Hikayat Ramadan

Gaya Nyentrik Para Ulama dalam Belajar dan Mengajar

Oleh: Fariz Alniezar - 30 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Banyak ulama tak lelah belajar sampai akhir hayat hingga membatasi tidur. Sementara dalam mengajar, mereka memilih pelbagai metode di luar kebiasaan.
tirto.id - Kondisi Abu Yusuf sedang kritis. Lelaki bernama lengkap Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshāry Al-Bahgdadi itu mengidap penyakit yang membuat harapan hidupnya semakin menipis. Napasnya tersengal-sengal. Pandangannya sudah semakin sayu, namun ia masih mengenali orang-orang yang berdatangan menjenguknya. Dan di antara yang rombongan orang yang silih berganti menjenguk itu terdapat Ibrahim bin Jarrah, muridnya.

“Ibrahim, bisakah kita berdiskusi sebentar?”

“Dalam keadaanmu yang seperti ini? Yang benar saja, Maulana,” jawab Ibrahim.

“Tidak masalah. Aku baik-baik saja,” ujar Abu Yusuf menimpali.

Sesaat kemudian ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada Ibrahim.

“Apa komentarmu dan mana yang lebih afdal, melempar jumrah dengan berjalan kaki atau sambil berkendara?”

“Menurutku berkendara jauh lebih baik dan utama,” jawab Ibrahim.

“Salah."

"Berjalan kaki,” Ibrahim mencoba beralih jawaban.

“Salah juga.”

“Lalu?”

“Jadi begini. Pada tugu jumrah yang satu dan dua yang kita dianjurkan untuk berdoa, lebih utama melempar dengan berjalan kaki. Sedangkan untuk jumrah ketiga yang kita tidak dianjurkan untuk berdoa, yang lebih afdal adalah berkendara,” terang Abu Yusuf.

Abdul Fattah Ghuddah dalam Qimatuz Zaman Indal Ulama menerangkan, setelah diskusi itu Ibrahim mencoba merenungkan jawaban gurunya dan pamit untuk menunggu di luar kamar. Gurunya memberi izin, dan sebelum kaki Ibrahim sampai di luar pintu, Abu Yusuf menghembuskan napas terakhir.

Cerita di atas melukiskan betapa semangat keilmuan Abu Yusuf tidak bisa dikalahkan oleh apapun, termasuk sakit keras yang tengah menderanya.

Banyak kisah tentang kegigihan para ulama dalam mengarungi samudera keilmuan yang sangat tinggi dan tidak main-main. Salah satunya ditulis oleh Khatib Al-Bahgdadi dalam Taqyidul Ilmi.

Al-Bahgdadi menuliskan kekagumannya terhadap tiga lelaki tekun. Pertama, Umar bin Bahr Al-Qinānih atau yang populer dengan julukan Al-Jāhiz, pengarang kitab ensiklopedia fauna bertajuk Al-Hayawān. Kedua, Fatah bin Haqqan, seorang ahli susatra dan penyair beken yang bereputasi tinggi. Ketiga, Ismail bin Ishaq Al-Qādi, seorang imam mazhab Maliki yang berasal dari Baghdad, Irak.

Ketiganya dalam catatan Khatib Al-Bahgdadi memiliki ketekunan yang luar biasa. Al-Jāhiz adalah lelaki yang jika di tangannya terdapat buku, maka ia akan melahapnya mulai paragraf pertama sampai paragraf penutup tanpa jeda. Ia membaca dengan sangat cepat dan menyarikannya dalam sebuah ringkasan saat itu juga.

Bahkan, sebagian ulama dalam Gulf News, Muslim Heritage, Aramcoworls berani mengklaim bahwa yang ditulis oleh Al-Jahiz dalam buku Al-Hayawān—yang salah satu topik bahasannya memuat bagaimana hewan berjuang dan bertahan hidup—merupakan induk teori evolusi yang jauh lebih dulu dicetuskan sebelum Charles Darwin menulis The Origin of Species.

Semangat keilmunan dilakukan juga oleh Fatah bin Haqqan dan Ismail Ishaq Al-Qādi. Di seluruh saku baju dan celana kedua orang ini, selalu terdapat buku-buku kecil dan kertas-kertas rangkuman yang selalu dibaca di manapun mereka berada. Bahkan, mereka tetap membaca buku-buku dan rangkuman itu saat membuang hajat.

Semangat belajar yang tinggi juga membuat Abul Ma’ali Abdul Malik Bin Abdullah Al-Juwainy atau yang dikenal dengan julukan Imamul Haramain memilih gaya hidup yang ekstrem.

Menurut Tajuddin As Subki dalam Tabaqātus Syafi’iyyah Kubrā, guru Abū Hāmid Al-Ghazāli ini sekali waktu pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah sengaja tidur. Ia menghabiskan waktunya untuk mutalaah sampai tertidur. Ia hanya makan ketika tubuhnya benar-benar butuh asupan makanan.


Infografik Hikayat Gaya Nyentrik Ulama Klasik
Infografik Hikayat Gaya Nyentrik Ulama Klasik. tirto.id/Quita

Kitab Dasar dan Sesuai Kebutuhan

Lain cerita dengan Syaikh Umar Syattō Dimyāthi. Kakak kandung pengarang kitab Ianatut Thālibin Abu Bakar Syattō Dimyāthi ini selalu menghindari, bahkan menolak untuk mengajarkan kitab-kitab babon yang terdiri dari ratusan atau ribuan halaman.

Ia tekun mengajar muridnya dengan kitab-kitab dasar yang tipis. Namun, yang menjadi perbedaan metode mengajar Syaikh Syattō dengan ulama lain adalah kewajiban menghafalkan seluruh isi kitab yang diajarkan olehnya. Metode inilah yang kemudian diterapkan oleh banyak pesantren kuno di Nusantara, termasuk di Sarang, tempat asal K.H. Zubair Dahlan, ayah kandung K.H. Maimun Zubair alais Mbah Moen.

Pola ajar Kiai Masduki Jombang tidak kalah menarik. Ia menerapkan kurikulum berbasis kebutuhan. Ia menolak untuk menentukan kitab yang dibaca. Ia membebaskan santrinya untuk memilih kitab apa yang mereka sukai atau butuhkan. Maka, satu santri berbeda dengan santri yang lain.

“Satu santri dengan santri yang lain kebutuhannya tidak sama. Maka, yang paling bijak mendidik mereka tumbuh menjadi pribadi yang sesuai dengan karakternya. Makanya mereka bebas memilih kitab dan menentukan kurikulum untuk dirinya,” demikian kira kira penjelasan rasional metode yang ditempuh oleh Kiai Masduki.

Gus Dur dalam Melawan Melalui Lelucon sempat mengabadikan kisah mengajar Kiai Masduki.

“Tiap santri mengaji menunggu giliran masing-masing. Kalau tiba gilirannya, seorang santri akan meletakkan teks yang ingin dipelajarinya di atas meja yang terletak di muka sang Kiai. Kiai Masduki akan membaca halaman yang dibuka oleh si santri, walaupun teks itu diletakkan secara terbalik, Sang Kiai akan membaca teks itu dari atas, santrinya memberi catatan di bawah baris yang dibaca itu,” tulisnya.

==========

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan". Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM.

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Irfan Teguh