Generasi Milenial Lebih Suka Mobil Ramah Lingkungan

Oleh: Yantina Debora - 1 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Ternyata generasi milenial kurang peduli soal harga, ketahanan, dan merek ketika memilih mobil yang akan mereka beli.
tirto.id - Pasar mobil tak pernah sepi. Setiap tahun jutaan mobil laku di pasaran karena permintaan pun tak pernah surut. Perannya sebagai sarana transportasi yang mendukung aktivitas manusia mendorong masyarakat untuk terus membeli mobil.

Para pebisnis mobil pun tak hanya menjual mobil dengan merek terkenal saja, atau mobil mahal saja. Mereka juga mulai menyediakan mobil yang diinginkan konsumen. Pilihan mobil bagi konsumen pun makin beragam.

Generasi milenial menjadi salah satu target para produsen mobil. Survei serta laporan yang menyebut para milenial lebih memilih menggunakan kendaraan umum atau menggunakan uber ketimbang membeli mobil sempat membuat cemas para produsen mobil.

Namun, perlahan para milenial mulai memasuki pasar otomotif. Lambat, tetapi pasti.

“Milenial benar-benar bergabung dengan pasar generasi tua karena mereka dari 35 akan menjadi 36,” kata CEO Hagerty Insurance, McKeel Hagerty yang berbasis di Michigan dan menjamin lebih dari satu juta mobil kolektor di seluruh dunia. ”Generasi terus bergerak, dan ini bukan lagi pasar bagi [generasi baby] boomers.”

Hagerty melihat ada peningkatan sebesar 21 persen pada asuransi yang diajukan oleh milenial pada tahun lalu. Sedangkan baby boomers hanya 7,4 persen. Adanya peningkatan permintaan akan asuransi tentu menunjukkan bahwa milenial kini mulai mengambil posisi penting dalam dunia otomotif.

Hal senada juga diungkapkan oleh Isabelle Helms dari Auto Trader. Generasi milenial memang sedikit lambat dalam memasuki pasar mobil. Pada tahun 2014, hanya para milenial hanya menguasai 12 persen penjualan mobil di Amerika Serikat. Namun menurutnya, milenial akan menguasai 40 persen pasar mobil baru pada tahun 2020.

Milenial yang mulai menjajal pasar otomotif tentu menjadi angin segar bagi para produsen mobil. Produsen dengan sigap membaca peluang pasar pada generasi tersebut dengan mulai memproduksi mobil yang dapat menarik perhatian generasi ini.

Misalnya mobil Portal, produk Chrysler yang dilucurkan pada Consumer Electronics Show, awal Januari lalu. Peluncuran mobil tersebut dilakukan setelah melakukan studi dan penelitian terkait mobil apa yang sesungguhnya diinginkan oleh milenial.

Dalam laporan CNN, perusahaan mobil Chrysler menyebutkan bahwa teknologi adalah pusat dari segalanya. Milenial yang hidup di tengah perkembangan teknologi yang pesat tentu mengharapkan mobil dengan berbagai sentuhan teknologi terkini.

Portal pun dilengkapi dengan plug-in port untuk perangkat mobile. Plug-in port ini didesain sedemikian rupa sehingga semua penumpang di dalam mobil dapat menggunakannya. Sehingga, mereka yang berada di mobil dan dalam perjalanan bisa tetap berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Anda tahu, kebanyakan generasi ini hidupnya menempel dengan Facebook atau Path atau Instagram.

Selain plug-in untuk mobil, Chrysler juga memperhatikan musik. Menurut mereka, milenial membutuhkan mobil yang dilengkapi teknologi pemutar musik yang dilengkapi sentuhan teknologi terbaru. Interior mobil pun disebut sangat penting.

Lalu, mobil apa yang sesungguhnya disukai para milenial?

Autolist melakukan survei di 50 negara untuk mengetahui selera mobil yang yang disukai para milenial atau generasi Y. Survei tersebut dilakuka pada kuartal IV 2016 dengan menggunakan responden yang tidak hanya dari generasi milenial tetapi ada juga dari generasi X.

Survei yang dilakukan Autolist tersebut mengungkapkan bahwa generasi milenial, dengan rentang usia 25 hingga 39 tahun, memiliki selera mobil yang berbeda dengan generasi X yang rentang usianya 40 hingga 54 tahun.

Infografik Mobil yang Disukai


Perbedaan pertama dari hasil survei tersebut adalah generasi milenial lebih memilih mobil yang ramah lingkungan. Beda dengan Generasi X yang lebih memilih mobil dengan memperhatikan dari segi harga, ketahanan dan merek.

Kesukaan milenial pada mobil yang ramah lingkungan tentu mendorong mereka untuk terus mengganti mobilnya. Menurut survei tersebut, hampir setengah dari generasi milenial hanya akan menggunakan mobilnya selama lima tahun atau kurang dari lima tahun.

Generasi X yang mementingkan ketahanan tentu ingin menggunakan mobil itu selama mungkin. Hasil dari survei menunjukkan sepertiga generasi X akan menggunakan mobil setidaknya untuk 10 tahun.

Generasi milenial yang cepat mengganti mobil tentu memberi menguntungkan produsen mobil dibandingkan generasi X yang membutuhkan 10 tahun untuk mengganti mobilnya atau membeli mobil baru.

Perbedaan lainnya yakni pada mobil jenis sedan, milenial akan memilih mobil dengan harga terjangkau alias murah. Mobil murah yang menjadi kesukaan para milenial misalnya Honda Civic, sedangkan generasi X lebih memilih Honda Accord yang harganya jauh lebih mahal.

Pada segmen SUV, milenial lebih menyukai Honda CR-V sedangkan generasi X lebih menyukasi Toyota RAV4. Namun pada segmen performance car, generasi milenial dan X memiliki kesukaan yang sama yakni Ford Mustang.

Selera milenial yang lebih memilih mobil murah dan ramah lingkungan ini tentu menjadi tantangan besar bagi pabrikan mobil mewah. Mereka harus mampu menarik perhatian para milenial tanpa meninggalkan corak mewah dari produknya.

Ini juga yang kemudian menuntut produsen sekelas Mercedez-Benz harus bekerja ekstra keras. Untuk menarik perhatian milenial, Mercedes-Benz bahkan membuat program “MB Photo Pass” bekerjasama dengan videografer, fotografer dan 25 artis media sosial.

Mercedez-Benz juga membuat video “The Ultimate Race” bekerjasama dengan youtuber kenamaan Devin Super Tramp yang memiliki 4 juta pengikut. Dalam video yang diunggah di Youtube dan sudah di tonton 3,4 juta kali, terlihat mobil Mercedes-Benz C-Class Coupe melawan Devin dan sebuah mobil remote control. Semua itu dilakukan demi menarik perhatian milenial di jejaring media sosial.

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Maulida Sri Handayani