Galaxy Fold: Layar Lipat di Tengah Mandeknya Inovasi Smartphone

smartphone FlexPai dengan layar fleksibel yang ditampilkan di San Francisco. Royole Corp baru-baru ini meluncurkan apa yang disebut sebagai smartphone pertama di dunia dengan layar fleksibel sehingga perangkat dapat dilipat seperti dompet. AP / Michael Liedtke
Oleh: Ahmad Zaenudin - 27 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Samsung merilis ponsel layar lipat Galaxy Fold. Teknologi lama, wajah baru.
Ada banyak fitur yang lahir sejak telepon pintar alias smartphone lahir pada 2007, mulai dari push email, bermacam-macam sensor, hingga kamera dengan tangkapan gambar setaraf profesional. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir inovasi ponsel mandek.

“Kita kehabisan ide menarik untuk mengembangkan smartphone,” tegas Chris Harrison, asisten profesor pada Human-Computer Interaction Institute, Carnegie Mellon University. “Maka, para produsen smartphone kini berkompetisi untuk aspek ‘ukuran layar’,” lanjutnya.

Selepas melahirkan konsep infinity display atau full-view display yang meniadakan beragam tombol tampilan depan dan memunculkan “notch,” kini produsen smartphone memperkenalkan konsep foldable phone alias ponsel lipat. Ponsel lipat kali ini tentu berbeda dari Motorola Razr pada 2005 lalu. "Ketika dibuka, ini adalah tablet yang memberikan pengalaman layar lebar. Tapi ketika ditutup jadi ponsel yang pas dimasukkan ke dalam saku," ujar Justin Denison, SVP of Mobile Product Marketing Samsung, menjelaskan konsep baru ponsel lipat.


Pada 21 Februari lalu, Samsung resmi memperkenalkan Samsung Galaxy Fold, ponsel layar lipat pertamanya. ponsel yang mengusung System-on-Chip Snapdragon 855 tersebut memiliki dua konfigurasi layar. Pertama, dalam keadaan tertutup atau tatkala menjadi ponsel, Galaxy Fold menghadirkan layar berukuran 4,6 inci. Kedua, dalam keadaan terbuka atau tatkala menjadi tablet, perangkat ini menghadirkan layar berukuran 7,3 inci. Kedua konfigurasi layar didukung oleh teknologi AMOLED (Active-Matrix Organic Light-Emitting Diode), yang telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi "infinity-flex display”.

Infinity-flex display dibuat berlapis, antara layar AMOLED, sensor layar sentuh, hingga material baru bernama Indium Tin Oxide (ITO). Dalam perkembangannya, Infinity-flex display disebut sebagai Y-OCTA.

Dalam perkenalan Galaxy Fold di acara “Galaxy Unpacked,” Denison menyatakan kedua layar bekerja simultan. Tatkala pengguna berpindah dari konfigurasi ponsel ke tablet, aplikasi yang digunakan seketika bertransformasi. Kemampuan tersebut hadir lantaran Samsung membenamkan teknologi bernama App Continuity dalam user interface “One UI” yang digunakan perangkat ini.





Perangkat dengan bentuk khusus yang bisa dilipat, digulung, dan sejenisnya memang harus dilengkapi sistem user interface berbeda. Dalam “Organic User Interfaces: Designing Computers in Any Way, Shape, or Form” (2008), David Holman menegaskan bahwa perangkat “lentur” harus menggunakan organic user interfaces yang berbeda dari perangkat yang hanya memiliki satu bentuk. Organic user interfaces sendiri dibuat agar sistem mampu beradaptasi dengan perubahan bentuk perangkat. Dalam Galaxy Fold, fungsi ini diserahkan kepada App Continuity—atau "blobjects" dalam bahasa Holman.

Jika ponsel dengan konsep baru ini berkembang, sistem operasi Android yang digunakan Galaxy Fold harus dimodifikasi guna mendukung kelenturan perangkat. Hal ini sebetulnya tidak jarang dilakukan Android. Sebab, selain di smartphone, Android juga hadir di jam tangan pintar, tablet, televisi, hingga dashboard mobil.

Teknologi yang Terus Berkembang

Samsung bukan satu-satunya produsen yang memperkenalkan ponsel lipat. Huawei punya Mate X, sementara Xiaomi dan Royale merilis ponsel serupa masing-masing bernama Mix Flex dan FlexPai.

Meski ponsel lipat baru muncul belakangan, pengembangannya telah berlangsung lama. Menurut laporan BBC, benih-benih ponsel lipat bahkan sudah muncul pada dekade 1960-an ketika solar cell fleksibel sukses diciptakan. Namun, loncatan besar teknologi ini baru terlihat pada dekade 2000-an, misalnya kala Philips memperagakan layar yang bisa digulung pada 2005. Setahun sebelumnya, peneliti dari Cambridge University memperkenalkan layar berbahan baku graphene yang lebih kuat dibandingkan berlian sekaligus transparan, ringan, dan fleksibel.

Pada 2008, startup bernama Plastic Logic memperkenalkan layar berbahan baku plastik tipis yang bisa diperlakukan selayaknya kertas.

Dalam menciptakan Galaxy Folda, Samsung sendiri memilih mengembangkan teknologi OLED.


Untuk mengembangkan OLED yang bisa melengkung, Samsung membeli Liquivista, perusahaan pencipta teknologi layar bernama electrowetting pada awal 2011. Electrowetting merupakan teknologi yang mampu memanipulasi liquid atau cairan (L dalam OLED adalah liquid) di dalam layar.

Pada akhir 2011, Samsung kemudian memperkenalkan layar fleksibel pertama mereka. Robert Yi, yang kala itu menjabat Vice President of Investor Relations Samsung menyatakan perangkat berlayar fleksibel akan diluncurkan pada 2012. Sayangnya, sebelum benar-benar melahirkan ponsel layar lipat, Samsung hanya mampu membenamkan sedikit kemampuan layar fleksibelnya dalam Samsung S6 Edge.

Dengan peluncuran Galaxy Fold, ponsel layar lipat kini tak sebatas prototipe. Namun, sebagaimana pengembangannya yang telah berlangsung lama, versi final produk jenis ini belumlah lahir. Apalagi Apple, perusahaan yang melahirkan smartphone, belum memperkenalkan ponsel lipatnya.

Baca juga artikel terkait GALAXY FOLD atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight