Forever 21 Bangkrut: Kisah Imigran Korsel dan Upaya Membaca Zaman

Ilustrasi Forever 21. foto/istockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 8 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Forever 21 adalah perusahaan retail yang menjual barang dengan rentang harga paling rendah dibanding para pesaingnya.
tirto.id - Kejayaan Forever 21 adalah salah satu contoh kisah sukses tentang seorang imigran Asia di Amerika Serikat. Dalam hal ini, imigran yang dimaksud adalah Don Won Chang, pendiri gerai ritel kenamaan tersebut.

Won Chang semula adalah seorang anak dari keluarga menengah ke bawah yang hanya mampu bersekolah sampai SMU. Ketika usianya menginjak 18 tahun, ia sudah bertekad untuk memperbaiki nasib di negeri perantauan. Namun, Won tidak sendirian. Ada banyak remaja mau pun keluarga lain yang hendak pergi dari Korsel demi mencari peruntungan.

Hal tersebut dijelaskan oleh Pyong Gap Min, seorang peneliti dari Research Center for Korean Community Queens College of CUNY, melalui risetnya yang berjudul: "Korean’s Immigration to The US: History and Contemporary Trends" (PDF). Di riset itu disebutkan bahwa pada dekade 1980an, situasi perekonomian Korsel memang cukup kacau.

Dampaknya, sebagian besar orangtua yang berasal dari kelas menengah ke bawah kesulitan menyekolahkan anak mereka. Selain itu, peluang kerja pun terbilang minim. Bahkan mereka yang mampu meraih gelar akademik karena berasal dari keluarga mampu juga masih harus melewati persaingan ketat demi dapat bekerja di berbagai institusi yang ada.

Di samping itu, Korsel juga masih sering dilanda konflik dengan saudara dekat mereka, Korea Utara. Hal-hal tersebut jelas bikin mayoritas orang yang masih ada di rentang usia produktif seperti Won Chang makin mantap untuk meninggalkan negaranya. Dan AS menjadi tujuan favorit.

Apalagi jika bukan karena propaganda "American Dream" yang memang menggoda iman itu?


Impian Bernama Forever 21

LA Times mencatat, Won Chang datang ke AS bersama istrinya, Jin Sook, tanpa memiliki uang yang cukup untuk hidup. Ia kemudian bekerja serabutan di kafe dan pom bensin. Kala bekerja di pom bensin itulah ia terpikir untuk jadi pebisnis. Katanya: orang kaya yang datang dengan mobil bagus ke pom bensin biasanya bekerja di bidang retail.

Lalu berbekal modal $11.000, Won Chang bersama Jin Sook mendirikan Fashion 21, tepat pada 21 April 1984. Siasat bisnisnya kala itu mereka buat sederhana belaka: toko busana tersebut menjual barang-barang trendi dengan harga ramah kantong.

Awalnya para pelanggan berasal hanya terbatas dari kalangan Korea-Amerika. Lama-kelamaan orang AS pun tertarik berbelanja di Forever 21. Salah satu alasannya, toko ini terbilang murah dibanding label retail lain--hal ini juga yang akhirnya membuat Forever21 jadi besar dan laris di tengah para pesaing seperti H&M, Zara, dan Uniqlo.

Pada tahun pertama berdiri, Forever 21 sudah meraih keuntungan besar: $700.000. Hal ini membuat Won Chang mantap untuk mengekspansi bisnisnya secara besar-besaran dengan membuka berbagai outlet baru dan menambah varian dagangan: busana pria, aksesori, busana anak, dan busana untuk orang bertubuh besar.

Selain menekankan harga murah, Won Chang juga punya prinsip lain: barang dagangan harus ditaruh di toko yang berukuran masif, tak kurang dari 1000 meter persegi. Bahkan bila perlu luasnya disamakan dengan area tanding dalam stadion sepak bola.

Dan ia berhasil. Dalam kurun waktu 35 tahun, Forever 21 setidaknya punya 623 gerai. Linda Chang, anak Won Chang yang didaulat memimpin perusahaan, harus mengevaluasi 400 desain busana setiap harinya. Hal tersebut membuktikan betapa perusahaan ini tak mau kalah cepat dalam menjual tren busana terbaru.

Salah satu momen puncak perkembangan bisnis Forever 21 terjadi pada 2010, ketika pendapatan tahunannya mencapai sekitar $3 miliar. Perusahaan tersebut pun lantas membuka cabang ke-481 di Times Square, New York. Toko besar yang terdiri dari empat lantai dan dibangun di area perbelanjaan yang didominasi jenama tersohor asal AS dan Eropa itu seolah menjadi penegas betapa Forever 21 patut dipandang sebagai label retail global.

Buat Won Chang, itu adalah impian yang jadi nyata. "Forever 21 adalah American Dream-ku," ujarnya seperti dikutip Guardian.

Plagiarisme dan Kesejahteraan Buruh


Tentu saja popularitas Forever 21 tak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan besar yang kerap dihadapi mereka terkait dengan pelanggaran hak cipta. Perusahaan ritel ini cukup sering diprotes oleh label busana atau desainer seperti Gucci dan Dian Von Fustenberg akibat dianggap meniru desain busana mereka.

The Fashion Law mencatat, pada 2017 Gucci menuntut Forever 21 karena menganggap mereka telah meniru desain motif trademark Gucci: tiga garis berwarna biru merah biru atau hijau merah hijau. Saat itu Gucci pun tengah melansir produk sweater dan bomber jacket dengan detail tiga garis.

Dan tak lama berselang, Forever 21 turut melansir produk serupa.

Dalam persidangan, tim Forever 21 membela diri dengan menyatakan bahwa desain tiga garis bukanlah trademark Gucci dan biasa digunakan dalam desain busana mana pun. Selain itu pihak Forever 21 juga menganggap, motif tiga garis tidak seharusnya jadi trademark karena desain itu terlalu "biasa".

Namun, pada akhirnya hakim tetap menyatakan Forever 21 kalah karena gagal membuktikan argumen tersebut. Di samping itu, mereka juga tak mampu menunjukkan bila publik tidak akan mengaitkan desain tiga garis dengan jenama Gucci.




Selain soal hak cipta, Forever 21 juga beberapa kali tersangkut kesejahteraan buruh garmen. New Yorker pernah melaporkan bagaimana mitra konveksi Forever 21 bekerja enam hari berturut turut dalam seminggu dengan durasi kerja 12 jam per hari dan tidak dibayar sesuai dengan upah minimum pekerja.

Protes soal kesejahteraan pekerja setidaknya pernah dialami Forever 21 pada tahun 2001, 2008, dan 2012. Pihak Forever 21 kemudian mengatasi konflik tersebut dengan merekrut perusahaan garmen yang dianggap lebih bertanggungjawab terhadap kondisi pekerjanya. Kendati demikian, berbagai protes itu tidak serta merta mengubah persepsi publik terhadap Forever 21. Niat Wong Chan untuk menambah jumlah gerai pun tetap berjalan.

Namun, yang terjadi dengan Forever 21 belum lama ini justru mencengangkan: gerai fesyen tersebut dinyatakan pailit dan bangkrut. Induk bisnisnya yang berada di AS pun terlilit utang dan ditinggal konsumen. Bahkan ritel ini rencananya bakal menutup 178 gerai di AS dan hengkang dari pasar Asia dan Eropa.

Meski demikian, kebangkrutan tersebut tidak serta membuat Forever 21 akan bubar selamanya. Laporam LA Times menganggap, Forever 21 "hanya" akan melakukan perombakan bisnis di tengah sistem jual-beli yang sudah beralih dari offline ke online. Terlebih karena pangsa pasar Forever 21 yang mayoritas milenial dan gen Z juga cenderung lebih masif belanja secara online.

Hal ini tentunya membuat rencana Won Chang untuk memperbanyak jumlah gerainya sudah tidak relevan. Kini, agar bisnis mereka tetap bertahan, Forever 21 mesti lebih menunjukkan kepedulian terhadap isu keberlanjutan dalam dunia fesyen.

Itulah hal yang jadi perhatian konsumer muda zaman sekarang.

Baca juga artikel terkait RITEL atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight