Gaya Kampanye Narendra Modi: Menghancurkan Satelit dengan Roket

Oleh: Ahmad Zaenudin - 5 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Cara Modi berkampanye dengan meluncurkan roket penghancur satelit diprotes sejumlah negara.
tirto.id - “Beberapa waktu lalu ilmuwan kita sukses menembak satelit yang berjarak 300 kilometer di luar angkasa sana, di orbit bumi rendah,” ucap Narendra Modi, Perdana Menteri India, dalam siaran langsung kesuksesan “Mission Shakti” pada masyarakat India.

“India mencetak prestasi luar biasa hari ini,” tegasnya kemudian. “India sukses menjadi bagian dari kekuatan luar biasa di kancah antariksa, menyusul Amerika Serikat, Rusia, dan Cina,” tutupnya.

Mission Shakti alias “misi unjuk kekuatan” merupakan misi penghancuran satelit luar angkasa yang digawangi Indian Defence Research and Development Organization. Misi ini pertama kali diklaim bisa dilakukan pada 2012 dan sukses diujicobakan di awal April 2019 ini.


India tidak merinci roket yang digunakan untuk menembak jatuh satelit dan satelit mana yang ditembak jatuh. Namun, sebagaimana dilansir Techcrunch, roket yang digunakan kemungkinan adalah The Agni dan satelit yang ditembak jatuh kemungkinan Microsat R, satelit usang yang berada di orbit bumi rendah (low earth orbit) India. India menghancurkan satelitnya itu menggunakan teknik "Kinetic Kill".

Menurut Bin Li, pengajar pada University of Newcastle, dalam tulisannya di The Conversation, India meluncurkan roket tanpa hulu ledak. Sasaran hancur hanya karena tabrakan dengan roket. Teknik sederhana ini lazim disebut “Hit-to-Kill”.

Sampai hari ini telah ada 1.957 satelit buatan yang mengorbit Bumi sejak Uni Soviet meluncurkan satelit buatan pertama dunia bernama Sputnik pada 1957. Satelit-satelit itu memberikan banyak manfaat ekonomi, keilmuan, dan tak kalah penting militer bagi umat manusia.

Khusus untuk manfaat terakhir, banyak negara curiga satelit bisa digunakan untuk memata-matai. Kemampuan menghancurkan satelit seperti yang dimiliki India dinilai bisa memberikan independensi yang sesungguhnya kepada suatu negara.

Brahma Chellaney, ahli keamanan internasional pada Centre of Policy Research, New Delhi, menyatakan kepada Nikkei Asian Review bahwa luar angkasa telah menjadi "medan tempur". Menurut Chellaney, memiliki kemampuan counter-space (termasuk senjata penghancur satelit) adalah hal krusial.

Modi nampaknya menjadikan kesuksesan aksi menghancurkan satelit ini untuk menggertak Pakistan selepas ketegangan kedua negara kembali memuncak pasca-insiden di Kashmir. Tak kalah penting, kesuksesan Mission Shakti pun dimanfaatkan sebagai bahan kampanye Modi menjelang pemilihan umum yang akan digelar dalam waktu dekat.


Menanggapi Mission Shakti, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan bahwa luar angkasa adalah "warisan bersama umat manusia" dan "setiap bangsa memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikannya area militer.” India, demikian yang dinyatakan Pakistan, telah menyeret situasi panas kedua negara ke luar angkasa sehingga area yang seharusnya aman kini jadi medan tempur.

Di kawasan Asia, kemampuan menghancurkan satelit baru dimiliki Cina dengan kapasitas yang lebih besar dari India. Cina bisa menembak satelit berjarak 800 kilometer di atas Bumi, sebagaimana yang telah dilakukan Beijing pada 2007 silam.

Pakistan belum memiliki kemampuan sehebat India dan Cina. Namun, karena Pakistan memiliki kemampuan nuklir, gertakan India melalui Mission Shakti bisa berakibat sangat fatal.

Pemimpin Partai Kongres India Rahul Gandhi menyatakan Modi mengklaim kesuksesan Indian Defence Research and Development Organization agar bisa memamerkan kesuksesan demi memenangkan Pemilu. Gandhi memang mengucapkan selamat kepada para ilmuwan di balik proyek Mission Shakti. Namun di saat bersamaan menyebut hari peluncuran roket itu sebagai “Hari Teater Dunia.”

“Di masa lalu, yang biasanya membuat pengumuman kesuksesan adalah ilmuwan. Ini pertama kalinya seorang perdana menteri membuat pengumuman [yang seharusnya dilakukan ilmuwan],” tegas Gandi, sebagaimana dilansir Asia Times.


Modi memang butuh banyak amunisi untuk mempertahankan kursi perdana menteri. Sebagaimana dilansir Financial Times, Partai Kongres sukses memenangkan pemilu di tiga negara bagian yang sebelumnya menjadi lumbung suara bagi partai pengusung Modi.

Untuk kembali memperoleh simpati, Modi mengambil beberapa langkah. Misalnya memberikan subsidi penghasilan bagi kaum miskin sebesar 6.000 rupee atau setara sekitar Rp1 juta per keluarga. Bagi kaum menengah, Modi memberikan insentif berupa pengurangan pajak.

Infografik Mission shakti
undefined


Klaim Modi atas keberhasilan ilmuwan India mungkin menguntungkan untuk mengambil hari rakyat demi kemenangannya. Namun, dunia internasional mengecam aksi India.

Administrator Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) Jim Bridenstine mengatakan tindakan India menembak satelit telah “membikin kekacauan”. Mission Shakti setidaknya telah menciptakan 400 potongan material satelit (space debris). Dari jumlah itu, terdapat 24 potongan yang lumayan besar yang mengancam Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Daniel Porras, ahli luar angkasa dari United Nations Institute for Disarmament Research, menyampaikan kepada Wired bahwa selain mengancam ISS, pecahan satelit yang ditembak India juga mengancam kelangsungan satelit-satelit lain yang berada di orbit bumi rendah.

“Unjuk gigi yang dilakukan India pada ketinggian 300 kilometer menciptakan potongan satelit yang akan bertahan di luar angkasa selama berbulan-bulan (dan mengancam satelit lain),” tegasnya.

Ahli luar angkasa Daryl Kimball menyatakan “menghancurkan satelit menciptakan puing-puing yang berterbangan. Dan bidang terbang (trajektori) puing itu harus dihindari satelit lain selama bertahun-tahun. Jika tidak, tabrakan tak terhindarkan.”

Pemerintah India menyangkal semua kecaman itu. Mereka mengklaim satelit yang ditembak berada di atmosfer rendah Bumi dan puing-puing satelit itu akan jatuh ke Bumi dalam beberapa minggu tanpa mengancam benda angkasa lain.

Kazuto Suzuki, ahli luar angkasa pada Hokkaido University, menyebut apa yang dilakukan India telah menjadikan luar angkasa "wilayah yang tidak stabil".

Baca juga artikel terkait INDIA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf