Genjot Produksi Jagung, Kementan Patok Harga Minimal Rp3.150/Kg

- 30 Maret 2016
Dibaca Normal 1 menit
tirto.id - [caption id="attachment_2027" align="alignnone" width="1200"]
Petani penggarap memanen jagung dengan produksi sekitar 8 ton per hektar di lahan hutan petak 81 B, RPH Gelon, KPH Ngawi, Jawa Timur, Selasa (23/2). Sebanyak 399,3 hektare dari lahan hutan seluas 3.000 hektar di kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai lahan jagung untuk memaksimalkan potensi hasil hutan sekaligus membantu ekonomi masyarakat petani tepi hutan. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww/16.
Petani penggarap memanen jagung dengan produksi sekitar 8 ton per hektar di lahan hutan petak 81 B, RPH Gelon, KPH Ngawi, Jawa Timur, Selasa (23/2). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto.[/caption]

Kementerian Pertanian meminta Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk menyerap jagung kering pipil petani dengan harga minimal Rp3.150 per kilogram (Kg). Batas harga terendah ini diharapkan dapat mendorong petani mengembangkan tanaman jagung untuk kebutuhan nasional.

“Dengan keputusan harga terendah jagung tersebut, kita ingin membuat pertanian jagung ini menarik untuk dikembangkan,” kata Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Nandang Sunandar, di Pelaihari, Rabu (30/3/2016).

Menurut Nandang, Kementerian Pertanian sudah melaksanakan rapat koordinasi terbatas dan memerintahkan agar Bulog melakukan penyerapan jagung petani dengan harga minimal Rp3.150 per kilogram.

Penetapan harga ini, lanjut dia, merupakan salah satu bukti nyata dukungan pemerintah mendorog petani mengambangkan tanaman jagung untuk memenuhi kebutuhan jagung nasional.

Nandang mengungkapkan, kunci keberhasilan dari pertanian jagung adalah pengembangan luas lahan jagung, sehingga kepastian harga menjadi sangat penting untuk menjamin petani tidak merugi.

Menurut dia, Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu kabupaten yang sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian jagung ini. Pasalnya, selain lahan yang masih cukup luas, juga produksi jagung per hektar di daerah ini, telah berada di atas rata-rata nasional yang hanya 5,2 ton per hektare, sedangkan di Tanah Laut telah mencapai 5,8 ton per hektare.

“Apalagi dibantu TNI-AD, target perluasan lahan yang seharusnya selesai untuk satu tahun, bisa diselesaikan hanya dalam waktu enam bulan. Berarti kita masih bisa menambah target,” ujarnya.

Sebelumnya, kedatangan Nandang ke Tanah Laut untuk melakukan panen raya jagung bersama Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, Pangdam IV/Mulawarman, Bupati Tanah Laut, dan beberapa pihak terkait lainnya.

Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, Fathurrahman mengatakan, potensi yang bisa dikembangkan untuk tanaman jagung di Kalimantan Selatan, khusus di Tanah Laut masih sangat besar, antara lain, lahan kosong yang dibiarkan usai panen padi. Apalagi selama ini, petani membiarkan lahannya kosong setelah panen padi, padahal lahan tersebut bisa ditanami jagung.

Luas tanaman jagung saat ini, tambah dia, telah mencapai 23.800 hektare selama enam bulan, jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 20 ribu hektare per tahun.

Peningkatan luas tanam jagung tersebut, selain karena dukungan program pemerintah pusat, juga campur tangan TNI-AD yang membantu petani secara langsung dalam pengembangan sektor tanaman pangan di Kalimantan Selatan. (ANT)

Baca juga artikel terkait BULOG atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Abdul Aziz
Penulis:

DarkLight