Fokker: Lahir di Blitar, Berkibar di Eropa

Oleh: Petrik Matanasi - 6 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Terobsesi kepada pesawat sejak kecil, namanya menjelma sebuah merek dirgantara yang legendaris.
tirto.id - Red Baron adalah legenda berbahaya Jerman dalam Perang Dunia I di Eropa. Pesawat bersayap tiga lapis yang disupiri Ritmeester Manfred Albrecht Freiherr von Richthofen ini memakan banyak korban. Dalam sejarah Perang Dunia I, Red Baron benar-benar menjadi pesawat yang menebar kehancuran bagi musuh-musuh Jerman. Menurut catatan Pamella Dell, dalam A World War I Timeline (2014), Richtofen menyatakan telah menjatuhkan 80 pesawat terbang musuh.

Pesawat-pesawat yang dipakai Manfred dan pilot-pilot tempur Jerman yang dipimpinnya adalah bikinan orang Belanda bernama Anthony Herman Gerard Fokker. Namanya sangat terkenal dalam sejarah kedirgantaraan dunia.

Fokker punya cerita tersendiri tentang Indonesia. Ia sebenarnya lahir di Jawa, persisnya di Blitar, pada 6 April 1890. Namun hanya sampai umur empat tahun saja dia berada di Hindia Belanda. Ayahnya, Herman Fokker, yang merupakan penggede perkebunan kopi di Jawa Timur, mengirimnya ke Eropa untuk bersekolah.

Tentu saja ia masih terlalu kecil saat berangkat ke Eropa. Dia tak mengenal tanah kelahirannya, Nusantara, yang kala itu disebut Hindia Belanda, yang membuat ayahnya cukup makmur untuk bisa menyekolahkannya di negeri leluhurnya.

Fokker muda sejak kecil sudah terobsesi pesawat. Pada usia yang masih terhitung muda, 20 tahun, ia sudah merancang pesawat pertamanya yaitu De Spin (laba-laba). Dirancang sejak 1910, pesawat itu ia terbangkan di sekitar Sint Bavokerk Haarlem pada 31 Agustus 1911, saat ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Dalam buku A Biographical Encyclopedia of Scientists and Inventors in American (2011) karya A. Bowdoin Van Riper, dia dikirim untuk belajar teknik otomotif di Jerman. Pada 1912, dia membangun perusahaan penerbangan dan sekolah penerbangannya di Jerman. Dengan cepat dia mendapatkan kontrak dari militer Jerman untuk pesawat pemandu dan pelatihan pilot.

Pesawat buatannya pada 1915 adalah Fokker E-1, pesawat satu kursi dan senapan mesin yang sudah sinkron dengan gerak baling-baling depannya ketika menembak. Menurut A. Bowdoin Van Riper, pesawat ini begitu efektif ditangan Max Immelman Ace (pilot pembantai pesawat musuh) dan mendapatkan reputasi mengerikan dari musuh-musuhnya.

Di era-era pesawat baru yang dikembangkan Wilbur Wright, pesawat kebanyakan hanya mampu mengangkut dua penumpang. Pesawat bukan transportasi massal. Hanya untuk hobi atau militer. Masa penerbangan komersil belum datang saat itu. Jadi, Angkatan Udara Jerman adalah konsumen penting pertama dalam bisnis Fokker.

“Fokker membangun reputasinya selama Perang Dunia I sebagai pembuat pesawat untuk Angkatan Udara Jerman, termasuk pesawat bersayap tiga lapis Manfred Manfred “Red Baron” von Richthofen,” tulis Henry M. Holden, dalam Teterboro Airport (2010). Pesawat bertipe Dr I ini adalah pesawat yang sering dingat dalam sejarah pertempuran udara. Namun, sebagai produsen pesawat di awal sejarah pesawat terbang, tentu saja banyak kelemahan dari produknya. Dia pun disarankan untuk merger dengan Junker.

Setelah gugurnya Manfred van Richthofen si Red Baron (pada 21 April 1918 di Perancis) dan kalahnya Jerman dalam Perang Dunia I, Anthony Fokker lalu kehilangan konsumen pentingnya, Militer Jerman. Perusahaannya dia pindah ke Belanda dan berpisah dengan Junker. Dengan satu rangkaian kereta api, pesawat-pesawat Fokker dipindahkan ke Belanda. Pada 21 Juli 1919, dengan bendera N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker, perusahaan pesawatnya bangkit lagi.

infografik fokker02


Negaranya, Belanda, bukan jago perang yang memperhatikan Angkatan Udara. Anthony Fokker tak melulu jadi pedagang kematian dengan hanya membuat pesawat tempur untuk membunuh lawan. Dia beralih membuat pesawat penumpang komersial mesti saat itu pasar penerbangan komersil masih terbatas. Pada Oktober 1919, Fokker F.II terbang perdana. Menurut situs www.fokker.com, pesawat ini adalah pesawat penumpang pertama yang diproduksi Fokker.

Lalu pada April 1921, Fokker F.III, yang mampu mengangkut 5 penumpang, terbang perdana. Pesawat terakhir dibeli maskapai penerbangan Belanda Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM). Menurut www.fokker.com, KLM memakai pesawat buatan Fokker ke Hindia Belanda (Indonesia), tanah kelahiran Anthony Fokker.

Dekade 1920an adalah awal masa kejayaan Fokker. Pada 1923, dia mulai memindahkan bisnisnya ke Amerika. Semula usahanya dinamai Atlantic Aircraft Corporation, namun pada 1927 dia mengubahnya menjadi Fokker Aircraft Corporation of America. Tahun 1930, perusahaannya bergabung dengan General Motors Corporation, dan dinamai General Aviation Manufacturing Corporation.

Meski Anthony Fokker meninggal pada 23 Desember 1939 di New York, nama Fokker terus dipakai sebagai merek. Namanya bahkan menjadi salah satu merek penting dalam dunia dirgantara dunia. Setelah kematian Fokker, perusahaan yang dirintisnya ini terlibat juga dalam produksi pesawat tempur maupun pesawat angkut militer. Salah satu produk laris perusahaan itu adalah pesawat turboprop Fokker F-27 yang dirilis pada 1958. Hingga 1986, pesawat tersebut telah terjual 800 unit.

Setelah Fokker F-27, keluar Fokker F-28 "Fellowship", Fokker F50, Fokker F70 dan Fokker F100. Pembelinya bukan hanya Jerman, Belanda atau Amerika, tapi negara-negara lain di dunia. Pesawat buatan Fokker juga dibeli pihak Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS