Generasi Z: Kulit Putih Lebih Penting daripada Bahagia?

Oleh: Aulia Adam - 24 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Satu dari empat remaja putri Indonesia di bawah 18 tahun merasa lebih penting memiliki kulit putih ketimbang merasa bahagia.
tirto.id - “Cuma perempuan (Indonesia) yang bener-bener pintar—kalau enggak yang bener-bener cantik atau munafik—yang bilang enggak mau punya kulit lebih cerah dan putih,” kata Rara, 23 tahun, termasuk golongan pertama Generasi Z.

Kulitnya memang masuk hitungan terang dan putih. Ia sudah merawatnya sejak SMP, nyaris 12 tahun lalu. Dan skin care yang mengiming-imingi kulit putih dan cerah selalu jadi pilihan Rara sejak dulu.

Di keluarganya, Rara punya kulit yang lebih gelap tak seperti ayah, ibu, dan dua saudara laki-lakinya. Kelak, ketika adik bontotnya yang juga perempuan lahir, Rara punya teori bahwa anak perempuan di keluarganya memang dikaruniai gen berkulit lebih gelap.

Ia yang dewasa kini tahu kalau tak ada yang salah sebenarnya. Perempuan di zaman sekarang, mengutip Rara, sudah tak perlu takut dikritik karena berkulit gelap.

“Internet bikin kita bisa lihat dunia lebih luas, enggak kayak teve yang tayangannya terbatas,” katanya.

Maksud Rara, representasi "cantik" tak lagi melulu tentang kulit putih dan cerah. “Ada banyak artis (selebritas) yang tetap kelihatan cantik dengan kulit gelap. Tapi, yang masih mikir kulit putih adalah segala-galanya ya belum hilang—malah mungkin masih banyak.”


Rara tumbuh dalam perspektif lingkungan yang stereotip—barangkali juga menggambarkan lingkungan sosial secara umum di sekitar kita. Bukan cuma tetangga, sepupu, atau kawan yang suka menyindir kulit gelapnya, sang Ibu kerap membanding-bandingkan warna kulit Rara dengan dua saudara laki-lakinya yang memang sejak lahir berkulit lebih cerah.

“Ya mau gimana? Aku dibesarkan pakai cara begitu. Ibu juga mungkin besar dengan cara itu. Tekanan jadi perempuan itu memang berat," ujar Rara. "Kan, harus cantik."

“Jadi, cantik harus punya kulit putih?” tanya saya.

“Yang kayak aku bilang tadi, cuma yang beneran pinter, cantik dari lahir—atau ya mungkin munafik—yang bilang enggak mau punya kulit putih dan cerah,” jawabnya.

Dalam survei terbaru ZAP Index Beauty, sekitar 10.661 dari 17.889 perempuan Indonesia yang jadi responden dalam riset tersebut ingin kulitnya cerah setelah memakai skin care. Cerah yang dimaksud terasosiasi ingin menjadikan kulitnya lebih putih. Bahkan 73,1 persen dari seluruh responden tersebut, yang menggambarkan semua kelompok umur 18 hingga 65 tahun, sepakat bahwa definisi "cantik" adalah memiliki kulit bersih, cerah, dan glowing.

Meski Rara menolak "cantik" tidak harus putih, tapi ia setuju bila ada pendapat bahwa tiga deskripsi itu bisa melambangkan "cantik".


Infografik HL Indepth Industri Kecantikan

Terobsesi pada Kulit Lebih Putih

Tergila-gila menjadi putih bukan kabar baru di Asia. Pasca-kolonialisme, ideologi kulit putih dibawa oleh iklan-iklan produk kecantikan global.

“Model-model Kaukasian sering digunakan dalam iklan-iklan untuk merek global macam Estee Lauder dan L’Oreal. Empat puluh empat persen iklan Korea dan lima puluh empat persen iklan Jepang memakai mode-model Kaukasian,” tulis Eric P. H. Li, dkk dalam “Skin Lightening and Beauty in Four Asian Cultures”.

Memanipulasi target audiens, sebuah iklan merek kecantikan bisa benar-benar mendorong kita membeli produknya, membayangkan diri kita serupa model pariwara tersebut selagi memakainya. Penduduk negara tropis macam Indonesia sebenarnya wajar punya warna kulit gelap. Ada efek sinar mentari yang menyebabkan noda hitam dan tak ratanya warna kulit. Sehingga merawat kulit dengan produk skin care sebenarnya bukan masalah.

Namun, obsesi di balik perawatan itu bukan lagi sekadar ingin sehat, melainkan memiliki warna kulit terang seperti milik orang Eropa. Itu sebabnya banyak merek perawatan kecantikan, langsung atau tak langsung, akhirnya dianggap mempromosikan rasisme.

Waktu berlalu. Tren sebenarnya ikut berubah. Tapi tak terlalu signifikan terutama tentang obsesi memiliki kulit putih. Kini, ketika industri kecantikan Korea selatan tumbuh pesat, kulit putih bukan lagi jadi satu-satunya obsesi orang Indonesia. Tren kulit berkilau alias glowing skin atau glass skin juga digilai. Tak cuma menginginkan kulit putih cerah, ada banyak orang ingin kulitnya kelihatan kinclong bak porselen seperti orang-orang dari negara sub-tropis.


Survei ZAP, sebuah klinik kecantikan khusus perempuan, itu menyebut Korea Selatan sebagai kiblat negara asal merek skin care favorit perempuan Indonesia. Sebanyak 8.300-an responden wanita Indonesia dari riset pasar itu memilih produk-produk perawatan asal negara Korea karena dianggap lebih cocok bagi kulit mereka, meski sadar kalau iklim dua negara ini berbeda.

Obsesi berkulit putih ini sebenarnya rata terjadi di setiap umur perempuan Indonesia. Namun, yang menarik dalam survei tersebut, ternyata semakin muda seorang perempuan semakin ia tak percaya diri pada penampilannya. Bahkan sebanyak 24,6 persen responden di bawah 18 tahun berpendapat bahwa lebih penting untuk memiliki kulit putih daripada bahagia. Itu setara satu dari empat remaja putri Indonesia.

Tak heran bila iklan-iklan kosmetik yang mengiming-imingi kulit putih dan cerah masih laku di mana-mana.

Sebuah utas di Twitter, “Cara Memutihkan Kulit dengan Cepat”, bahkan viral baru-baru ini. Ada 24 ribu lebih akun yang menyukainya, dan 5,7 ribu yang mencuit ulang. Beberapa orang dari sekitar 200-an yang membalas utas itu mengaku sudah mencobanya dan ikut membuktikan. Sebagian besar puas, meski tak sedikit yang mencibir.

Padahal cara itu terbilang unik dan sudah jelas belum terbukti kebenarannya secara ilmiah. Bahan-bahannya: sebatang sabun merek Shinzui, satu kaleng susu Bear Brand, satu sendok makan madu murni, dan zat putih dari sebutir telur. Ditambah bahan tak wajib: satu sendok makan NR Aloe Vera.

Di YouTube, cara-cara berjudul sama lebih banyak lagi, dengan beragam bahan. Ada yang pakai susu bubuk, tepung beras, dan macam-macam merek losion. Video-video itu ditonton jutaan kali, menandakan banyak peminat.


Padahal, kulit putih tak menjamin kulit yang sehat. Apalagi jika dilakukan dengan trik-trik secepat kilat. Dokter kecantikan Adinda Fitri Ningtyas membenarkan hal ini. “Para wanita harus sadar supaya jangan sekadar putih. Karena produk-produk yang bisa memutihkan kulit dalam waktu cepat malah bisa berbahaya."

Bahaya yang muncul bisa berupa kulit mudah iritasi, hipersensitif pada cahaya, muncul telangiaktasi—bercak atau bintik merah pada kulit wajah—serta dapat menimbulkan ochronosis—flek hitam kebiruan yang sulit hilang dan bikin wajah lebih gelap.

Cara-cara serba kilat itu juga belum tentu mengandung bahan aman. "Bisa saja mengandung merkuri atau steroid dengan dosis tinggi, atau hidrokinon yang dosisnya juga tinggi," ujar Ningtyas.

Menurut Ningtyas, perempuan Indonesia harusnya lebih mementingkan perawatan kulit yang bertujuan bikin sehat, bukan putih. Obsesi sebagian Generasi Z yang bahkan lebih mementingkan kulit putih daripada bahagia, menurut Ningtyas, harus jadi perhatian industri kosmetik. “Sudah saatnya sekalian mengedukasi bahwa perawatan itu penting, tapi untuk jadi lebih sehat."

Yosanova Savitry dari Markplus.Inc, konsultan pasar yang membantu Zap Clinic melakukan survei tersebut, juga punya pendapat serupa. “Harusnya, angka 24,6 persen ini bukan cuma jadi penanda buat brand-brand kecantikan, tapi juga buat orang tua. Kita sudah harus mulai mengganti stigma putih adalah segala-galanya, yang penting itu sehat,” katanya.

Baca juga artikel terkait KECANTIKAN atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight