Indonesia Open 2019

Ganda Campuran Indonesia Tampil Buruk, Mental Jadi Faktor Kunci

Oleh: Renalto Setiawan - 19 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia mengirimkan enam wakil ganda campuran di Indonesia Open 2019. Namun, mengapa hanya satu yang berhasil menembus babak perempat-final?
tirto.id - Di nomor ganda campuran, Indonesia sebetulnya mempunyai enam wakil dalam gelaran Indonesia Open 2019 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, dari 16-22 Juli 2019. Dua di antaranya, Praveen Jordan/Melati Octaviani dan Hafiz/Gloria Widjaja bahkan masuk dalam daftar unggulan.

Namun, seiring berjalannya turnamen, wakil-wakil Indonesia ternyata terus bertumbangan. Saat Indonesia Open 2019 memasuki babak perempat-final, Jumat (19/7/2019), Indonesia hanya tinggal mempunyai satu wakil saja: Tantowi Ahmad/Winny Oktavina.

Di antara kegagalan-kegagalan itu, kegagalan yang dialami Praveen/Melati tentu paling mengejutkan. Unggulan ketujuh tersebut sebetulnya mempunyai tren yang amat positif di sepanjang tahun 2019.

Meski belum sekali pun memberikan gelar, Praveen/Melati setidaknya tiga kali menjadi runner-up, yakni di India Open, New Zaeland Open, dan di Australia Open. Bahkan, di turnamen selevel All England, Praveen/Melati pun sukses menembus babak semifinal.

Sayangnya, tren bagus itu ternyata tak berarti apa-apa justru saat Praveen/Melati bermain di rumah sendiri. Menghadapi pasangan Jerman, Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich, mereka langsung kalah di babak pertama. Tak main-main, Praveen/Melati kalah dua set langsung: 20-22, 14-22.

Sementara itu, meski bernasib agak lebih baik, kegagalan yang dialami Hafiz/Gloria juga patut mendapatkan sorotan. Setelah menang susah payah atas Rinov/Mentari pada babak pertama, Hafiz/Gloria kalah dua set langsung dari pasangan Malaysia, Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie, di babak kedua. Padahal, seperti pasangan Jerman yang berhasil mengalahkan Praveen/Melati, pasangan Malaysia tersebut juga berstatus non-unggulan.

Dari sana peluang Indonesia untuk mempertahankan gelar Indonesia Open di nomor ganda campuran yang pada 2018 lalu berhasil diraih Owi/Butet pun menjadi semakin tipis. Selain itu, ada satu pertanyaan penting yang juga harus dijawab: Apakah masa depan nomor ganda campuran Indonesia baik-baik saja?


Faktor Mental


Selain nomor ganda putra, ganda campuran adalah nomor andalan Indonesia untuk terus berprestasi dalam setiap kejuaraan bulutangkis dunia. Melalui Owi/Butet, Indonesia bahkan pernah mengatur seisi dunia. Pasangan tersebut pernah tiga kali menang All-England, menyabet gelar Kejuaraan Bulutangkis Dunia, hingga meraih medali emas Olimpiade.

Namun, Owi/Butet jelas tak bisa terus diandalkan. Agar nomor ganda campuran Indonesia tetap terang benderang, mereka harus mempunyai generasi penerus yang sepadan. Dan setelah Bunte pensiun serta Owi mulai berpasangan dengan Winny, Praveen/Melati lantas menjadi tulang punggung nomor ganda campuran Indonesia untuk meraih prestasi.

Sayangnya, sampai sejauh ini pasangan tersebut ternyata belum mampu berprestasi secara maksimal. Alasannya, menurut Nova Widiyanto, pelatih ganda campuran Indonesia, ada pada diri Praveen.

“Secara teknis, dia (Praveen) istimewa, tetapi dia tidak konsisten,” kata Nova pada Januari 2019 lalu. “Tetapi, semua balik lagi ke latihan. Kalau mau bekerja keras pasti bisa karena dia memiliki pengalaman.”

Soal pengalaman dan konsistensi, komentar Nova tersebut jelas ada benarnya. Lama berpasangan dengan Debby Susanto, Praveen sebetulnya kenyang akan prestasi. Ia pernah meraih gelar Prancis Terbuka, medali emas Sea Games, bahkan pernah menyabet gelar All England pada tahun 2016 lalu.

Namun karena tingkat konsistensinya itu, ia akhirnya tidak mampu menularkan pengalamannya kepada Melati, pasangan barunya.

Yang menarik, soal penampilan buruk ganda campuran Indonesia, terutama setelah Praveen/Melati angkat koper dari Indonesia Open 2019, Butet ternyata mempunyai pendapat lain yang tak kalah penting.

“Secara mental, ya, mereka (Praveen/Melati) belum siap,” kata Butet, Kamis (18/7/2019).



Menurut mantan pasangan Owi tersebut, faktor mental sebetulnya bisa menjadi kunci kesuksesan bagi generasi penerusnya. Semakin bagus mental seorang pemain, pukulan raket, hitung-hitungannya, dan tingkat kepercayaan dirinya juga akan ikut meningkat di dalam pertandingan.

Sebaliknya, jika mental pemain itu buruk, sebagus apa pun kualitas teknis yang ia miliki, hal itu tidak akan memberikan pengaruh besar.

Butet lantas menjelaskan bahwa selama dirinya masih berpasangan dengan Owi, ia terbiasa bermain di bawah tekanan besar. Bahkan karena tekanan tersebut, ia mengaku selalu “susah tidur” selama melakukan persiapan menghadapi turnamen besar. Akhirnya, ia pun tak selalu menang, tapi ia tetap tahu betul bagaimana caranya menjadi seorang pemenang.

Menurut Butet, “Enggak apa-apa kamu kalah, tapi kamu harus bisa mendapatkan pelajaran dari kekalahan itu: Kamu kalah kenapa? Apa yang salah? Persiapan bagaimana? Komunikasi (dengan pasangan) bagaimana? Kamu harus bisa belajar. Jangan sampai enggak dapat apa-apa setelah pertandingan.”

Dari sana, mental bertanding Butet pun lantas terbentuk. Tak peduli sedang berada di bawah tekanan maupun tidak, ia akhirnya hampir selalu mampu mengeluarkan penampilan terbaiknya.

Sayangnya, mental tersebut ternyata belum dimiliki oleh para generasi penerusnya. Soal kekalahan Praveen/Melati, misalnya, Butet menyoroti, “Kemarin itu, mereka sangat tertekan banget. Kalau pas unggul, sih, enggak begitu kelihatan. Tapi pas kesusul, kelihatan banget kalau ketekan. Permainan mereka bahkan sama sekali tak berkembang di set kedua.”


Tak Boleh Dibiarkan

Mental bertanding seperti itu jelas tak boleh dipertahankan. Terlebih, di level junior, nomor ganda campuran Indonesia sebetulnya mempunyai prospek besar di masa depan: ada Leon Rolly Carnando/Indah Cahya Sarri, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva, hingga Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari yang sudah bersiap untuk menjadi ganda campuran terbaik Indonesia pada masa depan.

Di level junior, prestasi tiga pasangan itu pun tidak sembarangan. Leom/Indah berhasil meraih gelar Kejuaraan Dunia Junior 2018, sedangkan Rehan/Siti berhasil menjadi runner-up. Sementara itu, Rinov/Pitha adalah peraih emas Kejuaraan Dunia Junior 2017.

Yang menarik, di antara tiga pasangan tersebut, Rinov/Pitha bahkan sudah mulai menjajal kompetisi di leve senior. Sejak awal 2019, mereka setidaknya sudah mengikuti turnamen-turnamen besar dari Indonesia Master, All England, Swiss Open, hingga Indonesia Terbuka 2019.

Perkembangan mereka pun luar biasa pesat di mana mereka berhasil menjadi runner-up Swiss Open. Meski gagal pada babak pertama Indonesia Open 2019, mereka berhasil merepotkan Hafiz/Gloria, salah satu pasangan andalan Indonesia. Saat itu, Rinov/Pitha kalah tiga set, 24-22, 20-22, 15-21.

Lantas, bagaimana seandainya perkembangan dan prospek besar pasangan-pasangan muda ini justru mendapatkan contoh “buruk” dari para seniornya? Tentu saja akan merugikan.

Maka, untuk masa depan yang lebih baik, Butet mengatakan, "Harus ada evaluasi. Pemain harus mau belajar, belajar, dan terus belajar."

Baca juga artikel terkait INDONESIA OPEN 2019 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight