 16 ribuan orang yang ditahan sepanjang 2012-2017, sebanyak 98 persen adalah laki-laki. Sementara dari 26 ribu korban, 84 persennya perempuan. Pelaku bisa dijatuhi denda sampai 10 juta won (sekitar Rp120 juta) atau mendekam di penjara maksimal 5 tahun.

Akarnya dari Kesulitan Sosio-ekonomi?

Selain mempersulit kondisi keuangan masyarakat secara umum, pertumbuhan ekonomi yang melambat dalam tiga dekade terakhir juga menjadi salah satu alasan di balik munculnya sikap anti terhadap feminisme atau gerakan properempuan lain.

“Saya kira, ketimpangan sosio-ekonomi di masyarakat Korea adalah sumber dari kebencian tersebut,” ujar Park Jin-kyong, direktur Gender Research Institute, dikutip dari Korean Herald pada 2016. “Tampaknya sejumlah laki-laki, yang merasa termarjinalkan, berusaha mencari orang lain untuk disalahkan karena kegagalannya mendapatkan kerja atau menikah di tengah kesulitan-kesulitan ekonomi.” Kemarahan ini kemudian diarahkan kepada kalangan perempuan sebagai “target yang mudah.”

Lee Soo-yeon, peneliti dari Korea Women’s Development Institute, menyampaikan hal senanda. Ia menilai sejumlah laki-laki merasa waswas karena berhadapan dengan kompetisi kerja ketat di lingkungan yang sebelumnya didominasi kultur patriarki. Menurut Lee, laki-laki tahu bahwa situasi ekonomi yang rentan membuat mereka berisiko kehilangan pekerjaan, dan pada waktu sama mereka menyadari tidak bisa menyokong satu keluarga tanpa bantuan perempuan.


Infografik Gerakan Anti Feminis di Korsel
Infografik Gerakan Anti Feminis di Korsel.tirto.id/Fuad


Sementara S. Nathan Park dalam artikel di Foreign Policy yang terbit Juni silam menyebut sikap antifeminis di kalangan laki-laki muda Korsel berkaitan dengan pandangan mereka tentang meritokrasi.

Menurut Park, anak laki-laki yang lahir pada dekade 1990-an, yang tidak berjuang seperti generasi lebih tua dalam Perang Korea atau melawan kediktatoran militer, tumbuh dewasa dengan segenap ujian-ujian dalam setiap tahap kehidupan mereka, dari mulai menghadapi ujian kelulusan sekolah, tes masuk kuliah, sampai berkompetisi ketat di pasar kerja.

“Laki-laki muda, pada gilirannya, melihat rekan-rekan perempuan mereka sebagai ancaman yang (dalam pandangan sesat mereka) terus menerima perlakuan istimewa meskipun telah mencapai kesetaraan, menyinggung rasa meritokrasi mereka,” tulis Park.

Park juga mengutip temuan survei dari buku Men in 20s karya jurnalis Cheon Gwan-yul dan pakar data Jeong Han-wool yang mendapati bahwa kaum muda Korsel sudah mendewakan meritokrasi namun mengaburkan perbedaan antara faktor-faktor penentu internal (usaha dan motivasi) dan faktor eksternal (kelas sosio-ekonomi).

Park juga menyorot kuatnya pandangan misoginis di kalangan laki-laki muda, yang rupanya berbeda dari generasi bapak mereka. Laki-laki dari angkatan tua melihat dirinya sebagai pelindung perempuan dengan menonjolkan sisi kejantanan dan peran gender yang terkotak-kotak (laki-laki bekerja, perempuan mengurus anak dan rumah tangga). Sedangkan laki-laki muda Korsel cenderung menilai dirinya sebagai “korban dari feminisme” dan menganggap perempuan sebagai saingan mereka.

Spencer Hines dan Jay Song dalam artikel di The Diplomat menjelaskan pandangan yang marak di kalangan laki-laki muda bahwa mereka sudah jadi “korban dari feminisme” ini juga dipengaruhi oleh kuatnya persepsi publik terhadap ideologi feminis yang kental dengan narasi kebencian terhadap laki-laki, sebagaimana sudah dipopulerkan oleh komunitas-komunitas daring militan seperti Megalia dan Womad.

Baca juga artikel terkait atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino

DarkLight