Sejarah Stasiun

Gambir: Bekas Halte, Pemberhentian Sudirman, Amir, dan Serdadu PETA

Gerbang Selatan Stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta Pusat. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 15 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Letak Stasiun Gambir tak jauh dari pusat komando kekuasaan sehingga menjadi saksi bisu sejumlah peristiwa bersejarah.
tirto.id - Sebuah halte kereta api terletak di sekitar Koningsplein, Batavia, tak jauh dari istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Istana itu disebut Koningsplein Paleis atau Istana Gambir. Daerah ini sekarang dikenal sebagai bagian dari kompleks Monumen Nasional (Monas).

Halte Koningsplein sudah ada sejak 1871. Menurut Uka Tjandrasasmita dalam Sejarah Perkembangan Kota Jakarta (2000:50), letak halte ini “beberapa ratus meter di selatan dari tempat di mana kini terletak stasiun Gambir. Bangunannya berbentuk kecil dan sangat sederhana.”

Sementara menurut Adolf Heuken dalam Medan Merdeka, Jantung Ibukota RI (2008:108), Halte Koningsplein terhubung dengan Halte Klein Boom (Sunda Kelapa) di daerah Jakarta Kota. Waktu itu, pengelola jalur kereta api ini adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS).

Karena kawasan Gambir atau dulu bernama Weltevreden semakin berkembang, maka sebuah stasiun pun didirikan pada tahun 1884 di tempat yang kini disebut Stasiun Gambir. Stasiun ini resmi dibuka pada 4 Oktober 1884. Sejak dulu, stasiun ini merupakan stasiun pemberangkatan kereta api dengan tujuan Bandung dan Surabaya.

“Stasiun Weltevreden adalah stasiun yang pertama di Koningsplein, kini Medan Merdeka,” tulis Uka Tjandrasasmita.

Di sekitar stasiun tersebut, terdapat Gereja Immanuel yang cukup besar dan kantor maskapai pelayaran Belanda bernama Koninklijke Paketvaart Maatschappij, yang belakangan menjadi kantor Direktorat Perhubungan Laut.

Selain itu, terdapat juga bekas rumah tinggal komisaris agung Belanda yang kini menjadi markas Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat). Maskapai minyak Belanda yang bernama Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) juga berada di dekat stasiun Gambir, yang kini gedungnya menjadi milik Pertamina.

Tahun 1917, pengelolaan stasiun beserta jalurnya berpindah dari NIS ke Staatsspoorwegen (SS), yang merupakan perusahaan kereta api terbesar di Hindia Belanda. Lalu pada tahun 1927-1928, gedung stasiun diperbesar.

“Gedungnya mempunyai atap yang bertumpu pada bantalan besi tuang menurut rancangan SS [...] NIS hingga saat itu tidak menempatkan atap-atap jenis tersebut, sementara SS telah menempatkannya di beberapa tempat,” tulis Uka Tjandrasasmita.

Menurut Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage-Volume 3 (2005:417), atap penutup diperpanjang pada tahun 1928 hingga ke sisi utara sepanjang 55 meter, dan gaya bangunannya adalah Art Deco. Pada tahun 1937, stasiun ini diresmikan sebagai Stasiun Batavia Koningsplein.


Saksi Bisu Masa Revolusi

Karena letaknya sangat dekat dengan pusat komando kekuasaan, maka Stasiun Gambir menjadi menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia. Di stasiun inilah kereta api yang membawa para serdadu Pembela Tanah Air (PETA) tiba pada 8 Maret 1945.

Para serdadu PETA Blitar yang melakukan pemberontakan itu menurut catatan R.P. Suyono dalam Seks dan Kekerasan pada Masa Kolonial (2005:338), dengan tangan terborgol dibawa ke kawasan yang kini disebut Medan Merdeka Barat.

Amir Sjarifuddin, tokoh pergerakan yang baru dibebaskan oleh Jepang, juga tiba di Jakarta di stasiun ini. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil (Petite Histoire) Volume 3 (2004:105), Amir tiba di Gambir pada 1 Oktober 1945 dengan menaiki kereta dari Surabaya. Saat masih ditawan Jepang, ia hampir dihukum mati.

“Saya turut menjemputnya di stasiun Gambir. Waktu ia turun dari kereta api kelihatan masih kurus badannya,” tutur Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-tonggak di Perjalananku (1974:180).



Stasiun Gambir juga pernah disinggahi oleh Jenderal Sudirman saat berunding dengan pasukan Sekutu pada November 1948. Seperti dicatat Moehkardi dalam Akademi Militer Yogyakarta dalam Perjuangan Fisik 1945-1949 (2019:78-79) Jenderal Sudirman tiba di Stasiun Gambir dengan dikawal oleh 15 orang taruna Militaire Academie Yogyakarta dan disambut oleh rakyat Jakarta.

Ia kemudian menginap di Hotel Shutteraaf, seberang stasiun Gambir. Perundingannya dilakukan di bekas Gedung KPM yang kini jadi kantor Direktorat Perhubungan Laut.

“Sudirman pergi berunding dengan pimpinan tentara Sekutu yang bermarkas di gedung bekas KPM di Gambir Timur dan diterima dengan segala penghormatan militer,” tulis Rosihan Anwar dalam Singa dan Banteng: Sejarah Hubungan Belanda-Indonesia 1945-1950 (1997:212).


Transportasi Pendukung

Dulu, jika tiba di stasiun ini dan hendak mencapai rumah atau tempat tujuan lainnya, para penumpang bisa menggunakan kereta kuda yang disebut delman. Hal ini di antaranya dialami oleh pengarang kesohor Pramoedya Ananta Toer.

“Tahun 1942, waktu pertama kalinya kuinjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh delman,” kata Pram seperti terdapat dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa (2013:407).

Pram menambahkan, setelah 17 tahun berlalu terhitung sejak pertama kali ia tiba di Jakarta, delman di Stasiun Gambir digantikan oleh becak.

Warsa 1991-1992, Stasiun Gambir berubah dengan hadirnya jalan layang. Bangunan stasiun ini dibuat bertingkat seperti yang dapat kita lihat sampai sekarang.

Hingga kini, Stasiun Gambir tak hanya menjadi area operasi PT Kerata Api Indonesia, tapi juga DAMRI yang menyediakan angkutan ke Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng dan juga ke Lampung.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight