Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi tembaga Indonesia sepanjang 2019 mencapai 176.400 ton, turun dari produksi sepanjang 2018 yang mencapai 230.923 ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyebut anjloknya produksi tembaga itu disebabkan transisi tambang PT Freeport Indonesia dari open pit (tambang terbuka) menjadi underground (bawah tanah).

Meski produksi 2019 merosot drastis, pemerintah masih optimistis memasang target produksi tembaga sebesar 291.000 ton di tahun ini.

"Ini tembaganya mengalami penurunan, saya kira semua tahu Freeport tahun lalu masuk masa transisi dari open pit ke underground. Mudah-mudahan 2020 sudah mulai naik lagi dan nanti 2022 mencapai puncaknya," ujarnya seperti dikutip Antara, Kamis (12/3/2020).

Selain tembaga, Kementerian ESDM juga mencatat penurunan produksi pada komoditas lainnya.

Emas, misalnya, turun dari 134,95 ton di tahun 2018 menjadi 108,2 ton di tahun lalu. Ada pun di tahun ini produksi emas hanya ditargetkan bisa mencapai 120 ton.

Sementara itu, Timah juga mengalami penurunan dari 83.015 ton pada 2018 menjadi 76.100 ribu ton pada 2019. Pada 2020 produksi timah ditargetkan sebesar 70.000 ton.

Kemudian, nikel matte juga turun produksinya dari 75.708 ton pada 2018 menjadi 71.000 ton pada 2019 meski penurunannya tidak terlalu siginifikan. Pada 2020, produksi nikel matte ditargetkan meningkat jadi 78.000 ton.

Ada pun komoditas perak mengalami kenaikan produksi dari 302,74 ton pada 2018 menjadi 481,5 ton pada 2019. Namun pada tahun ini produksi perak hanya ditargetkan mencapai 120 ton.

Lalu, produksi olahan nikel tumbuh signifikan dari 857.166 ton menjadi 1,8 juta ton pada 2019 dan ditargetkan dapat meningkat pada 2020 menjadi 2,0 juta ton.

"Nikel olahan ini, dengan banyaknya smelter yang terbangun, kita mengalami kenaikan produksi sepanjang 2016-2020," katanya.