FSM 2018 Hari Ke-2 Diisi Simposium dan Diramaikan Festival Seni

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 7 September 2018
Dibaca Normal 1 menit
Penyelenggaraan Festival Seni Multatuli 2018 hari ke-2, diramaikan oleh berbagai festival seni dan juga simposium soal wacana feminisme mutakhir.
tirto.id - Tema utama yang diusung dalam simposium hari kedua ini adalah wacana feminisme mutakhir. Tampil sebagai pembicara dari kalangan akademisi yaitu Neng Dara Affiah dan kritikus sastra Katrin Bandel. Neng Dara mengupas kondisi aktual feminisme dalam konteks lokal Banten.

Secara kasat mata, tak ada resistensi budaya dan agama ketika perempuan jadi pemimpin di Banten. Per 2018, beberapa daerah di Banten justru dipimpin perempuan.

Faktanya, Kabupaten Lebak dipimpin oleh Iti Octavia Jayabaya, Kabupaten Pandeglang dipimpin Irna Narulita, Kabupaten Serang dipimpin Tatu Chasanah, dan Kota Tangerang Selatan dipimpin Airin Rachmi Diany.

Menurut Neng Dara, yang menjadi masalah kemudian adalah hadirnya kepala daerah perempuan tersebut sudah memperjuangkan kepentingan perempuan.

Salah satu tolok ukur yang bisa dipakai adalah sejauh mana kepala daerah perempuan melaksanakan UU no. 7 tahun 1984 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan dan aturan khusus perlindungan hak-hak permanent dalam UUo. 39 tahun 1999 tentang HAM.

"Yang banyak mengalami diskriminasi hingga saat ini adalah perempuan. Selama di Komnas Perempuan saya mendapati KDRT masih menjadi masalah besar di Indonesia, termasuk juga di Banten. Masyarakat kita belum paham benar apa itu KDRT," kata dosen UIN Syarif Hidayatullah itu.

Selain itu, kepemimpinan perempuan di Banten citranya lekat dengan politik dinasti. Keempatnya punya relasi keluarga dengan pejabat sebelumnya.

Irna Narulita istrinya Achmad Dimyati Natakusumah Dimyati, Bupati Pandeglang periode 2000-2009. Iti Octavia adalah putri Mulyadi Jayabaya, Bupati Lebak periode 2003-2013. Sementara Airin Rachmi Diany dan Tatu Chasanah masih terhitung kerabat mantan Gubernur Banten Atut Chosiyah.

Neng Dara membandingkan keempat kepala daerah perempuan Banten itu dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan mantan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Menurutnya, keduanya bisa jadi contoh perempuan yang memimpin karena kompetensinya, bukan sebagai kepanjangan dinasti belaka.

Naiknya perempuan sebagai pemimpin akan mubazir jika hanya jadi kepanjangan dinasti. Selain meninggalkan citra negatif, hak-hak perempuan yang semestinya diprioritaskan juga rentan terpinggirkan.

"Kedepan kepemimpinan perempuan Banten sebisa mungkin tumbuh dari kompetensi, bukan lantaran dinasti. Yang seperti itu sejatinya adalah feodalisme gaya baru," tegas Neng Dara.

Selain simposium FSM 2018 hari ini juga dimeriahkan dengan festival seni tradisional khas Banten dan pementasan teater.

Panggung festival seni tradisional bertempat di Alun-alun Rangkas Bitung. Beberapa kelompok kesenian tampil sejak pukul 14.00 WIB. Di antaranya ada kesenian gegendeh, beluk saman, pokplod, koromong Baduy, dan dipungkasi dengan wayang golek.

Lalu akan ada sepuluh grup teater akan tampil malam nanti. Mereka adalah grup-grup yang lulus seleksi dari beberapa daerah di Banten. Bertempat di halaman Pendopo Kabupaten Lebak, masing-masing grup menyuguhlan lakon-lakon interpretasi atas fragmen-fragmen kisah dari novel Max Havelaar.

Bonnie Triyana, salah satu penggagas FSM, menjelaskan festival ini memang diniatkan untuk mengkolaborasikan kesenian tradisional dan modern. Juga mendekatkan seniman lokal dan seniman yang sudah terkenal secara nasional. Kolaborasi adalah kata kunci penyelenggaraan FSM.

"Jadi, seniman Banten nggak cuma jadi panitia saja. Ananda Sukarlan, misalnya, di sini nanti akan tampil bareng seniman beluk. Kesenian beluk terangkat, Ananda pun punya khazanah karya baru," kata Bonnie kepada Tirto.

Bonnie Triyana optimistic FSM 2018 bisa jadi kiblat penyelenggaraan festival seni di Banten. Setidaknya Lebak punya modal narasi kuat Multatuli dan Max Havelaar.


Baca juga artikel terkait FESTIVAL SENI MULTATULI 2018 atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Fadrik Aziz Firdausi
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Yandri Daniel Damaledo