Gelas Kopi di Game of Thrones, dan Kesalahan yang Menguntungkan

Infografik Stark Bucks
Penonton menunjukkan cangkir Starbucks yang nampak dalam sebuah adegan di film serial Game of Throne season 8 episode ke-4. tirto.id/Hafitz Maulana
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 10 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Goof justru menegaskan kuatnya basis penggemar dan memperluas perbincangan serial.
tirto.id - Dalam episode keempat, musim kedelapan Game of Thrones, para balatentara di Utara diliputi kegembiraan. Meski ribuan tentara gugur, mereka berhasil menang melawan rombongan The Night King dan gerombolan White Walkers.

Maka digelarlah pesta dengan makanan berlimpah dan anggur kualitas terbaik. Orang bijak bilang, anggur bisa bikin orang pendiam jadi amat cerewet, dan orang cerewet jadi seperti punya dua mulut. Buktinya adalah Tormund Giantsbane (Kristofer Hivju) yang bangga dan memuji Jon Snow (Kit Harington) sebagai laki-laki sejati sebab piawai membantai musuh, pernah mati tapi hidup lagi, sekaligus mampu menunggangi naga.

Jelang menit ke-17 kamera turut menyorot Daenerys Targaryen (Emilia Clarke). Ia duduk manis di kursi yang membelakangi Jon sambil sesekali tersenyum kecut karena semua perhatian tertuju pada Jon. Sekilas tidak ada yang aneh. Kecuali jika Anda perhatikan betul-betul, nampak segelas kopi (yang diduga merek Starbuck) di atas meja.

Jagat internet “meledak” saat seorang penonton mengunggah kekeliruan tersebut di Twitter. Dari sana meme ledekan sudah tak bisa dihentikan. Ledekan banyak ditujukan pada HBO selaku penanggung jawab produksi.

Alasannya tak lain tak bukan adalah Game of Thrones dikenal sebagai serial yang amat menaruh perhatian pada detail sekecil apapun. Ditambah, biaya produksi di musim kedelapan ini mencapai 15 juta dolar per episode, sehingga kesalahan kecil namun besar seperti tersasarnya gelas kopi abad ke-21 adalah fakta yang hampir tidak mungkin untuk tidak ditertawakan—bahkan oleh pihak Game of Thrones sendiri.

“Berita dari Winterfell. Kopi latte yang muncul di episode (keempat) adalah kesalahan. #Daenerys sebenarnya memesan teh herbal," cuit mereka melalui akun Twitter resmi.


The New York Times melaporkan, kurang dari 48 jam setelah episode “The Last of Starks” itu mengudara, gelas kopi langsung dihapus oleh pihak HBO. Penonton saluran streaming kini tidak akan menemukannya. Demikian pula penonton televisi kabel di penyiaran serial pada masa yang akan datang.

Kesalahan yang terjadi di "The Last of Starks" itu jelas bukan hal baru. Dunia film menyebutnya sebagai goof, bentuk kesalahan yang nampak dalam hasil final sebuah film layar lebar atau serial televisi.

Goof kerapkali bersifat tidak disengaja, berkaitan dengan hal-hal sepele, dan berakhir sebagai lelucon di mata publik. Namun bagi penggemar garis keras, serta dalam taraf yang agak parah, goof kerap diperlakukan bak kerikil dalam sepatu: kecil tapi mengganggu.

Ada berbagai macam kategori goof. Gelas kopi di Game of Thrones tergolong jenis kesalahan tak disengaja yang dilakukan seorang atau sekelompok kru. Contohnya bayangan kamera nampak di cermin, mikrofon masuk dalam frame, atau kru terlihat dari kejauhan.

Hauke Richter, Direktur Artistik Game of Thrones sejak musim keempat, berkata pada Variety bahwa kekeliruan teknis dalam hasil final acara televisi atau film bukan sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi jika proyeknya melibatkan banyak orang, ceritanya kompleks, dan durasinya panjang.

“Segalanya bisa terlupa di lokasi syuting,” kata Richter. Menurutnya kesalahan gelas kopi dianggap sebagai sesuatu yang, “begitu luar biasa (sebab) tidak terjadi pada (episode-episode) Thrones sejauh ini.”


Hikmat Darmawan, pengamat budaya pop, menilai kekeliruan gelas kopi di Game of Thrones tidak lantas membuat serial itu menjadi “cacat”. Menurutnya, kekeliruan itu justru akan meningkatkan relasi penggemar dengan dunia fantasi ciptaan George R. R. Martin itu.

“Itu sebenarnya sangat mudah diatasi dengan dihapus secara digital. Produksinya melibatkan banyak unsur. Satu hal luput sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, “ kata Hikmat melalui sambungan telepon, Rabu (8/4/2019).

“Tapi namanya saja fans, mereka sudah spot-on dengan hal-hal detail. Termasuk karena ditonton berulang-ulang,” imbuhnya.

Hikmat melihat kekeliruan itu menciptakan setidaknya dua efek positif. Pertama, menegaskan keberhasilan Game of Thrones dalam membangun basis penggemar yang kuat. Saking kuatnya, mereka peduli dengan beragam kesalahan-kesalahan kecil.

Fans waralaba Star Wars, adalah contoh lain. Mereka menyadari betul dalam Star Wars: Episode IV A New Hope ada seorang prajurit Stormtrooper yang kepalanya membentur pintu pesawat.

Goof jadi menarik untuk diperbincangkan --juga untuk ditertawakan-- karena ia menjadi semacam kebalikan dari Hollywood yang amat terobsesi dengan kesempurnaan. Hikmat memberi contoh bagaimana Charlie Chaplin mengulang adegan membeli bunga ke penjual perempuan yang buta sampai ratusan kali di film City of Light (1931).

Karena obsesi terhadap kesempurnaan itu, goof bisa jadi amat mengganggu, terutama pada film garapan sineas yang dikenal perfeksionis. Sebaliknya, goof seperti bisa dimaklumi di film-film kelas B.

"Kadang kesalahan itu malah jadi part of the charm. Misalnya problem continuity, di mana satu frame rambut si aktor terlihat pendek, tapi di frame selanjutnya panjang. Tapi namanya saja film kelas B, ekspektasinya juga rendah.”


Kekeliruan continuity digolongkan dalam goof kronologis. Contoh lain ada dalam adegan sarapan di film Pretty Woman (1990). Kamera menyorot Vivian (Julia Roberts) sedang mengunyah croissant, sedetik beralih ke Edward (Richard Gere), lalu kembali ke Vivian yang tiba-tiba sudah memegang panekuk.

Lalu ada pula goof geografis yang menginformasikan penonton tentang kota atau negara yang jadi latar belakang film, padahal sebenarnya tidak sesuai kenyataan. Ini sangat umum di Hollywood, di mana penampilan New York atau kota besar AS lainnya sebenarnya diambil di Kanada.

Hikmat melihat goof sebagai fenomena yang lebih mencerminkan penonton ketimbang film atau serialnya. Obsesi kesempurnaan itu berpadu dengan fans culture, sub-kultur yang sangat fanatik terhadap satu karya hiburan.

Fans culture ini mengembangkan berbagai tindakan yang intensif untuk membangun relasi dengan produk-produk hiburan. Misal, nonton berulang kali.”

Kesalahan yang Menguntungkan

Di era internet, Goof kian cepat menyebar berkat medsos, terutama YouTube. Banyak penggemar yang merasa puas saat bisa menemukan goof lalu mempublikasikannya.

Goof tidak selamanya bertendensi negatif. Hikmat mencontohkan industri perfilman Hong Kong lawas juga terobsesi akan kesempurnaan mengolah film aksi. Jacky Chan memberi makna positif bagi adegan-adegan gagal dengan menampilkannya di kredit film, yang justru menguatkan otentisitas koreografi.

Screen Rant pernah mengkompilasikan kesalahan-kesalahan dalam film yang malah disukai sutradara dan ditampilkan dalam hasil final. Kebanyakan berupa improvisasi aktor yang membuat adegan lebih hidup.




Misalnya adegan makan malam dalam film Django Unchained (2012) arahan Quentin Tarantino. Calvin Candle (Leonardo DiCaprio) bermonolog sambil mengancam akan membunuh istri Django (Jamie Foxx) tepat di meja makan.

Adegan diambil beberapa kali. Pada salah satunya DiCaprio menumpah emosi dengan menggebrak meja, yang secara tak sengaja memecahkan gelas dan menyayat tangan kirinya. Darah (sungguhan) pun pelan-pelan mengalir.

Aktor lain barangkali akan menghentikan diri. Tapi DiCaprio melanjutkannya. Di satu titik ia bahkan terus bermonolog mengambili potongan-potongan kecil kaca yang menancap di bagian tangan yang terluka.

Saking bagusnya penampilan DiCaprio, aktor lain beserta kru bertepuk tangan meriah saat Tarantino meneriakkan “cut”. Penonton bisa menyaksikannya karena adegan disertakan dalam suntingan final. DiCaprio melanjutkan sisa syuting dengan tangan terbungkus kain kasa.

Kategori goof yang tak kalah populer adalah kekeliruan historis. Hikmat mencontohkan kekeliruan historis di film Gie (2005) garapan sutradara Riri Riza. Di film itu, rumah Gie beratapkan genteng kodok, padahal genteng kodok seharusnya belum diproduksi di era yang jadi latar waktu film.

”Dalam film sejarah kekeliruan itu biasanya mengganggu bagi yang tahu saja. Meski bertema sejarah, film sebenarnya kan punya dunia sendiri, jadi bagi saya tidak terlalu merusak kenikmatan menonton. Kalau pun ada sedikit-sedikit (kekeliruan) ya tetap bisa menikmati asal tema dan ceritanya menarik,” ujar Hikmat.

Dalam kasus goof di Game of Thrones, yang paling diuntungkan jelas Starbucks. Meski nama kedai kopi asal Seattle itu sudah mendunia, tetap saja mereka girang mendapat "promosi" gratis di salah satu serial paling populer di dunia.

Di media sosial, dalam waktu 48 jam sejak episode dirilis diperkirakan ada 193.000 mention yang menyandingkan Starbucks dan Game of Thrones. Stacy Jones, CEO Starbucks, memperkirakan perusahaan mereka mendapatkan sekitar 2,3 miliar dolar dalam bentuk iklan gratis.

Tidak buruk kan?

Baca juga artikel terkait GAME OF THRONES atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight