Laporan dari Shenzhen

Geliat Oppo di Tengah Evolusi Shenzhen Menjadi Silicon Valley Baru

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 November 2018
Dibaca Normal 5 menit
Oppo membuka markas, sekolah riset, hingga gerai flagship di kota yang dulunya kampung nelayan dan desa petani ceri. Shenzhen tumbuh berkat inisiatif Deng Xiaoping dan “Sosialisme Berwatak Cina.”
tirto.id - Selasa, 23 Oktober 2018. Usai melewati gerbang imigrasi dan proses pemeriksaannya yang agak kaku, rombongan awak media asal Indonesia yang diundang oleh Oppo akhirnya resmi menginjakkan kaki di Shenzhen, Republik Rakyat China.

Kami datang melalui Hong Kong International Airport, lalu menumpang kapal feri selama kurang lebih 40 menit. Siang itu sinar matahari bersinar cukup cerah, namun tak mampu menembus kabut tebal yang turun sejak kami tiba di pelabuhan.

Pemandu yang mengantar rombongan ke hotel bernama Jenny. Perempuan asli Cina ini lebih sering dipanggil Jen, dan cukup fasih berbahasa Indonesia. Di tengah-tengah perjalanan ia sempat bercerita mengenai Shenzhen—bagian dari megalopolis Delta Sungai Mutiara di tenggara Provinsi Guangdong.

“Shenzhen adalah kota baru yang dibangun untuk menyaingi Hong Kong. Baru berusia 40 tahun. Dulunya kampung nelayan dan desa petani ceri,” katanya.

Persaingan itu dimaksudkan bukan untuk saling menenggelamkan, tapi saling mengangkat derajat satu sama lain. Kerja sama ekonomi Shenzhen-Hong Kong makin hari tercatat makin mesra. Dampak yang kami saksikan sendiri adalah padatnya lalu lintas warga antar dua kota.

Selain kapal feri, warga bisa melintas jalur darat. Belum lama ini pemerintah Cina juga meresmikan salah satu jembatan terpanjang di dunia yang menghubungkan Hong Kong dengan Makau plus Cina daratan.

Shenzhen yang dulu bukanlah yang sekarang. Corak agraris, sebagaimana yang disebutkan Jen, masih terasa dalam kehidupan warga Shenzhen hingga akhir 1970-an. Kegiatan administrasinya dipusatkan di Dongmen. Koneksi dengan wilayah tetangga, termasuk Hong Kong, masih cukup minim.

Modernitas datang mula-mula karena kebijakan Zona Ekonomi Spesial (Special Economic Zone/SEZ) yang disahkan oleh pemerintahan Deng Xiaoping pada tahun 1979.

Xiaoping pelan-pelan meninggalkan rumus komunisme klasik. SEZ diproyeksikan sebagai eksperimen kapitalisme pasar dalam sebuah ekosistem yang menjunjung “Sosialisme Berwatak Cina”.


Xiaoping menjajaki pasar bebas melalui penerapan aturan bisnis yang lebih fleksibel. Ia berharap akan lebih banyak aliran modal yang masuk ke Cina daratan, sekaligus membuka pintu perdagangan selebar-lebarnya ke pasar internasional.

Shenzhen termasuk satu dari lima kota yang dijadikan kawasan SEZ. Dua wilayah lain yang masih masuk di Provinsi Guandong adalah Shantou dan Zhuhai. Sisanya adalah Xiamen di Provinsi Fujian dan Provinsi Hainan yang secara geografis terletak di satu pulau tersendiri.

Seluruhnya terletak di ujung tenggara RRC, berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Pada era 1980-an hingga awal 1990-an, SEZ diperluas ke belasan kota pesisir. Pemerintah membangun pelabuhan-pelabuhan baru untuk menghubungkan serta menghidupkan ekonomi kota-kota tersebut.

SEZ pada akhirnya mendorong perubahan masyarakat lokal dalam banyak aspek. Mulai dari meningginya tingkat kepadatan penduduk akibat kenaikan gelombang imigrasi, perubahan jenis mata pencaharian, hingga cara pandang mereka terhadap budaya Barat.

Shenzhen yang semula didominasi hutan atau area perkebunan kini berubah menjadi jalanan aspal, trotoar, taman, dan gedung-gedung pencakar langit.

Perbukitan banyak yang sudah rata dengan tanah. Beberapa ada yang terlihat sedang digempur dengan alat-alat berat. Para pekerja kabarnya mengoperasikannya siang-malam, menyulap Shenzhen menjadi rimba beton dalam waktu yang singkat.

Gedung-gedung tinggi di Shenzhen umumnya dua fungsi utama: perkantoran dan apartemen.

Gedung perkantoran ditandai dengan papan nama megah. Logo perusahaan terlihat mencolok. Ada yang tergolong bank-bank swasta, markas pengembangan start-up, atau korporasi-korporasi multinasional.

Gedung apartemen satu dan yang lain kerap berkumpul menjadi satu kompleks, serupa kawasan apartemen di Kalibata, Jakarta. Jika melongok ke atas, Anda akan melihat pakaian yang dijemur di tepian balkon. Lantai paling bawah biasanya dipakai untuk toko swalayan atau kantor agensi apartemen itu sendiri.

Pemerintah Shenzhen melarang sepeda motor. Tapi mereka bekerja sama dengan pihak swasta untuk menyediakan penyewaan sepeda listrik. Warga menggunakannya untuk menempuh lokasi dekat. Untuk lokasi jauh, tersedia taksi, bus, atau kereta bawah tanah yang menghubungkan titik-titik penting.


Infrastruktur kota dibuat semanusiawi mungkin. Trotoarnya lebar. Ruang terbuka hijau (RTH) menghiasi hampir setiap sudut kota. Faktanya, Shenzhen adalah kota dengan persentase RTH terluas di antara kota-kota lain di Cina.

Tapi bukan infrastruktur yang membuat dunia melirik Shenzhen, melainkan lesatan kencang ekonominya dalam beberapa tahun terakhir.

Kini citra Shenzhen bukan lagi kampung nelayan atau desa petani ceri. Ia berubah status menjadi jantung manufaktur Cina, pusat teknologi global terkemuka yang digadang-gadang akan menjadi “Silicon Valley” selanjutnya.

Visi Xiaoping mulai terwujud. Dalam tiga dekade terakhir berbagai investasi bernilai gigantis datang dan menetap Shenzhen, terutama yang menyasar pasar perangkat keras. Para investor mendirikan pabrik-pabrik perakitan di Shenzhen yang berhasil menyerap banyak tenaga kerja.

”Sudah tidak ada lagi petani ceri,” mengutip Jen. Kini warga usia produktif di Shenzhen rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja pembangunan infrastruktur, atau karyawan kantor.

Para buruh menghasilkan produk elektronik yang didistribusikan ke pangsa pasarnya masing-masing, di berbagai ke pelosok negara. Produk ini mula-mula diangkut melalui pelabuhan kontainer Shenzhen, yang kini tercatat sebagai salah satu pelabuhan kontainer tersibuk di dunia.

Posisi karyawan kantor banyak diisi oleh anak muda. Catatan demografi Shenzhen yang paling aktual menunjukkan bahwa kota ini memiliki persentase penduduk usia muda paling besar dibandingkan penduduk usia muda di kota-kota lain di Cina.

“Mereka rata-rata pendatang dari desa, bekerja untuk menafkahi keluarganya. Baru pulang saat akhir pekan,” lanjut Jen.

Shenzhen menjelma menjadi rumah bagi sederet markas perusahaan multinasional. Sebut saja JXD, Vanke, Hytera, CIMC, atau Shenzhen Airlines. Ada pula Nepstar, Hasee, Ping An Bank, Ping An Insurance, China Merchants Bank, juga Tencent, ZTE, Huawei, dan BYD.


Oppo tak mau ketinggalan. Setelah sebelumnya membuka gerai flagship di Shanghai, vendor yang didirikan pada permulaan abad ke-21 ini juga membuka gerai flagship keduanya di pusat Kota Shenzhen.

Rombongan awak media diundang untuk mengunjungi gerai tersebut pada Rabu (24/10/2018). Lokasinya terletak di Huaqiang North Commercial Street, tepat di samping perempatan yang sibuk dilalui oleh warga sekitar.

Gedung-gedung tinggi yang mengapitnya memajang layar iklan raksasa. Wajah para endorser dan brand ambassador berkelebat, memancing orang-orang untuk melongok sejenak.

Pemilihan Huaqiang North Commercial Street adalah kebijakan paling masuk akal. Aryo Meidianto, PR Manager Oppo Indonesia, menjelaskan status kawasan tersebut sebagai surga bagi orang-orang yang ingin berbelanja barang elektronik.

Gedung-gedung tinggi di Huaqiang North Commercial Street, imbuhnya, menyediakan berbagai jenis produk secara spesifik. “Jika ada lantai dasar yang menjual ponsel, sampai ke lantai atas juga menjual ponsel. Begitu juga dengan lantai dasar yang menjual LED, dan lain-lain.”

Gerai flagship Oppo terdiri dari dua lantai. Desain interiornya bergaya modern. Isinya mencangkup ponsel-ponsel kelas premium hingga yang menengah. Terdapat pula sejumlah produk aksesoris terbaru seperti headphone, casing, dan speaker.

Uniknya, gerai ini menampilkan barang-barang antik seperti kamera lawas, kaset games lama, hingga pemutar CD. Barang-barang tersebut diletakkan berdampingan dengan ponsel keluaran terbaru, salah satunya Oppo Find X yang dibanderol sebesar 5.000 RMB atau Rp10,8 juta.

Filosofi peletakan barang-barang lawas tersebut, menurut pengelola gerai, dimaksudkan untuk menunjukkan betapa cepatnya perkembangan teknologi. Oppo, yang tahun ini menginjak usia ke-17, juga terus berupaya untuk berinovasi agar tak ketinggalan zaman.

Pengelola menyediakan teknologi fast charging. Pengunjung bisa memantau durasi pengisian baterai usai menancapkan kabel pengisi daya ke lima buah slot yang tersedia. Teknologi ini sudah diterapkan Oppo ke dalam produk pengisi daya terbaru bernama VOOC dan SuperVOOC.


Khusus di gerai flagship ini, Oppo juga memberi kebebasan bagi para pengunjung untuk mencoba semua perangkat tanpa harus risih oleh keberadaan pramuniaga atau promotor. Tujuannya agar pengunjung merasa nyaman selama mencoba produk-produk yang dipamerkan.

Selain memasang sistem pengamanan seperti CCTV dan alarm, di pintu masuk Oppo juga menerapkan teknologi face recognition. Teknologi ini mampu mengidentifikasi wajah serta identitas para pengunjung sehingga akan memudahkan pihak kepolisian jika terjadi tindak kriminalitas.

Gerai flagship bukan satu-satunya wujud kehadiran Oppo di Shenzhen. Oppo membuka kantor pusat Distrik Futian, Shenzhen bagian selatan. Pada awal April 2018, contoh lainnya, mereka mengumumkan rencana untuk membangun pusat penelitian baru yang bermarkas di Shenzhen.

Infografik Silicon Valley Cina


Oppo sebelumnya telah mendirikan sekolah riset di Beijing dan Shanghai. Lainnya ada yang terletak di Yokohama, Jepang, dan Silicon Valley, Amerika Serikat. Kurikulumnya ditujukan untuk akselerasi pengembangan perangkat lunak, perangkat keras, dan standar kualitas produk.

Pendek kata: Oppo dan Shenzhen sama-sama ambisius. Keduanya digerakkan oleh semangat berinovasi untuk terus bersaing. Oppo berkompetisi dengan vendor besar lain di Cina, sedangkan Shenzhen ditumbuh-kembangkan untuk menyaingi kota-kota di sekitarnya—terutama Hong Kong.

Usai menyelesaikan kunjungan di gerai flagship, rombongan dibawa untuk sesi foto malam (night shooting) di Taman Lianhuashan.

Awak media dibekali R17 Pro, ponsel terbaru Oppo yang dilengkapi kamera F1.5/F2.4 Smart Aperture. Fitur ini dibuat khusus untuk menangkap panorama malam dengan lebih baik.

Taman Lianhuashan terletak di ujung utara Distrik Futian. Lanskapnya mencangkup area seluas 150 hektar dengan kontur berbukit-bukit. Pengunjung mesti melalui seratusan anak tangga sebelum akhirnya mencapai puncaknya di ketinggian 106 meter.

Rombongan tiba di puncak bukit sebelum dimulainya pertunjukan cahaya di antara gedung-gedung pencakar langit kota Shenzhen. Semua orang berlomba untuk mencapai tepian pagar agar bisa mengabadikan momen tersebut dengan maksimal.

Persis di tengah-tengah puncak bukit terdapat patung perunggu Deng Xiaoping setinggi enam meter. Ia berpose seakan sedang berjalan, menghadap langsung ke hamparan Kota Shenzhen—Silicon Valley selanjutnya yang ada dan tumbuh berkat inisiatifnya.

Baca juga artikel terkait OPPO atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight