Geliat "Pemilik" Merek Oppo & Vivo Merebut Kue Pasar Ponsel Pintar

Cina memiliki salah satu pasar ponsel terbesar di dunia dengan persaingan ketat oleh merek lokal dan asing. (Foto AP / Ng Han Guan)
Oleh: Ringkang Gumiwang - 30 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jika diakumulasi, pangsa pasar ponsel pintar global perusahaan asal Cina masih mendominasi. BBK Electronics menjadi motor utama di balik dominasi tersebut.
tirto.id - Duan Yongping pernah berpikir untuk menutup perusahaan miliknya, BBK Electronics yang berdiri sejak 1995. Beruntung, rencana itu tidak terealisasi lantaran perusahaan kini menjelma menjadi salah satu raksasa vendor ponsel pintar (smartphone) di dunia.

Perusahaan yang awalnya berjualan pemutar DVD dan peralatan rumah tangga ini merupakan perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan pemilik merek ponsel pintar seperti Oppo, Vivo, Realme dan OnePlus. Sebelum masuk ke bisnis gawai, BBK bisa dikatakan susah payah untuk tetap hidup.

Kondisi berbalik ketika BBK merintis bisnis ponsel pintar dengan mendirikan Oppo pada 2004. Hasilnya memuaskan. Pelan tapi pasti, pasar ponsel pintar yang dikuasai BBK mulai menggelembung di sejumlah negara tujuan.

"Membuat ponsel pintar sebenarnya bukan panggilan saya. Namun, saya pikir kami cukup baik di pasar ini," kata Duan dikutip dari Bloomberg.


India menjadi bukti keberhasilan BBK untuk menguasai pasar ponsel pintar global. Baru-baru ini, BBK dikabarkan menjadi vendor ponsel pintar nomor satu di India, menggeser Xiaomi yang sudah mendominasi sejak setahun lebih.

Menurut laporan perusahaan konsultan teknologi Counterpoint Research, BBK menguasai 30 persen pangsa pasar ponsel pintar India per Juni 2019. Disusul, Xioami sebesar 28 persen, dan Samsung sebesar 25 persen.

Hasil laporan tersebut juga semakin mengukuhkan posisi Cina sebagai produsen utama pasar ponsel di India yang disusul Korea Selatan melalui Samsung. Adapun, ponsel pintar dengan bujet mahal seperti Apple tidak berkutik di India.

"Di India, harga ponsel pintar di kisaran 10.000-20.000 rupee Indian (Rp2,03 juta-Rp4,06 juta) paling menarik, dan menjadi kontributor terbesar pasar ponsel pintar India," kata Direktur Counterpoint Research Tarun Pathak dikutip dari siaran persnya.

Menjadi penguasa pasar di India jelas menjadi kabar menggembirakan bagi BBK. Bagaimana tidak, India memiliki lebih dari 400 juta pengguna ponsel pintar, dan masih akan bertambah hingga ratusan juta pengguna pada tahun-tahun berikutnya.

Prospek BBK di India juga semakin cerah manakala merek-merek ponsel pintar BBK seperti Oppo dan Vivo sudah melancarkan langkah-langkah strategis dalam memperkuat kesadaran merek atau brand awareness di India.


Misal, Oppo yang menjadi sponsor utama dalam tim kriket India. Lalu, Vivo menjadi sponsor dalam turnamen kriket Indian Premier League. Untuk diketahui, kriket merupakan olahraga paling populer di India. India bahkan kerap dipanggil sebagai Negeri Kriket.

Tumbuh Dua Kali Lipat

Dalam satu dekade terakhir ini, merek ponsel pintar Cina semakin populer di mata konsumen. Tak hanya memuncaki penjualan pasar di dalam negeri, mereka juga mengalahkan pesaing utama di sejumlah negara, baik negara maju maupun berkembang.

Merek di bawah bendera BBK, yakni Oppo, Vivo, Oneplus dan Realme adalah salah satu di antaranya. Namun, sebelum masuk ke pasar ponsel pintar, Oppo sesungguhnya merupakan perusahaan yang menyediakan pemutar DVD dan Bluray.

Selang lima tahun setelah Oppo didirikan, yakni pada 2009, Vivo berdiri. Ponsel pintar pertama Vivo diluncurkan pada 2011. Ponsel ini memiliki kelebihan karena ukurannya yang super tipis. Vivo juga kerap di-endorse oleh para selebriti.

Merek di bawah bendera BBK lainnya adalah OnePlus. Ponsel yang banyak dijual secara daring ini merupakan merek paling premium ketimbang Oppo dan Vivo. Merek ini juga lebih dikenali oleh konsumen dari AS dan Eropa.

Guna mengejar ambisi menguasai pasar global, BBK juga menggelontorkan dana investasi hingga 4,75 miliar yuan atau setara 687 miliar dolar AS untuk pengembangan penelitian (research & development/R&D) dan pabrik.


Lantas seberapa besar pangsa pasar global BBK ini dan bagaimana trennya?

Bisa dibilang kue yang digarap BBK di pasar ponsel pintar global, terutama untuk Oppo dan Vivo terus membesar. Berdasarkan data Statista, misalnya, Oppo mengambil porsi sebesar 3,6 persen dan Vivo 3 persen pada 2015.

Pada kuartal I/2019, kue yang digarap Oppo dan Vivo tumbuh dua kali lipat masing-masing menjadi 7,4 persen dan 7,5 persen. Jika diakumulasi, pangsa pasar BBK melalui Oppo dan Vivo menjadi sekitar 15 persen.

Data Statista tersebut juga sejalan dengan data perusahaan konsultan lainnya, yaitu International Data Corporation (IDC). Menurut IDC, porsi Oppo dan Vivo di pasar ponsel pintar global masing-masing sebesar 7,4 persen, per kuartal I/2019.

Dengan pangsa pasar Vivo dan Oppo sebesar itu, kedua merek menempati peringkat ke-5 dan ke-6 sebagai penguasa pasar ponsel pintar secara global. Adapun, posisi pertama ditempati Samsung, disusul Huawei, Apple dan Xiaomi.



Namun, pertumbuhan porsi pangsa pasar yang positif tak hanya terjadi di BKK saja. Rival BKK yang juga dari Cina, Huawei, juga tak kalah baiknya. Perusahaan yang didirikan oleh Ren Zhengfei ini bahkan mengubah peta pangsa pasar yang selama ini didominasi Samsung dan Apple.

Pada 2015, pangsa pasar Huawei di global hanya sekitar 8,2 persen. Sementara itu, Samsung dan Apple masing-masing menguasai pasar sebesar 20,4 persen dan 18,7 persen. Hingga kuartal I/2018, Samsung dan Apple masih nyaman menempati posisi pertama dan kedua.

Namun memasuki kuartal II/2018, posisi Apple mulai goyah. Untuk pertama kalinya, Huawei menjadi penguasa pasar ponsel pintar global terbesar ke-2, menggeser posisi Apple. Kala itu, Huawei menguasai 15,9 persen dan Apple menguasai 12,1 persen.

"[Huawei berada di peringkat kedua] ini untuk pertama kali sejak tujuh tahun terakhir ini, di mana Samsung dan Apple tidak mendominasi posisi pertama dan kedua," kata Ben Stanton, analis Canalys dikutip dari The Guardian.


Di kuartal pertama tahun ini, Huawei kian mengukuhkan diri sebagai penguasa pasar ponsel pintar global ke-2 dengan menguasai 18,9 persen. Apple, sementara itu, menguasai sekitar 11,8 persen. Adapun Samsung menguasai 23 persen.

Jika melihat tren kinerjanya dalam lima tahun terakhir ini, maka bisa dibilang rapor Huawei lebih mentereng ketimbang Oppo dan Vivo. Apalagi, pertumbuhan penjualan Huawei juga sangat signifikan ketimbang Oppo dan Vivo.

Berdasarkan laporan Counterpoint Research, penjualan Huawei pada kuartal I/2019 tumbuh 38 persen menjadi 59,1 juta unit dari kuartal I/2018 sebanyak 39,3 juta unit. Sementara Oppo dan Vivo masing-masing tumbuh 6 persen dan 26 persen.

Pada saat bersamaan, penjualan ponsel pintar dari merek terkemuka seperti Samsung, Apple, dan Xioami justru melesu. Penjualan ponsel mereka sepanjang kuartal I/2019 masing-masing menurun 8 persen, 20 persen dan 1 persen.


Meski begitu, ada sedikit noda terhadap prestasi Huawei ini. Tahun lalu, Direktur Huawei Meng Wanzhou sempat ditangkap otoritas AS karena diduga melanggar penerapan sanksi ekonomi AS terhadap Iran. Meski akhirnya bebas dengan jaminan.

Selain itu, raksasa teknologi asal Cina ini juga ikut terdampak oleh ketegangan hubungan antara Negeri Tirai Bambu dengan AS. Pemerintah AS menerapkan larangan bagi perusahaan-perusahaan asal AS untuk melakukan hubungan dagang dengan Huawei pada Mei lalu yang kemudian berujung pada pemblokiran akses Huawei ke pembaruan bagi sistem operasi Android.

Kendati demikian, mengutip Techradar, per bulan Juli ini pemerintah AS sudah berencana untuk 'mengendurkan' sanksinya. Sejumlah perusahaan AS sudah diizinkan untuk kembali berdagang dengan Huawei.

Jika melihat tren di atas, merek ponsel pintar asal Cina tampaknya masih akan menguasai pasar ponsel pintar global. Dalam konteks ini, selain Huawei, BBK boleh jadi masih akan menjadi motor utamanya.

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight