Fitur Snippet Google Masih Misterius Bagi Praktisi SEO

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Fitur snippet Google masih misterius bagi para praktisi SEO. Bagaimana cara agar artikel muncul di snippet atau posisi zero?
tirto.id - Fitur snippet atau posisi zero dalam hasil pencarian Google masih "misterius" bagi para praktisi search engine optimization (SEO). Alasannya, sejauh ini belum ada teknik SEO yang jitu agar konten muncul di snippet atau posisi zero.

Menghadapi masalah itu, Founder & CEO Doxadigital, Viktor Iwan mengatakan, pemilik website tak perlu khawatir bila konten mereka tak muncul di snippet atau posisi zero hasil pencarian Google. Ia menyebutkan fitur snippet itu merupakan cara Google untuk menjawab pertanyaan (query) yang diajukan oleh pengguna.

Menurut Victor saat ini situs apa yang akan diletakan di posisi nol oleh Google itu masih sulit diprediksi. Karena itu, salah satu cara agar muncul sebagai snippet, ia menyarankan pemilik situs untuk mengembangkan kualitas konten. Dengan demikian peluang muncul di posisi nol itu semakin besar.

"Gak usah khawatir untuk saat ini goal kita bikin content bisa jawab problem. Supaya websitenya bisa jawab pertanyaan dan masuk position zero," ucap Victor kepada reporter Tirto usai acara SEO Con di Balaikartini pada Kamis (14/3/2019).

Fitur Snippet Berdampak pada Klik

Tapi Senior Product Manager, Bukalapak, Bayu Adi Persada memiliki kekhawatiran terkait fitur snippet tersebut. Alasannya, saat ini pertanyaan (query) dalam mesin pencari lebih banyak menampilkan fitur Google Shop. Dari pengamatannya, fitur ini menempatkan informasi hasil olahan Google di laman teratas dalam pencarian.

"Saat ini lebih banyak query melayani Google Shopping. Query apapun pasti ada Google Shopping-nya," ucap Bayu dalam acara yang sama.

Namun persoalannya, saat Google memprioritaskan Google Shopping, konten-konten lain yang juga menjadi jawaban query itu menjadi mundur urutannya.

Misalnya ketika seseorang memasukkan kata kunci mengenai barang yang ingin dibeli, Google langsung mengarahkan hasil pencarian itu ke daftar barang dan harga tanpa harus memasuki laman tertentu.

Akibatnya situs yang juga menyediakan konten tak memperoleh klik maupun kunjungan. Belum lagi, situs yang dirujuk oleh Google seringkali adalah partner-nya ketimbang situs-situs yang juga dapat muncul secara alami dalam SEO. Dampak terbesar katanya akan dialami oleh kunjungan situs dalam versi mobile lantaran hasil pencarian Google seringkali menutupi hampir 1 halaman penuh.

"More n more searches resulting no click. zero trend click increasing," ucap Bayu, "Lebih dan lebih banyak pencarian tanpa klik. Tren klik nol meningkat."

Fenomena ini katanya juga turut menyasar sejumlah layanan pencarian lain, seperti informasi skor, jadwal, dan informasi pemain dalam suatu pertandingan. Hal serupa juga terjadi pada pencarian untuk memperoleh informasi tiket transportasi tertentu.

Fenomena ini disebut Bayu sebagai hadirnya ranking ke-0 lantaran hasil pencarian itu membabat urutan ranking yang sudah ada. Dengan kata lain, hasil rangking yang sudah diupayakan pemilik situs melalui SEO bisa jadi tidak berbuah hasil. Di sisi lain, ia melihat ada konsekuensi langsung yang juga dapat menimpa pembuat konten (content creator) karena hasil buatannya tidak dkunjungi pengguna.

"Ada yang kita ketik di Google Search tapi hasil sudah muncul tanpa ada harus kita klik website tertentu. Semua muncul sebagai hasil pencarian. Lebih parah hasilnya zero click pada mobile. 3 dari 5 search orang nggak klik di mobile," ucap Bayu.

Sementara itu, Product Manager Traveloka, Muhammad Ilman Akbar mengatakan situs perusahaannya memang sempat terdampak akibat fitur itu. Namun, saat ini efeknya sudah mulai dapat diatasi berhubung jangkauan situsnya tidak hanya bergantung pada SEO tetapi media sosial dan aplikasi.

"Kalau dari Traveloka itu keluar Google Flight atau Hotel keluar ada dampaknya. Tapi kami berupaya fokus ke aplikasi dan isi situsnya sendiri. Kan masih ada juga yang akses situs dan aplikasi Traveloka langsung," ucap Ilham.

Apa Jawaban Google?

Menanggapi hal itu, Webmaster Outreach Strategist, Google Asia Pacific, Aldrich Christopher mengatakan Google hanya bertugas memberikan respons yang paling berguna bagi pengunjung. Menurutnya, munculnya hasil itu lantaran dalam kata kunci yang dimasukan seseorang sangat menunjukkan keinginannya untuk membeli sehingga tidak heran bila Google merespon dengan hal itu.

"Orang mau cari itu ada intensinya misal untuk membeli jadi (Google) langsung kasi repsons yang paling berguna," ucap Aldrich.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Agung DH
DarkLight