Lapsus Wawas Lingkungan

Foodbank: Upaya Kurangi Sampah Makanan Jaga Ketahanan Pangan

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 16 Jan 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Foodbank of Indonesia menjadi wadah untuk menampung makanan berlebih di tengah risiko tinggi stunting, gizi buruk dan malnutrisi di Indonesia.
tirto.id - Tahukah kamu ke mana perginya makanan berlebih dari restoran, hotel, katering hingga hajatan pesta? Atas nama prosedural, sebagian besar dari mereka, ironisnya, berakhir di tempat sampah. Padahal makanan tersebut masih amat layak dikonsumsi.

"Makanan yang kelebihan itu kan mubazir dibuang dan akan jadi sampah yang berpotensi memparah krisis iklim karena karbon dan gas metanya," ujar Alifia Nur Lita (25), Head of Comunication Food Bank Indonesia (FOI) kepada Tirto di kantornya, Kamis (12/1/2023).

"Kenapa enggak kita manfaatkan makanannya biar enggak jadi sampah untuk meminimalisir krisis iklim. Itu yang jadi salah satu latar belakang kami bergerak," lanjut Lita.


FOI merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menampung makanan berlebih dari sejumlah pihak agar tidak menjadi sampah yang kemudian disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti kelompok rentan yang kurang memiliki akses terhadap pangan.

Foodbank Indonesia terletak di Jalan H. Abdul Majid Dalam III No.2B, RT.12/RW.5, Cipete Selatan, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Ketika tiba pukul 15.45 WIB, saya disambut ramah oleh Lita dan Tiara Wadhida selaku Koordinator Sosial Program.

Terpampang di pagar FOI terbentang sepanduk 5x1 meter dengan tulisan "Gerakan Selamatkan Pangan dalam Rangka Kewaspadaan Pangan dan Gizi".

Di tengah-tengah gerbang kantor terdapat huruf timbul dengan tulisan "FOI". Lalu di pagar sebelah kanan terdapat sepanduk berukuran 2x1 meter dengan tulisan "RED (Respons of Emergency Disaster). Pos Pangan Bencana. Food for Hope, Food for Everyone".

FOI berdiri sejak 2015 oleh sepasang suami istri bernama Hendro Utomo dan Wida Septarina. Awal mula muncul gagasan tersebut ketika sepasang suami istri yang saat itu memiliki agensi Public Relationship (PR) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan berinisiatif membagikan makanan kepada warga yang membutuhkan setiap Jumat pagi pada 2014.

"Jadi modelnya kayak Jumat berkah gitu yang bagiin makanan ke jamaah yang abis salat Jumat," kata Lita.

Makanan yang diberikan berupa sarapan seperti roti, susu, dan sejenisnya. Setiap minggunya keduanya secara intens membagikan makanan. Bahkan sampai banyak warga yang berdatangan dan terus mencari.


"Lalu muncul kesadaran ternyata banyak di sekitar yang butuh makanan," ucapnya.

Akhirnya mereka mencoba memberikan makanan dengan secara profesional dan terorganisir dengan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada 20 Mei 2015 atau bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Setelah berjalan setahun, mereka membuat Yayasan Lumbung Pangan Indonesia pada tahun 2016 yang mewadahi FOI. "Jadi karena kami butuh sebuah payung [Wadah], akhirnya dibuatlah yayasan," imbuhnya.

FOI terus berkembang, hingga saat ini FOI memiliki 8.412 relawan yang 80 persennya adalah perempuan.

Foodbank Of Indonesia
Foodbank Of Indonesia. tirto.id/Riyan Setiawan




Tampung Makanan Berlebih

Setelah Hendro dan Ida berhasil menyulap aktivitas mingguannya itu menjadi lebih terorganisir, mulai terdapat donatur yang mengirimkan makanan berlebihnya kepada FOI yang akan disalurkan kepada kelompok rentan.

Donatur makanan biasanya terdiri dari perusahaan produk makanan olahan, ritel, hingga perorangan. Selain makanan, terdapat juga terdapat perusahaan yang memberikan bantuan berupa dana corporate social responsbility (CSR) maupun instansi pemerintah yang nantinya dibelikan kebutuhan pangan.

Biasanya bantuan pangan yang diterima beranekaragam. Mulai dari cemilan, susu, kopi, bumbu dapur, makanan olahan, hingga sembako.

Foodbank Of Indonesia
Foodbank Of Indonesia. tirto.id/Riyan Setiawan


Kendati demikian, terdapat kriteria bagi donatur yang ingin menyumbangkan makanan berlebihnya. Produk yang disumbang maksimal batas kadaluwarsa H-3 bulan.

"Karena bantuan makanan yang kami terima harus disimpan dulu di gudang sebelum dibagikan ke penerima," ucapnya. Para donatur biasanya ada yang menyumbang sehari, seminggu, atau sebulan sekali.

Bantuan tersebut harus terlebih dahulu diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya. Misalnya sembako, susu, bumbu dapur, hingga cemilan. Lalu juga dilihat tanggal kadaluarsanya dan kemasannya masih bagus atau sudah rusak.

Saya pun diajak ke tempat penyimpanan makanan yang lokasinya di sebelah kanan dan kiri pintu masuk Kantor FOI. Terlihat tumpukan karung yang di dalamnya terisi bahan pangan.

Seorang wanita paruh baya bernama Yati mengenakan busana abu-abu dan jilbab warna peach dengan rompi bertuliskan "FOI Food Bank Indonesia" tengah membuka salah satu karung yang diikat dengan tali tis menggunakan gunting. Di dalam karung tersebut, terdapat sejumlah kardus yang telah tersusun.

Kardus ia buka. Di dalamnya terdapat kue sus kering, kecap, cemilan, susu bubuk, hingga bumbu dapur. Yati mencatatnya dengan cermat di atas kertas yang dialasi papan belajar.

Foodbank Of Indonesia
Foodbank Of Indonesia. tirto.id/Riyan Setiawan


Tampak juga seorang karyawan lainnya tengah mencuci botol kecap dan beberapa barang agar kembali bersih. Terdapat juga petugas yang mengepak berbagai jenis makanan itu ke dalam satu kardus.

"Nanti makanan yang sudah di-packing ini dikirim ke penerima manfaat," ujarnya. FOI mengirimkan bantuan tersebut menggunakan dua mobil boksnya ke tempat yang sudah ditentukan.

Lita menuturkan penerima manfaat yang berhak mendapatkan hanya yang sudah terdaftar di FOI dan sesuai dengan kriteria. Yakni lembaga pendidikan PAUD dan SD dari golongan menengah ke bawah; ibu hamil dan menyusui; lanjut usia (lansia); hingga pekerja informal.

Saat ini, FOI telah tersebar di 47 Kabupaten/kota yaitu tersebar di Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Kota & Kab. Bandung, Depok, Kota & Kabupaten Bogor, Subang, Kota & Kabupaten Bekasi, Karawang Cirebon, Pandeglang, Tangerang, Semarang, Solo, Tegal, Pekalongan, Magelang, Wonosobo, Grobogan, Yogyakarta, Mojokerto, Kediri, Surabaya, Probolinggo, Malang, Jombang, Sidoarjo, Lumajang, Pasuruan, Banyuwangi, Lombok, Medan, Palembang, Padang, Lampung, Bontang, Banjarmasin, Palu, Makassar, Gilimanuk, Ambon, dan Manado.

Bagi donatur yang ingin memberikan sumbangan, kata Lita, dapat melalui kantor cabang yang tersebar di 47 Kabupaten/kota tersebut agar jalur distribusi bantuannya lebih efektif dan efisien.

Tak hanya itu, kata Lita, terdapat juga donatur yang memberikan bantuan makanan yang waktu kadaluarsanya singkat. Seperti rumah makan, restoran, hotel, wedding organizer, hingga toko roti.

Namun, makanan tersebut harus masih dalam keadaan terbungkus dan belum disentuh atau dicicipi. Saat diterima oleh FOI, makanan tersebut juga harus dicicipi terlebih dahulu untuk memastikan kelayakannya. Jika layak, FOI akan menyalurkan ke penerima manfaat yang terdekat.

"Biasanya kaya hotel gitu kan makanan yang berlebih dibuang. Daripada mubazir dan jadi sampah, lebih baik disumbangkan ke yang membutuhkan," ujarnya.

Sementara itu pangan yang sudah tidak layak dikonsumsi seperti sayur, buah-buahan, dan makanan tidak dibuang, tetapi akan diolah menjadi pupuk untuk lahan pertanian yang di bawah bimbingan FOI.

Lita menuturkan produksi berlebih akan mengakibatkan mubazir makanan. Pangan yang tidak termakan itu akan menyumbang lebih dari 37% emisi gas rumah kaca dunia.

Berdasarkan studi yang ditemukan FOI, lebih dari 30% sampah di Indonesia berasal dari makanan. Selama 20 tahun terakhir, semua sampah makanan tersebut dapat menyediakan makanan bagi 61-125 juta orang atau 29-47% penduduk Indonesia.

Makanan yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan terurai dan menghasilkan gas metana (CH4) yang bahayanya 25 kali lebih besar dari karbondioksida (CO2), sebagai pemicu pemanasan global.

Sementara itu menurut Food Waste Index Report 2021 yang dikeluarkan UN Environment Programme (UNEP), Indonesia diestimasikan menjadi penghasil sampah makanan paling besar di Asia Tenggara.

Perhitungannya sendiri dengan melihat jumlah sampah makanan rumah tangga, yakni 77 kg per kapita per tahun untuk Indonesia. Angka ini utamanya diambil dari penelitian Dhokhikah et al. pada tahun 2015. Dari situ, UNEP memperkirakan bahwa setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan 20,9 juta ton sampah makanan.



"Sistem pangan kita saat ini mengambil banyak sumber daya dan mendorong krisis iklim yang berdampak luas pada produksi pertanian. Kemungkinan besar hal ini akan mengancam ketahanan pangan di masa depan," pungkasnya.

Jangkau Sekolah hingga Lokasi Bencana

FOI memiliki enam program: Sayap dari Ibu (SADARI), Mentari Bangsaku, Dapur Pangan, Kebun Pangan Komunitas, platform, dan Respons of Emergency Disaster (RED).

"Dalam program SADARI, FOI menggandeng posyandu untuk membantu ibu dalam mendukung perkembangan anak pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) agar kelak anak-anak dapat memiliki sayap untuk terbang tinggi menggapai cita-cita," jelas Tiara.

Saat ini, sudah sebanyak 149 posyandu yang dilibatkan. Ia mengatakan lokasi yang diberikan bantuan yaitu daerah yang berpotensi dan memiliki angka stunting yang tinggi berdasarkan data posyandu. Sehingga ibu maupun bayi perlu diberikan gizi yang seimbang. Selain itu, FOI juga membagikan makanan untuk ibu hamil yang membutuhkan pendampingan yang mendaftar secara mandiri.

FOI memberikan makanan dan minuman yang mengandung empat gizi seimbang baik nabati maupun hewani: susu, telur, sayur dan nasi.

"Karena enggak banyak sumber makanan yang mereka [Ibu] punya. Ini upaya untuk mencegah stunting terhadap anak sejak dini" kata Tiara.

Berdasarkan data FOI terhadap studi status gizi balita di Indonesia, 1 dari 5 anak atau 19,96% balita di Jakarta mengalami stunting.



Sejak tahun 2017-2021, sebanyak 9.346 balita, 554 ibu hamil, dan 1.065 ibu menyusui yang telah didampingi oleh FOI. Tersebar di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Timur, hingga Bali.

Tak hanya membagikan makanan, FOI juga memberikan pendampingan kepada kelompok rentan tersebut untuk memastikan apakah sesuatu yang diberikan memiliki manfaat yang signifikan.

Ia pun menuturkan adanya peningkatan status gizi anak di Subang, Kulon Progo, Wonosobo, dan Grobogan pada tahun 2019 berdasarkan berat badan dan umur. Pada Agustus status gizi anak 75,9%; pada September naik jadi 78,7%; saat Oktober masih sama 78,7%, dan November naik menjadi 80,6%.

Sementara itu, angka stunting di sejumlah daerah tersebut pun menurun: Agustus (57,4%); September (41,7%); Oktober (32,4%); dan November (29,6%).

Ia mencontohkan salah satu daerah di Semper Barat, Kecamatan Clincing, Jakarta Utara. FOI mendampingi 50 anak yang memiliki permasalahan gizi seperti berat badan kurang dan pendek. Selama lima bulan pendampingan, sudah ada 21 anak yang kondisinya berhasil baik.

"Jadi sebenernya permasalahnnya bukan enggak ada makanan, tapi orangtuanya yang enggak tahu makanan yang baik dan bergizi untuk anak itu yang seperti apa sih. Lalu perlu didukung lingkungan yang bersih," tuturnya.

Kemudian program Mentari Bangsaku (MB). Program pangan sekolah untuk mengakhiri kelaparan pada anak-anak di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, makanan tambahan membantu meningkatkan konsentrasi belajar guna menciptakan mentari-mentari bangsa Indonesia di masa depan.

Foodbank Of Indonesia
Foodbank Of Indonesia. tirto.id/Riyan Setiawan


Awalnya program ini dilakukan di SD Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Sekolah itu awalnya dipandang sebelah mata karena dekat dengan tempat pembuangan sampah.

Program tersebut pun mulai masuk. FOI mengirimkan sejumlah makanan mentah seperti beras, sayuran, sarden, hingga telur. Selain itu juga ada susu UHT, biskuit, dan sereal. Dari bahan-bahan tersebut, para guru memasaknya untuk dijadikan makanan.

"Ternyata dari situ punya dampak positif sekolah dan belajar, jadi punya nilai plus di mata masyarakat," ujarnya.

Sesekali guru juga mengajak para muridnya untuk melakukan proses memasak bersama. "Jadi siswa bukan cuma makan saja, mereka juga diajarkan, diedukasi," imbuhnya.

Setelah berhasil menerapkan di SD Gandaria Utara, FOI mulai mengembangkan ke sekolah-sekolah lainnya. Saat ini, terdapat 473 institusi pendidikan yang tersebar di 16 Kabupaten/Kota yang terdiri dari 17.814 anak-anak yang merasakan program Mentari Bangsaku.

Program tersebut telah berdampak positif bagi anak-anak. Sebanyak 70% meningkatkan kehadiran anak ke sekolah; 99% berhasil mendekatkan akses pangan bergizi pada anak; dan 82% menambah asupan makanan harian pada anak.

Berdasarkan hasil survei FOI dalam periode Agustus 2020 di 14 kota, terdapat 27% anak ke sekolah dengan perut kosong karena tidak makan hingga siang hari. Bahkan di daerah padat DKI, angkanya mencapai 40-50%.

Lalu terdapat program Dapur Pangan FOI, program dapur berbasis masyarakat untuk mengolah bantuan pangan menjadi makanan siap saji. Dapur pangan biasanya dikelola oleh ibu-ibu. Mereka bisa menggunakan rumahnya, aula RW, hingga Sekolah PAUD untuk dijadikan dapur umum. Saat ini, total sudah ada 116 dapur pangan yang tersebar di Jabodetabek.

Distribusikan kepada keluarga miskin, terutama untuk mengatasi kelaparan pada lanjut usia (lansia), terutama yang saat ini tinggal sendiri.

Berdasarkan Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Tahun 2020, kata Tiara, sebanyak 47,3% lansia mengalami malnutrisi. Sementara data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sebanyak 32,4% lansia berstatus gizi kurus.

"Masalah kurang gizi juga banyak terjadi pada lansia seperti Kurang Energi Protein yang Kronis atau KEK, anemia, dan kekurangan zat G," tuturnya.

Selain lansia, dapur pangan FOI juga membagikan makanan kepada para pekerja informal yang tinggal di sekitar sekretariat FOI.

Lalu dalam tiga kali seminggu, FOI juga menggunakan dua mobil boks (Food truck) miliknya untuk membagikan makanan kepada pekerja informal. Pada Senin membagikan makanan di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat; Kamis di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat; dan Sabtu di kawasan Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Jenis makanan dan minuman yang diberikan seperti snack, kue sus, keripik, hingga minuman bersoda.

"Pokoknya makanan dan minuman yang tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan lansia," ucapnya.

Kemudian Program Kebun Pangan Komunitas (KEPAK). Program ini merupakan pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mendekatkan keluarga dengan sumber pangan lokal melalui sistem pertanian terpadu dan alami. Kebun Pangan Komunitas ini dilakukan di pedesaan maupun perkotaan (urban farming).

Program ini juga merupakan upaya mencapai ketahanan pangan skala komunitas. Dalam upaya mencapai ketahanan pangan, program KEPAK mendorong masyarakat untuk memproduksi pangan yang beragam dengan menerapkan siklus panen dan keanekaragaman pangan lokal serta tidak mengeksploitasi alam.

Dengan upaya ini diharapkan ketahanan pangan keluarga dapat terpenuhi," ujarnya.

Selain itu, kebun pangan komunitas ini juga menjadi sarana edukasi dan pembelajaran bagi masyarakat mengenai sistem produksi pangan, mengenal mengenai tanaman, sayuran buah serta manfaatnya.

"Anak-anak mitra program sayap dari Ibu dan Mentari Bangsaku akan berkunjung ke lokasi untuk bermain sekaligus belajar," tuturnya.

Selanjutnya Program Peta Jalan Kuliner (PJK). Dalam program ini, tersedia platform yang membantu konsumen untuk menemukan sumber pangan lokal yang aman di sekitarnya. Tujuannya sebagai wadah yang membantu pedagang dalam menjalankan usaha pangan yang aman dan berdaya saing.

Rangkaian kegiatannya seperti pendampingan keamanan pangan dan kewirausahaan, edukasi pedagang dengan narasi pangan aman kunci kepuasan pelanggan.

Terakhir yakni program Response on Emergency and Disaster (RED). Dalam program tersebut Foodbank of Indonesia memberikan bantuan sembako bagi masyarakat yang terkena bencana atau keadaan darurat lainnya untuk membantu dan mendukung mereka agar lebih cepat pulih.

Misalnya masyarakat yang terdampak COVID-19, bencana alam seperti gempa bumi di Cianjur beberapa waktu lalu.

"Jadi ada juga kami menampung bantuan makanan yang nanti akan dikirimkan ke korban bencana," terangnya.



Baca juga artikel terkait SAMPAH MAKANAN atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight