Serie A

Fleksibilitas ala Gasperini Bawa Atalanta Lolos ke Liga Champions

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 27 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Finis di peringkat tiga Serie A, Atalanta meraih tiket Liga Champions pertama mereka sepanjang sejarah klub. Apa faktor kunci di balik kesuksesan tersebut?
tirto.id - "Malam ini, kita punya kesempatan menyaksikan sejarah bagi sepakbola modern Italia. Atalanta barangkali akan memenangkan pertandingan melawan Sassuolo dan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah 111 tahun berdirinya klub itu," tulis pengamat sepakbola Anthony Barbagallo dalam sebuah kolom harian di Football-Italia, Ahad (26/5/2019) pagi.

Ramalan Barbagallo jadi kenyataan. Ahad malam, dalam pekan pamungkas Serie A, La Dea membungkam Sassuolo 3-1. Sempat tertinggal lewat gol Domenico Berardi sebelum turun minum, Atalanta membalas lewat sepakan Duvan Zapata yang sekaligus menempatkan pemain berusia 28 tahun itu sebagai penyerang paling tajam kedua di Serie A. Pada babak kedua, Atalanta lantas mengunci kemenangannya, masing-masing lewat sumbangan gol Alejandro Dario Gomez dan Mario Pasalic.

Torehan poin penuh memantapkan posisi skuat asuhan Gian Piero Gasperini di peringkat tiga di klasemen akhir Serie A. Finis dengan 69 poin, Atalanta meraih sesuatu yang bahkan tak bisa digapai klub-klub besar macam AC Milan dan AS Roma: lolos ke putaran final Liga Champions musim depan.

"Siapkan paspormu, karena musim depan kami akan pergi ke belahan-belahan lain Eropa, kami akan berkunjung ke stadion-stadion elite," ujar pelatih Gian Pierro Gasperini kepada wartawan usai pertandingan.



Sepakbola 'Fleksibel'

Bukan hanya Barbagallo, skenario Atalanta lolos ke kompetisi tertinggi Eropa telah diprediksi para praktisi sepakbola lainnya. Fabio Capello, pelatih kawakan yang sempat membawa Milan juara Piala Champions 1993-1994, sudah menebaknya sejak Januari silam.

Bukan di Serie A, Capello pertama kali menyadari potensi Atalanta saat mereka berhadapan dengan Juventus pada perempat final Coppa Italia, 31 Januari 2019. Atalanta menang 3-0 dalam laga itu.

"Harus diakui, semua orang menyadarinya [potensi Atalanta] sejak pertandingan itu, karena Gasperini bertahan dengan sistem satu lawan satu [man-to-man marking] dan Juve tidak terbiasa menghadapi intensitas pressing dalam strategi ini," tutur Capello kepada Goal.

Kejadian itu bikin Capello tidak lagi terkejut saat Juventus kalah dari Ajax di Liga Champions, beberapa bulan kemudian. Menurutnya, kejutan yang harus diperhatikan sejak awal bukanlah Ajax, melainkan Atalanta.

"Harus diingat pula Juve sudah lebih dulu kesulitan saat melawan Atalanta. Kedua tim [Ajax dan Atalanta] memainkan sepakbola daratan, mereka sama-sama menyerang dengan banyak pemain dan tak meninggalkan celah. Apa yang terjadi pada Juve saat melawan Ajax, semua sudah pernah terjadi di Bergamo [saat melawan Atalanta]," tandas Capello.

Capello benar. Atalanta adalah wujud paling konkret dari modernisasi sepakbola Italia. Musim ini mereka mendobrak pakem klub-klub Negeri Pizza yang kerap dicap cuma piawai bertahan. Tidak semata karena bakat yang melekat pada para pemain, Atalanta melakukan itu dengan modal yang lebih konsisten: sepakbola atraktif.

Pelatih Gian Piero Gasperini dan tangan dinginnya punya andil besar. Walau tak diberi alokasi dana transfer fantastis macam Pep Guardiola di City atau Jurgen Klopp di Liverpool, lelaki berusia 61 tahun itu piawai menciptakan strategi baru dan meyakinkan para pemain agar menerapkannya secara disiplin di atas lapangan. Imbasnya pun dahsyat. Meski condong mengandalkan formasi-formasi klise macam 3-4-3 (terkadang 3-4-1-2 atau 3-4-2-1), Gasperini menyulap para pemainnya agar bergerak dengan cara yang relatif berbeda.

Analis sepakbola Tifo Football, Blair Newman mendefinisikan pergerakan unik yang diterapkan Atalanta di bawah asuhan Gasperini musim ini dengan satu kata: fleksibel.

Meski mengandalkan man-to-man marking dalam meng-counter-pressing, Gasperini menekankan para pemainnya untuk tidak mengacaukan kerangka formasi mereka. Maka, ketika pemain lawan yang jadi target marking­ bergerak terlalu jauh dari posisi asli penggawa Atalanta yang ditugaskan sebagai penjaga, pengawalan tidak akan dilanjutkan. Sepintas cara ini terkesan 'tanggung', tapi pada praktiknya serangan lawan kerap bisa ditangkal lantaran Atalanta terus bermain pada strukturnya (tak ceroboh membuat banyak celah).

'Fleksibilitas' La Dea juga tercermin dalam peran tiga bek sejajarnya. Gasperini biasanya menugaskan bek paling tengah (Berat Djimsiti, atau kadang José Luis Palomino) untuk memainkan dua peran: spare-man sekaligus marker. Peran ini, menurut Newman, disesuaikan dengan bagaimana formasi dan karakterisitik penyerang lawan.


Saat transisi positif, fleksibiltas marking yang bikin para pemain tak bergeser jauh dari posisi masing-masing turut menunjang serangan Atalanta. Imbasnya, mereka bisa merancang build-up serangan dengan cepat, efisien, dan atraktif. Struktur yang rapi juga bikin mereka tidak segan mengalirkan bola dari satu tepi lapangan ke tepi lain (secara horisontal).

"Umpan-umpan horisontal ini bukan sembarang operan, karena dilakukan untuk menciptakan celah di pertahanan lawan," tulis Newman.

Serangan Atalanta punya daya pukul semakin telak lantaran Gasperini tidak segan menginstruksikan para pemain belakang untuk ikut menyerang.

Langkah ini bikin Atalanta sedikit keteteran ketika diserang balik, terlihat dari rapor mereka yang 46 kali kebobolan dari 38 laga Serie A. Namun, sisi positifnya, serangan Atalanta bisa bikin lawan jauh lebih keteteran. Buktinya, mereka mampu mengemas 77 gol di Serie A. Angka ini menempatkan Atalanta sebagai klub paling produktif, bahkan melebihi Juventus (70 gol) yang jadi juara di akhir kompetisi.

"Bek Atalanta ikut menyerang, itu memang berisiko, tapi segalanya terbayar lunas," ujar Gasperini mengakui hal tersebut.

'Menggoyang' Lawan-Lawan Tangguh

Selain permainan menghibur dan fleksibiltas Gasperini, kunci sukses Atalanta finis di peringkat tiga Serie A adalah performa mereka ketika berhadapan dengan tim-tim papan atas.

Sempat takluk di kandang Napoli di paruh pertama, Duvan Zapata dan kawan-kawan bangkit pada pertemuan kedua. Tak tanggung-tanggung, mereka membungkam Napoli dalam sebuah laga tandang dengan skor 1-2.

Melawan Inter, rival terdekatnya dalam perburuan tiket ke Eropa, performa menjanjikan juga ditunjukkan La Dea. Atalanta menang telak 4-1 di kandang, kemudian menahan imbang lawan 0-0 di San Siro.

Juventus tak ketinggalan ikut jadi korban. Sempat menang 3-0 di Coppa Italia, Atalanta memang gagal menundukkan Si Nyonya Tua di liga. Dua kali bersua Juve, dua kali pula Atalanta cuma bermain imbang (1-1 dan 2-2). Namun, pengamat sepakbola Sam Wilson menilai hasil imbang tersebut murni 'keberuntungan' Juventus dan 'faktor Ronaldo'.

"Atalanta telah dua kali bertemu Juve [di Serie A] dan kedua pertandingan membuktikan kalau gaya Gasperini jauh lebih baik ketimbang Allegri [pelatih Juve saat itu]. Hanya faktor Ronaldo yang sempat membantu mereka bisa menahan imbang Atalanta di kedua pertemuan," tulisnya dalam sebuah artikel di Football-Italia.

Atalanta pada akhirnya finis di peringkat tiga, namun poin mereka hanya berjarak tipis dari para pesaingnya. La Dea juga cuma unggul selisih gol dari Inter (peringkat empat), satu angka atas AC Milan (peringkat lima), serta tiga poin dari AS Roma (urutan enam).

"Tanpa hasil-hasil krusial tersebut, posisi Atalanta jelas tak akan sebagus sekarang," imbuh Wilson.

Baca juga artikel terkait LIGA ITALIA atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mufti Sholih