Gallipoli: Upaya Zach Condon Menjaga Sisi Elegan Beirut

Oleh: Faisal Irfani - 1 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Album terbaru Beirut bertutur tentang tiga hal: suka cita, ombak di lautan, dan parade budaya.
tirto.id - Zach Condon percaya bahwa jantung sebuah musik terletak pada timbre, harmoni, dan melodi. Menurut pemimpin band Beirut itu, tiga hal tersebut adalah elemen penting yang membikin musik lebih hidup, lebih bernyawa. Dalam wawancaranya dengan NPR, Zach bilang ia baru masuk ke dimensi penulisan lirik setelah tiga unsur itu selesai.

Itulah mengapa musik-musik Beirut, kelompok folk asal Santa Fe, New Mexico, cenderung mengutamakan aspek bunyi dalam setiap lagu mereka. Sejak debut album mereka, Gulag Orkestar (2006), rilis ke permukaan, musik Beirut begitu terdengar semarak━seperti parade budaya. Lagu-lagu Beirut dipenuhi dengan nada-nada dari akordeon, organ, saksofon, klarinet, mandolin, ukulele, biola, cello, sampai glockenspiel.

Karakter tersebut lantas terus dipertahankan Beirut di album-album setelahnya, dari The Flying Club Cup (2007) hingga No No No (2015). Mendengarkan Beirut tak ubahnya seperti menyimak musisi folk AS era 1920-an berkolaborasi dengan komponis dari Turki, Iran, dan sekitarnya━yang kemudian melahirkan komposisi luwes sekaligus eksotis.


Butuh waktu kurang lebih empat tahun bagi Beirut untuk kembali melepas album baru sejak No No No berhasil mencuri tempat di tangga Billboard 200. Album baru Beirut diberi tajuk Gallipoli, dicomot dari nama wilayah di pantai lepas Italia. Nama Gallipoli dipilih sebagai judul album karena di tempat inilah para personel Beirut rehat sejenak dari kegiatan rekaman untuk sekadar mencari inspirasi baru maupun menikmati tiupan angin selatan Eropa yang hangat.

Hasilnya ternyata tak mengecewakan; Gallipoli masih menghasilkan musik yang berkarakter unik, kendati (mungkin) tak sedahsyat Gulag Orkestar maupun tak semenawan Marc of the Zapotec and Real People Holland (2007).

Yang Besar dari Kegagalan

Satu waktu, pada Mei 2006, Beirut bersiap melangsungkan pementasan perdana di New York. Masing-masing personel begitu antusias━dan siapa yang tidak merasa demikian? Tapi, yang terjadi selama pertunjukan adalah mimpi buruk: mereka bermain seperti halnya sekumpulan amatir. Di atas panggung, musik yang dimainkan terdengar tak matang━tepatnya berantakan━dan mereka terlihat kewalahan.

Bagi sebagian musisi, pengalaman itu tentu membikin nyali jadi menciut dan lantas memilih untuk ganti profesi. Namun, hal tersebut tak berlaku pada Beirut dan Condon. Usai kejadian memalukan di New York, mereka langsung tancap gas memperbaiki kekurangan yang ada. Tiga bulan berselang, Beirut terlahir kembali dengan identitas yang baru.

Nama Beirut diambil karena menurut Condon, kota yang berstatus sebagai ibukota Lebanon itu merepresentasikan bagaimana yang modern dan klasik, yang kuno dan terkini, bisa bertemu dalam satu titik dan menghasilkan kesatuan yang elegan. Harapan inilah yang nantinya juga dialamatkan kepada musik Beirut. Condon ingin musik-musik Beirut seperti karakter Beirut itu sendiri: mempesona dengan tabrakan warna di sana-sini.

Harapan Condon bisa dikata terwujud. Lagu-lagu di Gulag Orkestar mencerminkan apa itu definisi “mempesona.” Beirut berhasil mengawinkan masa lalu dan sekarang, menjadikan musik mereka sebagai sesuatu yang magis sekaligus ikonis.

Infografik Beirut
undefined



Pesona Gulag Orkestar━dan Beirut secara keseluruhan━kian dimantapkan dengan kehadiran Gallipoli. Album ini dibuka dengan nomor bertajuk “When I Die” yang begitu terasa sekali nuansa tropisnya. Lalu disambung “Gallipoli” dan “Varieties of Exile” yang mendayu. Sedangkan di “On Mainau Island,” “Gauze fur Zah,” serta “I Giardini,” Beirut seperti sedang berduet bersama Ennio Morricone, penata musik legendaris kelahiran Roma, dan menghasilkan langgam lagu yang membuai fantasi.

Nomor “Light in the Atoll” dan “We Never Lived Here” saya pikir layak didaulat sebagai juara. Di dua track ini, kemahiran Condon meramu nada dan melodi yang ganjil untuk menjadi sesuatu yang terdengar memikat terbukti sahih.

Secara garis besar, Gallipoli masih mempertahankan karakter asli Beirut. Musik yang berbicara tentang perayaan, suka cita, dan keriaan di pantai selatan Eropa. Di Gallipoli pula musikalitas Beirut tetap terdengar semarak bagai parade dengan segala instrumennya.

Modal itulah yang pada akhirnya menjadikan Beirut sebagai kolektif folk yang berbeda dari lainnya. Meski pijakan utamanya adalah folk, Beirut tetap membuka ruang eksplorasi akan warna musik yang lain. Mereka tak ragu menggabungkan folk dengan world music yang kebetulan sejalur atau meleburkannya dengan atmosfer rock ala Neutral Milk Hotel di album In the Aeroplane Over the Sea (1998).

Suatu hari Condon pernah mengungkapkan bahwa ia punya tiga cara untuk melihat musik di era modern. Pertama, musik untuk para pemikir yang segala hal di dalamnya harus disusun secara analitis. Kedua, musik yang lebih mementingkan hasil daripada proses. Ketiga, musik yang sengaja dibikin untuk mengetahui makna dari keindahan. Dan seperti diketahui, musik Beirut termasuk golongan yang terakhir.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono