Gayatri Rajapatni Menuntun Majapahit dari Balik Layar

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi, tirto.id - 6 Okt 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Kisah putri bungsu raja terakhir Singasari yang menjadi istri terkasih pendiri Majapahit. Ia jadi pertapa usai memantapkan kuasa penerus klan Rajasa.
tirto.id - Tersebutlah pada suatu pagi, Sri Rajasanagara tengah mengadakan pertemuan dengan para menteri, pejabat kerajaan, dan bangsawan di Balai Manguntur. Di tengah-tengah pertemuan, datanglah Mahapatih Gajah Mada menghadap. Sang Adimenteri mengingatkan suatu kewajiban yang tak boleh diabaikan.

Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi; Supaya upacara sraddha Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda; Di istana pada tahun 1284 Saka, bulan Badrapada,” demikian tutur Gajah Mada sebagaimana tercatat dalam Desawarnana pupuh 63 bait 2.

Atas saran Gajah Mada pula, seluruh pembesar kerajaan diharap turut serta urun dana untuk penyelenggaraan upacara penting itu. Sri Rajasanagara setuju dan semua keperluan serta tata laksana sraddha untuk sang Rajapatni disepakati pada hari itu juga.

Tahun 1284 Saka berarti 1362 dalam tarikh Masehi. Itu adalah tahun ke-12 sejak wafatnya Sri Rajapatni.

Sraddha bagi arwah Sri Rajapatni berlangsung megah meriah selama delapan hari. Upacara dipusatkan di Balai Witana yang terletak di tengah Manguntur. Di situ pulalah takhta Majapahit terletak.

Kakawin Desawarnana gubahan rakawi Prapanca mengisahkan upacara peringatan itu demikian panjang lebar, sejak pupuh 63 hingga pupuh 69.

Dimulai dari sembahyang pembuka yang diikuti langsung oleh Sri Rajasanagara. Berikutnya adalah prosesi pemanggilan arwah Sri Rajapatni yang disemayamkan dalam sebuah arca bunga.

Esoknya, arca bunga Sri Rajapatni dibawa keluar dan didudukkan di atas singgasana. Selanjutnya berturut-turut para pendeta dan pembesar kerajaan menghaturkan puja untuk arwahnya.

Berikut para raja, parameswari dan putra mendekati arca. Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah. Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,” demikian dipertelakan dalam pupuh 65.

Hari-hari berikutnya diisi dengan haturan persembahan yang tiada putus. Makanan dibagikan merata kepada empat kasta, juga derma bagi mereka yang tak mampu. Segala hiburan dari wayang hingga tarian meramaikan ibu kota Majapahit.

Di hari kedelapan, upacara sraddha kembali khidmat dengan doa-doa untuk Sri Rajapatni. Pada puncaknya, Sri Rajapatni dipuja sebagai Prajnaparamita—manifestasi kebijaksanaan tertinggi dalam ajaran Buddha.

Usai upacara sraddha, Sri Rajasanagara masih juga melakukan penghormatan dengan pembangunan candi makam Sri Rajapatni di Kamal Pandak. Prajnaparamitapuri, nama candi makam itu, sebelumnya telah disucikan tanahnya oleh pendeta Jnyanawidi.

Pula di Bayalangu, raja beralias Hayam Wuruk itu membangun candi pendermaan bernama Wisesapura. Kedua-duanya lantas jadi tujuan ziarah yang sohor bagi kawula Majapahit.

Desawarnana pupuh 69 menyebut, “Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta. Di tiap daerah, rakyat serentak membuat peringatan dan memuja.”

Dalam Desawarnana, Prapanca menyebutnya sebagai “titisan Parama Bagawati” juga “sumber bahagia dan pangkal kuasa”.

Mengapa Sri Rajapatni mendapat penghormatan amat besar hingga Prapanca merasa perlu mewartakan upacara sraddha untuknya secara terperinci? Siapakah sejatinya dia?


Penyambung Dinasti Rajasa

Sri Rajapatni yang demikian dihormati orang-orang Majapahit itu adalah Gayatri, salah satu putri dari raja terakhir Singasari Kertanagara. Juga istri dari Sanggrama Wijaya, raja pertama Majapahit. Juga ibu dari raja putri Sri Tribuwana Wijayatunggadewi dan nenek dari Sri Rajasanagara.

Namanya tecantum dalam kronik Pararaton dan beberapa prasasti. Selain itu, kilasan kisah hidup Gayatri juga bisa ditemui dalam beberapa naskah kidung, di antaranya kidung Harsawijaya dan Panji Wijayakrama.

Sejarawan Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit (2012, hlm. xvii) menyebut putri bungsu Kertanagara ini diperkirakan lahir pada 1274. Berdasar penelusurannya atas beberapa sumber sejarah, Drake juga menyebut sang putri punya karakter yang membuatnya menonjol.

Berbeda dari ketiga kakaknya—Tribuwana, Mahadewi, dan Jayendradewi, Gayatri adalah putri Kertanagara paling haus pengetahuan—terutama soal tata negara dan agama. Boleh jadi, Gayatri-lah yang paling menginsafi cita-cita sang ayah akan penyatuan Nusantara di bawah Singasari.

Terkait cita-cita Nusantara itu, sejarawan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2011, hlm. 117) menjelaskan, “Di antara raja-raja Singasari, Sri Kertanagara yang pertama-tama melepas pandangan ke luar Jawa. Ia meninggalkan politik tradisional yang berkisar pada Janggala-Panjalu. Ia ingin mempunyai kerajaan yang lebih luas dan lebih besar daripada sekadar kerajaan Janggala-Panjalu warisan Raja Erlangga.”

Gayatri dan kakak-kakaknya sempat menjadi saksi peristiwa-peristiwa politik penting di Jawa pada akhir abad ke-13. Yang pertama adalah konflik antara Singasari dan Tiongkok di bawah kuasa Kublai Khan pada 1280-an. Lalu, yang paling pedih baginya, tentu saja kejatuhan Singasari akibat serangan Jayakatwang dari Gelang-gelang pada 1292.

Seturut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2012), Raja Kertanagara tewas dalam penyerbuan itu. Putri Tribuwana berhasil bersembunyi dan kemudian diselamatkan Raden Wijaya.

Putri Gayatri tertangkap oleh tentara musuh, kemudian diangkut ke Kediri,” tulis Slamet (2012, hlm. 180).

Yang terjadi setelahnya adalah sejarah. Raden Wijaya berhasil menghancurkan Jayakatwang yang berkedudukan di Kediri dengan memanfaatkan pasukan Mongol. Majapahit pun berdiri dan dia ditabalkan sebagai rajanya yang pertama. Kertarajasa Jayawardana gelarnya.

Setelah itu, seturut Desawarnana, Kertarajasa menikahi keempat putri Kertanagara. Meski begitu, beberapa sumber sejarah lain menyebut Raden Wijaya hanya menikahi Tribuwana dan Gayatri. Pernikahan itu pun terjadi kala Singasari masih berjaya.

Slamet Muljana (2012, hlm. 161) menyebut perkawinan itu adalah untuk mengukuhkan ikatan antara keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Lagi pula, Kertanagara tidak memiliki putra yang bakal menggantikannya sebagai raja.

Dengan perkawinan itu dan pencalonan sebagai raja mahkota, tidaklah mungkin timbul niat memberontak pada pemuda Wijaya,” tulis Slamet (2012, hlm. 161).

Terlepas dari perbedaan kabar dan maksud politik di balik perkawinan itu, yang pasti Gayatri kemudian menjadi pendamping Kertarajasa yang terkasih. Itulah mengapa dia disandangi gelar Rajapatni, sang Pendamping Raja.

Sumber prasasti dari masa awal Majapahit mengonfirmasi posisi istimewa Gayatri di sisi Kertarajasa. Di antaranya dalam Prasasti Pananggungan bertarikh 1296 dan Prasasti Kertarajasa bertarikh 1305. Terkhusus dalam prasasti yang disebut terakhir, hubungan Kertarajasa dan Gayatri digambarkan laiknya Dewa Siwa dan Dewi Uma.


Bayangan Majapahit

Desawarnana pupuh 45 memberitakan bahwa Kertarajasa naik takhta Majapahit pada 1294. Sang raja juga menegaskan diri sebagai wangsa Rajasa dan Majapahit yang baru berdiri itu merupakan penerus Singasari.

Prapanca menyanjung Kertarajasa sebagai “kesayangan rakyat, pelebur musuh.” Juga selama masa kuasanya, “seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah.” Namun, era Kertarajasa bukanlah masa damai.

Prapanca tidak mencatat, tapi kita bisa tahu bahwa Kertarajasa menghadapi beberapa pemberontakan dari sumber sejarah lain. Pararaton dan kidung Panji Wijayakrama mengabari kita tentang pemberontakan Rangga Lawe pada 1295. Lalu dari kidung Sorandaka, kita mengetahui pemberontakan Lembu Sora pada 1300.

Setelah Kertarajasa wafat pada 1309, tampuk kekuasaan jatuh kepada putranya yang bergelar Jayanagara. Masa ini juga bukanlah masa tenang karena tercatat adanya pemberontakan Nambi (sekira 1316) dan pemberontakan Kuti-Semi (1319).

Putri Gayatri Rajapatni menjadi saksi semua pemberontakan itu. Seturut arkeolog Agus Aris Munandar dalam studinya yang terbit di jurnal Jumantara (vol. 6, no. 1, 2015) pemberontakan Kuti agaknya merupakan yang paling berbahaya. Jayanagara yang tak lain adalah anak tiri Gayatri itu sampai harus meninggalkan istana dan mengungsi ke Desa Badander.

Namun, masih menurut Agus, pemerontakan ini juga menyiratkan betapa istimewanya sosok Gayatri. Meski berhasil menguasai ibu kota, Kuti yang sebenarnya masih termasuk penggawa kerajaan itu tidak mengusik kedaton Gayatri.

Kuti rupanya masih menghormati Gayatri yang di masa itu sudah dianggap sebagai sesepuh pendiri Majapahit dan simbol kuasa keturunan Rajasa.

Tokoh Gayatri tetap disegani oleh para pemberontak, ia tetap bersemayam di Istana Majapahit bersama putrinya yang kelak menjadi ratu, yaitu Tribhuwanottunggadewi,” tulis Agus.


Infografik Mozaik Jalan sunyi gayatri ranjapatni
Infografik Mozaik Jalan sunyi gayatri ranjapatni. tirto.id/Ecun


Prapanca telah menyiratkan pula informasi ini kala menyebut Sri Rajapatni sebagai “pangkal kuasa” dalam kakawin gubahannya. Memang, peranan Gayatri amat krusial dalam peralihan takhta setelah Jayanagara tewas dibunuh pada 1328.


Sebelum sampai pada masa ini, seturut interpretasi Earl Drake, Gayatri “menempa” seorang pengawal raja bernama Gajah Mada. Usai berperan besar dalam penyelamatan Jayanagara, karier Gajah Mada memang meroket menjadi patih di Kahuripan dan kemudian di Daha.

Secara pragmatis, Gayatri agaknya tengah menyiapkan sekutu untuk dirinya sendiri dan putri-putrinya di kemudian hari. Di era Jayanagara, Tribuwana Tunggadewi memang adalah rani di Kahuripan-Jiwana dan Dyah Rajadewi (putri kedua) menjadi rani di Daha.

Setelah tewasnya Jayanagara, Gajah Mada memohon kepada Gayatri agar naik takhta. Gayatri sebenarnya punya legitimasi kuat untuk mengklaim takhta. Dia adalah istri pendiri Majapahit dan keturunan wangsa Rajasa.

Namun, Gayatri menolaknya karena telah menjalani hidup sebagai bhiksuni. Jalan keluar untuk kekosongan takhta Majapahit itu kemudian diuraikan oleh Prapanca dalam Desawarnana pupuh 49.

Rani Jiwana Wijayatunggadewi bergilir mendaki takhta Wilwatikta; didampingi raja putera Singasari; Atas perintah ibunda Rajapatni; sumber bahagia dan pangkal kuasa; Beliau jadi pengemban dan pengawas raja muda Sri Baginda Wilwatikta (Hayam Wuruk).”

Maka naiklah Tribuwana Tunggadewi Jayawisnuwardani ke takhta Majapahit sekira setahun setelah mangkatnya Jayanagara. Gajah Mada sendiri kemudian diangkat menjadi patih amangkubumi pada 1334.

Selama pemerintahan Tribhuwanottunggadewi kecemerlangan Majapahit berangsur-angsur naik, didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada yang juga memiliki cita-cita mempersatukan Nusantara,” tulis Agus dalam studinya.

Di titik inilah, Gayatri Rajapatni menuntaskan perannya bagi Majapahit dan wangsa Rajasa. Sang putri lantas kembali pada kehidupan pertapaannya di daerah Bayalangu (sekarang masuk wilayah Tulungagung) hingga wafat pada 1350.

Baca juga artikel terkait GAYATRI SANG SRI RAJAPATNI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight