Gelontoran Modal Asing dalam Bisnis Startup

Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Dalam Gojek, misalnya, ada modal asal Cina dan Amerika Serikat.
tirto.id - Pekan ini, Uber, pelopor aplikasi ride-sharing, membeli startup asal Timur Tengah bernama Careem senilai $3,1 miliar. Careem serupa Uber. Ia adalah startup ride-sharing yang melayani masyarakat di Mesir, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab yang bermarkas di Dubai. Sebelum Careem dicaplok Uber, startup yang berdiri sejak pertengahan tahun 2012 itu telah tujuh kali melakukan funding rounds, memperoleh uang investasi senilai $771 juta.

Pembelian Careem oleh Uber memungkinkan raksasa ride-sharing asal Amerika Serikat tersebut memiliki kemampuan untuk mengamankan pasar dengan konsumen berjumlah lebih dari 400 juta orang di Timur Tengah. Ini penting bagi Uber, terutama karena mereka telah meninggalkan dua wilayah paling potensial, Cina dan Asia Tenggara.

Di pasar Cina, Uber menyerah dengan menjual aset Cina-nya pada Didi Chuxing. Sementara itu, di Asia Tenggara, mereka memberikan tongkat estafet kepada Grab. Membeli Careem membangkitkan kembali upaya mereka untuk berkuasa di pasar di luar Amerika dan Eropa.

Meski Careem didirikan oleh pemuda Timur Tengah asli bernama Mudassir Sheikha, sebagaimana pada startup lainnya, modal yang mengalir ke startup ini berasal dari berbagai entitas investasi mancanegara, seperti Rakuten asal Jepang, Didi Chuxing (Cina), Endure Capital (Amerika Serikat), dan Kingdom Holding Company (Arab Saudi). Hingga Uber membeli Careem, ada 21 pemodal dari berbagai negara yang mendukung operasional Careem.

Karenanya, pembelian Careem oleh Uber tidak serta merta dibaca sebagai pembelian startup Uni Emirat Arab oleh raksasa Amerika Serikat. Dalam dunia startup, lumrah bahwa modal berasal dari kantong mana pun, negara mana pun.

Uber, si pemboyong Careem, juga tidak sepenuhnya “asli” Amerika Serikat. Semenjak didirikan oleh Travis Kalanick pada 2009, Uber hidup dengan ditopang oleh 96 investor dari berbagai negara. Beberapa investor yang mengucurkan modal tinggi bagi Uber ialah SoftBank Vision Fund, firma investasi bentukan Masayoshi Son asal Jepang dan berkantor pusat di London, dan Tencent, raksasa internet dari Cina. Keduanya menyokong hidup Uber dengan memberikan modal sebesar $7,7 miliar. Lalu, ada pula Saudi Public Investment Fund, biro investasi milik Kerajaan Arab Saudi, yang mengucurkan uang senilai $3,5 miliar pada Uber.

Jika diurutkan, Uber merupakan startup “milik” SoftBank. Pada awal 2018 lalu, sebagaimana dilaporkan Recode, SoftBank menggenggam 15 persen total saham Uber, mengungguli si pendiri, Travis Kalanick, yang hanya memiliki 7 persen total saham Uber. Sementara itu, Kerajaan Arab Saudi puas dengan 3 persen total kepemilikan.

Pada Uber, ada pula Flipkart, e-commerce asal Bengaluru, India. Didirikan oleh Binny Bansal dan Sachin Bansal pada 2007, Flipkart kini dimiliki oleh Walmart, raksasa ritel Amerika Serikat, dengan penguasaan 77 persen total saham.

Sebelum dibeli Walmart, Flipkart melakukan 19 aksi penggalangan dana, dengan dukungan 22 investor mancanegara, yang menghasilkan dana investasi senilai $7,5 miliar. Beberapa investor yang mendukung hidup Flipkart antara lain eBay, e-commerce asal Amerika Serikat, Naspers (Afrika Selatan), Microsoft (Amerika Serikat), hingga Softbank Vision Fund (London).

Di Indonesia, suntikan modal asing pun mengalir pada tubuh startup-startup-nya, misalnya Gojek. Startup ride-sharing itu hingga hari ini telah ditopang hidupnya oleh 21 investor, yang masuk memberi suntikan modal pada Gojek melalui 9 kali sesi funding rounds. Beberapa nama besar investor Gojek ialah PT Astra International, konglomerat asal Indonesia yang pernah mengucurkan dana senilai $100 juta. Lantas, ada pula Google (Amerika Serikat), Tencent (Cina), dan JD.com (Cina) yang ketiganya menggelontorkan dana senilai $920 juta.

Sebagaimana dilansir KrAsia, pada akhir 2018 lalu, firma investasi asal Amerika Serikat KKR Go Investment menjadi pemegang saham terbanyak. Perusahaan ini memiliki 7,14 persen total saham Gojek, disusul Sequoia Capital (Amerika Serikat) dengan 6,88 persen total saham Gojek.

Astra sendiri, sebagai investor lokal, memperoleh 4,03 persen total saham Gojek. Pendiri sekaligus Kepala Eksekutif Gojek Nadiem Makarim mengantongi 4,81 persen total saham startup-nya.

Modal untuk menghidupi startup bisa berasal dari mana saja. Namun, pemodal asal Amerika Serikat mendominasi. Dilansir Statista, pada tahun 2018 lalu, seluruh pemodal ventura asal Amerika Serikat mengucurkan uang senilai $99,48 miliar bagi 5.536 startup di seluruh dunia. Angka tersebut melonjak dari hanya $20 miliar total investasi yang dikucurkan pada 2005 silam.

Infografik Modal Internasional dalam tubuh startup
Infografik Modal Internasional dalam tubuh startup. tirto.id/Nadya


Sementara itu, pada kuartal 4-2018 lalu, Juul, startup yang menciptakan rokok elektrik, menjadi startup yang paling besar memperoleh kue manis dari pemodal. Tercatat, Juul menggondol uang senilai $12,8 miliar dari investor. Lalu, ada pula ByteDance, startup di balik aplikasi TikTok yang memperoleh kucuran investasi senilai $3 miliar. Menyusul di belakangnya ada Grab, ride-sharing Asia Tenggara, yang mengenyam uang senilai $2,85 miliar.

Sosok bernama Bill Gurley jadi pria paling kuat soal pemodal startup. Menurut catatan CB Insight, Gurley merupakan salah seorang pemodal awal Uber hingga GrubHub. Sementara untuk entitas bisnis, Tencent dari Cina adalah yang terdepan soal memberi modal bagi startup. Gojek merupakan salah satu portofolio investasi Tencent.

Mengucurkan investasi pada bisnis rintisan merupakan investasi jangka panjang. Keuntungan tidak bisa diperoleh sesaat. Paling tidak, keuntungan bisa diperoleh jika startup yang dimodali masuk bursa saham. Pemodal bisa langsung mencairkan uangnya dan melihat berapa kenaikan yang diperoleh.

Bisnis startup memang "tidak mengenal negara". Mereka bisa beroperasi di mana pun dan mereka bisa memperoleh dana dari manapun.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani